Kisah Snouck di Mekkah dan Aceh

Sang Manipulator

Kisah Snouck di Mekkah dan Aceh
Prof Snouck Hurgronje

Kisah Snouck di Mekkah dan Aceh

Sang Manipulator

Akhirnya, pada 16 Januari 1885, Snouck Hurgronje, putra pendeta dari Breda dan PhD dari Universitas Leiden yang suka bertualang dan bertekad keras mengetahui 'rahasia' dunia Islam itu, resmi beralih jati-diri. "Christiaan Snouck-Hurgronje," tulis Philip Droge dalam bukunya 'Pelgrim' (2017)," tak ada lagi". Yang ada adalah 'Abd al-Ghaffar al-Laydini' (De Dienaar van de Alles Vergevende uit Leiden) yang kalau diIndonesiakan menjadi 'Abdi Sang Maha Pengasih & Penyayang dari Leiden'. (h. 69)

Pada tanggal itu Snouck telah disunat, sudah menyatakan Kalimat Syahadat di muka Sang Kadi, Hakim pada pengadilan Syari'ah di sana, Kadi Isma'il Agha. Tiga kali dia ucapkan kalimat itu meskipun sesungguhnya dia cukup menyatakannya dalam hati saja sebab "Tuhan Allah mendengar segalanya".

Tapi Snouck melafalkannya dengan keras di hadapan dua saksi untuk meyakinkan mereka. Apalagi di Jeddah, di bawah kuasa Ottoman (Usmaniyah) kala itu, Snouck yakin bukanlah cerita sepele bagi seorang berkulit-putih dari Eropa berada di tengah dunia Arab, apalagi menjadi seorang muslim dan menetap di Mekkah.

Seminggu sebelumnya, Snouck, dengan susah payah memotret Marsekal Othman Nuri Pasja lengkap dengan pakaian kebesarannya selaku penguasa Ottoman di Jeddah. Kemudian dia mendekati Kadi Isma'il Agha. Dengan kefasihannya berbahasa Turki dalam menyampaikan niatnya menjadi muslim, semua berjalan lancar. Bahkan sang Marsekal tadi bukan curiga, melainkan bangga ada seorang Barat menjadi mualaf dan berniat masuk Mekkah. Marsekal itu segera menjamin perjalanan Snouck lancar dan siap membantu manakala ada kesulitan. Berkat semua itu, Snouck menembus gerbang kota suci Mekkah dengan mulus.

Pendekatan Snouck, seperti dinarasikan buku ini, mempesonakan. Tidak hanya di Jeddah dan Mekkah. Setiap kali dia menjajaki orang-orang sekelilingnya, meluaskan jejaringnya, dia mengidentifikasi tokoh-tokoh kunci yang perlu diketahui dan didekatinya.

Masih seminggu sebelum menjadi muslim, celana dalam Snouck melorot sampai kaki dan darah menetes di lantai dari selaput penisnya yg diiris tukang cukur di Jeddah. Jauh sebelum sunatan ini, Snouck sudah ingin ke Mekkah - terutama ingin tahu seperti apa pelgrimage (ibadah Haji) itu.

Nah peluang emas tiba saat laporan koran Java Bode di Hindia Belanda mengutip tulisan Snouck. Johan Kruyt, seorang pejabat Konsulat Belanda di Jeddah sontak antusias. Selama ini Kruyt menganggap Belanda salah paham tentang Islam. Kini, berkat Kruyt, pemerintah Belanda di Den Haag mulai resah akan pergolakan Islam di negeri jajahan. Meletusnya Gunung Krakatau dikhawatirkan menjadi pratanda bagi kaum muslim akan sinyal Tuhan. Tak salah lagi, pikir Kruyt, Snouck-lah orang yang dicarinya untuk membaca sikon. Snouck kontan ditawari tugas melaporkan situasi dan memberi saran saran politik. Singkat cerita, Snouck sepakat, dan dengan tunjangan tidak kecil, berangkatlah dia dengan menumpang kapal Prins Hendrik menuju Jeddah.

Buku 'Pelgrim' (2017) ini menyajikan kisah mahasiswa-kemudian-dosen Bahasa dan Sastra Arab Christiaan Snouck Hurgronje menjadi petualang yang berkelana ke Mekkah dan Hindia Belanda hingga dia menjadi ilmuwan masyhur.

Snouck tidak sekadar ke Mekkah, dia ingin menetap di sana. Di kapal dia amati penumpang dari pelosok dunia dan dia dekati beberapa asal Afrika dan Arab yang diduganya mengenal dunia Mekkah. Di Jeddah dia dijemput Konsul Johan Kruyt. Satu lagi tokoh kunci ditemuinya juga di Konsulat tsb: Pieter van der Chijs, pengusaha yang selain kaya juga banyak berurusan dengan para jema'ah Haji dari Asia. Kemudian ada Raden Abu Bakar Jayadiningrat (ini ejaan penulis buku yang jelas keliru), warga Sunda yang menetap di Mekkah. Di sanalah Snouck menumpang seminggu sebelum mempunyai tempat tinggal sendiri.

Walhasil, dengan menyandang misi pemerintah Belanda dan melalui rantai personal dan formal, dari Johan Kruyt, Pieter van der Chijs, Marsekal Nuri Pasja, Kadi Isma'il Agha dan Raden Abu Bakar, tibalah Snouck pada titik saat dia mulai menjalankan tugas pemerintah sebagai spion (mata-mata), sekaligus menyerap pengetahuan mendalam tentang dunia Islam dan ibadah Haji baginya sendiri.

Kelak dia akan sering berperjalanan hilir mudik dari Mekkah ke Hindia Belanda dan dari Kuta Radja di Aceh ke Batavia. Di Aceh pun dia bekerja dengan cara menemukan dunianya dengan mengenal kondisi dan tokoh-tokoh kuncinya. Seperti mengenal kelompok perlawanan Teungku Chik di Tiro untuk kemudian memanfaatkan pengetahuannya untuk mematahkan perlawanan Teungku Umar.

Membaca perjalanan dan sepak terjang Snouck Hurgronje tak perlu dengan kacamata Nicollo Machiavelli. Kisahnya seperti narasi dan idiom politik yang dilacak dan dianalisis dengan jeli oleh Freddy Bailey dalam karya antropologis 'Stratagems and Spoils' akhir tahun 1970-an tentang politisi Inggris. Dari situ Snouck Hurgronje dapat dibaca sebagai manipulator ulung - bukan dalam pengertian moral belaka, tapi dalam pengertian rasional, instrumental juga.

[Artikel ini diringkaskan oleh wartawan senior Aboeprijadi Santoso dari buku  Pelgrim (2017) karya Philip Droge]