Kisah Tersembunyi Penjaga Putri Pukes

Kisah Tersembunyi Penjaga Putri Pukes
Abdullah (52) Penjaga Wisata Putri Pukes Takengon Aceh Tengah

Kisah Tersembunyi Penjaga Putri Pukes

Objek wisata Putri Pukes dataran tinggi Gayo bukanlah hal yang baru untuk dibicarakan. Legenda sepasang pengantin yang melanggar amanah orang tua hingga berubah menjadi batu itu bahkan sudah melalang buana hingga keluar Aceh. Saban harinya tujuan wisata yang terletak di Desa Mendale Kecamatan Kebayakan Aceh Tengah ini selalu ramai dikunjungi wisatawan domestik dan mancanegara.

Abdullah (52) atau kerab dipanggil masyarakat ditempat dengan Dolah adalah sosok yang tidak pernah lepas dari wisata Putri Pukes. Setiap harinya ia bertugas menjaga tempat itu sembari senantiasa menyapa pengunjung dengan ramah dan menjawab setiap pertanyaan terkait situs sejarah kebanggaan masyarakat Tanoh Gayo itu.

Menurutnya, ia telah menjaga tempat wisata Putri Pukes sejak tahun 1991. Lokasi ini juga menjadi tanah warisan dari kakek dan dan ayahnya. Ketika itu, jalur menuju Putri Pukes harus ditempuh dengan menggunakan perahu, karena belum ada akses jalan menuju tempat wisata yang terletak di tepi danau Lut Tawar itu. Hingga pada tahun 1993 Abdullah mendapatkan surat izin resmi dari pemerintah untuk menjadikan tempat wisata Putri Pukes sebagai tempat wisata yang memiliki izin yang sah.

“Dulu pengunjung yang datang ke sini tidak sebanyak sekarang, apalagi fasilitas jalan juga belum ada, sehingga kita harus menyeberang danau kalau mau lihat batu Putri Pukes,” katanya dengan senyum.

Namun kini lokasi Putri Pukes berada tepat di jalan lintas Takengon - Blang Kejeren dan sudah diaspal serta mengalami pelebaran oleh Pemerintah. “Kalau sekarang orang dari Gayo Lues, Lhokseumawe dan daerah lain bisa lebih mudah dan cepat ke sini,” tambahnya.

Bagi Abdullah, banyak suka cita yang telah dirasakan selama menjaga objek wisata itu. Salah satunya ketika listrik belum ada, para pengujung yang datang pun harus menggunakan obor untuk memasuki goa dan menjelajah setiap sudut sejarah pengantin yang membatu itu.

“Dulu di dalam goa kita terpaksa pakai obor untuk masuk, tapi sekarang ngak lagi. karena setiap sudut goa sudah diterangi cahaya listrik,” kata ayah empat putra itu.

Selian itu, saat ini objek wisata Putri Pukes juga telah mendapat bantuan berupa pengeras suara dan alat pemotong rumput. Namun, ia tetap harus membayar pajak pertahunnya sebesar Rp 2.000.000. Sementara tarif masuk yang diambil oleh Abdullah hanya Rp 5.000/orang.

Kini Abdullah hanya menggantungkan nafkah hidup keluarganya dari tempat wisata tersebut dan sewa kerawang gayo milik sang istri. Bukannya tak ingin berkebun atau bekerja di tempat yang lainnya. Melainkan Abdullah memiliki penyakit yang mengharuskannya tidak bisa bekerja keras dan bergerak terlalu banyak. Sementara istrinya membantu perekonomian suami dengan menjahit kerawang gayo yang merupakan pakaian adat masyarakat dataran tinggi tanah Gayo.

“Sebenarnya kalau hanya dari sini belum sepenuhnya mencukupi kebutuhan keluarga, namun bagaimana lagi kondisi fisik saya tidak memungkinkan untuk bekerja keras,” pungkas Abdullah.*** (Hidayani)