Klasifikasi Guru Ideal Menurut Islam

proses pembelajaran untuk memanusiakan manusia yang akan mengisi pembangunan dalam berbagai sektor

Klasifikasi Guru Ideal Menurut Islam

Klasifikasi Guru Ideal Menurut Islam

proses pembelajaran untuk memanusiakan manusia yang akan mengisi pembangunan dalam berbagai sektor

GURU sangat berperan dalam pelaksanaan dan proses pembelajaran di sekolah guna memajukan mutu serta  peningkatan kualitas dari satuan pendidikan. Dapat juga dikatakan bahwa guru adalah orang yang mentransfer (menuangkan) ilmu pengetahuan (tranfer of knowledge) kepada peserta didik. Guru juga dimaknai sebagai orang yang melaksanakan proses pendidikan pada tempat-tempat tertentu, tidak hanya di sekolah formal, melainkan juga ditempat pendidikan non formal seperti masjid, musholla dan di rumah-rumah maupun pasantren. 

Ahmad Tafsir memberikan penjelasan tentang guru sebagai pendidik dalam Islam adalah siapa saja yang bertanggung jawab terhadap perkembangan peserta didiknya. Mereka harus dapat mengupayakan dan mengembangkan seluruh potensi peserta didik, baik kognitif, afektif, maupun psikomotor secara optimal berdasarkan nilai-nilai ajaran Islam.

Jika dicermati lebih dalam penjelasan Ahmad Tafsir tersebut, menekankan kepada upaya pengembangan fitrah (potensi) peserta didik secara optimal. Sehingga out put pendidikan akan menjadi manusia yang manusiawi. Dapat dikatakan proses pembelajaran untuk memanusiakan manusia yang akan mengisi pembangunan dalam berbagai sektor.

Mengingat pentingnya peran guru dalam mengembangkan potensi peserta didik, tentu guru harus benar-benar profesional dalam menjalankan tugas. Hasil observasi yang dilakukan secara non participation observer di Bener Meriah menunjukan, fenomena yang terjadi di sekolah dari jenjang pendidikan Taman Kanak-kanak (TK) sampai pada tingkatan Sekolah Menengah Atas (SMA), baik di bawah naungan Kementerian Agama (Kemenag) maupun Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud), dari yang berstatus negeri maupun swasta, baik yang telah sertifikasi maupun guru biasa, belum seluruhnya dapat menerapkan 6 klasifikasi guru berdasarkan pandangan Islam, yaitu: Mudarris, Mu'alim, Muaddib, Murabbi, Mursyid dan Muzakki.

1.Mudarris, yaitu guru yang hanya menyampaikan materi pelajaran, dengan melihat perkembangan dan kemajuan potensi peserta didik, mengajarkan suatu ilmu kepada peserta didik dengan metode-metode tertentu dan membangkitkan usaha peserta didik agar sadar dalam upaya meningkatkan potensinya.

2.Mu’allim, adalah guru yang melaksanakan tugas pembelajaran selain memberi materi dia juga berusaha menjadikan peserta didik dari tidak tahu menjadi tahu atau disebut transfer of knowledge (memindahkan pengetahuan)

Secara sederhana dapat dipahami bahwa mu'alim adalah guru yang mampu merekonstruksi struktur ilmu pengetahuan secara sistematis ke dalam pemikiran peserta didik melaui bentuk ide, wawasan, kecakapan, terkait dengan hakekat dari suatu ilmu pengetahuan. Karena itu mu’allim merupakan guru yang memiliki kemampuan lebih dibandingkan dengan peserta didik, sebab mu'alim dengan kelebihanya dapat percaya mengantarkan peserta didik ke arah kesempurnaan dan kemandirian.

3.Muaddib adalah selain memberi materi pelajaran, guru juga mengajarkan adab (etika dan moral), sehingga peserta didik disamping mengetahui (know) juga memiliki adab atau mulia (syarif). Dalam proses pembelajaran muaddib lebih menekankan pendidikan akhlak pada materi pelajaran atau pendidikan karakter mulia bagi peserta didik.

Mengingat setresing mu'addib dalam pembelajaran lebih menekankan pada akhlak, maka tugasnya adalah melatih, mendisiplinkan, serta memperbaiki peserta didik untuk berprilaku yang baik dan sopan santun. Selain itu menciptakan suasana belajar yang dapat menggerakkan peserta didik untuk berprilaku atau beradab sesuai dengan norma-norma, tata susila, dan sopan santun yang berlaku dalam Islam dan masyarakat

4.Murabbi, guru yang memberi materi pelajaran dan juga mendidik peserta didiknya berdasarkan ilmu dan akhlak, sehingga peserta didik menjadi berilmu, berakhlak, dan berdaya guna serta miliki karakter. Guru dalam kategori murabbi ini selalu berorientasi untuk memperbaiki kualitas kepribadian peserta didik dalam proses pembelajaran terus-menerus sampai berhasil. Kendati dalam prosesnya mengalami hambatan dan tantangan, guru dengan predikat murabbi terus berupaya maksimal menjadikan peserta didiknya berilmu, berangkal dan berkarakter. 

5.Mursyid, adalah guru yang mendidik dalam lingkup sekolah, lebih tepatnya adalah pemimpin atau kepala sekolah. Karena itu mursyid dalam membimbing agar lebih mampu menggunakan akal fikirannya secara tepat dan rasional, sehingga mencapai keinsyafan dan kesadaran tentang hakekat sesuatu atau mencapai kedewasaaan berfikir bagi seluruh komponen sekolah

Mengingat mursyid sebagai guru yang berkedudukan sebagai pemimpin, baik kepala sekolah atau jenjang di atasnya, memiliki tugas utama memberi petunjuk dan pengarahan, bagi peserta didik secara langsung maupun dengan pendelegasian kepada guru agar memperoleh jalan yang lurus, melalui kebijakan-kebijakan yang dibuat dalam pelaksanaan pendidikan, sehingga tercapainya tujuan pendidikan sebagaimana diharapkan.

6.Muzakki (menyucikan) merupakan guru yang mampu membersihkan, mensucikan dan bertanggung jawab untuk memelihara, membimbing, dan mengembangkan kefitrahan peserta didik, sehingga selalu berada dalam kondisi bersih dan suci dari perbuatan tercela atau tidak melakukan perbuatan-perbuatan tercela yang melanggar syari'at.

Berdasarkan uraian di atas, seorang guru diharapkan mampu memerankan keenam klasifikasi tersebut, dalam arti guru hendaknya harus mengilmiahkan yang alamiah dan mengalamiahkan yg ilmiah, karena itu mari terus berupaya untuk melakukan dan menerapkan ke enam klasifikasi guru tersebut, agar pendidikan semakin berkualitas karena guru selalu terdepan dalam proses pembelajaran disekolah dalam rangka memparbaiki dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang akan memimpin dan mengisi pembangunan pada masa yang akan datang. []

Turham AG adalah Dosen STAIN Gajah Putih Takengon