Kompensasi Emisi Melalui Penanaman Pohon

“Jika setiap orang punya kesadaran untuk mengelola atau melakukan kompensasi atas emisi yang dihasilkannya, maka kita harapkan suatu saat nanti dampak dari perubahan iklim tidak terlalu membawa dampak negatif kepada masyarakat”

Kompensasi Emisi Melalui Penanaman Pohon

Kompensasi Emisi Melalui Penanaman Pohon

“Jika setiap orang punya kesadaran untuk mengelola atau melakukan kompensasi atas emisi yang dihasilkannya, maka kita harapkan suatu saat nanti dampak dari perubahan iklim tidak terlalu membawa dampak negatif kepada masyarakat”

Konsekuensi dari implementasi program atau pembangunan bahkan kegiatan rutin sehari-hari yaitu adanya emisi yang dihasilkan. Sebagai proyek yang fokus pada upaya-upaya mengatasi masalah perubahan iklim, _Support to Indonesia’s Climate Change Response-Technical Assistance Component_ (SICCR-TAC) selama ini telah mendukung mitra-mitranya, seperti dinas, badan dan kementerian, melalui program peningkatan kapasitas sumber daya manusia dalam merespon perubahan iklim. Namun, hal yang tak dapat dihindari dari program tersebut juga telah ikut menghasilkan emisi dari beberapa aktivitas yang dilakukan.

Misalnya perjalanan dengan menggunakan pesawat terbang dan kendaraan yang meninggalkan jejak karbon, penggunaan penyejuk ruangan (AC), listrik bagi kebutuhan kantor. Emisi karbon dioksida (CO2) dari berbagai aktivitas tersebut sebenarnya dapat dikompensasikan melalui tindakan konkrit. Untuk itu pihak SICCR-TAC dan mitranya, dalam hal ini bersama pemerintah Aceh melakukan penanaman pohon sebagai bentuk kompensasi emisi dan kampanye tentang gaya hidup hijau. 

Selain melakukan penanaman pohon yang bersamaan dengan Hari Eropa yang jatuh pada tanggal 9 Mei, kampanye perubahan iklim tersebut juga diikuti dengan penanaman nilai-nilai ekologis kepada bayi yang lahir pada tanggal 9 Mei 2018. Pihak SICCR-TAC juga akan mengujungi rumah sakit di Banda Aceh dan kemudian secara simbolis memberikan sertifikat kepada bayi yang lahir pada hari Rabu tersebut. Beberapa nama untuk mengingatkan tentang lingkungan akan direkomendasikan kepada orangtua bayi untuk menjadi bagian dari nama bayi. Diantaranya yaitu tectona grandis (kayu jati), akasia, albizia (kayu sengon), asoka dan  cemara/ casuarina.

Pada momentum Rabu (9/5/2018) pagi, pihak SICCR-TAC yang didukung oleh Uni Eropa bersama Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) dan Lembaga Wali Nanggroe mengadakan penanaman 64 pohon secara simbolis sebagai bentuk kompensasi dari emisi. Berdasarkan perhitungan yang dilakukan dengan menggunakan rumus carbon footprints, proyek ini diharapkan dapat memberikan kompensasi penanaman pohon sebanyak 6.710 batang. Jumlah tersebut berdasarkan emisi yang dihasilkan yaitu sebesar 147,615 metric ton CO2. Perhitungan tersebut mengalkulasi perjalanan tugas atau transportasi yang dilakukan dengan menggunakan jasa penerbangan sejak tahun 2016 hingga 2018 dengan total jarak tempuh 949.272 mil. 

Kesadaran manusia untuk melakukan kompensasi dari emisi yang dihasilkannya belum menjadi suatu praktik lazim di Indonesia. Hal ini disebabkan oleh belum adanya pemahaman yang baik dan kesadaran tentang seberapa besar emisi dan dampaknya bagi perubahan iklim dan lingkungan. 

Ir Sahrial, Kepala Dinas LHK Aceh memberikan apresiasi yang tinggi kepada aksi penanaman pohon sebagai wujud kompensasi emisi tersebut. Menurutnya, harus diakui emisi dari berbagai kegiatan manusia susah untuk dihilangkan. Tetapi kita masih bisa meningkatkan pemahaman dan kesadaran masyarakat bahwa ada cara lain yang dapat dilakukan untuk mengurangi dampak emisi tersebut. 

“Jika setiap orang punya kesadaran untuk mengelola atau melakukan kompensasi atas emisi yang dihasilkannya, maka kita harapkan suatu saat nanti dampak dari perubahan iklim tidak terlalu membawa dampak negatif kepada masyarakat” papar Ir Sahrial. 

Menurut Kepala DLHK, kegiatan penanaman pohon yang didasari oleh kesadaran akan pentingnya melestarikan lingkungan akibat kerusakan yang ditimbulkan manusia juga perlu terus ditanamkan dan dijaga. Disamping itu ia juga menghimbau kepada masyarakat untuk juga terlibat aktif dalam upaya-upaya kelestarian lingkungan

“Mari kita tanami lahan pekarangan sekitar atau lahan kosong dengan pepohonan, terutama dengan tanaman buah-buahan dan kayu-kayuan yang produktif” pungkasnya. 

Membenarkan apa yang disampaikan Kepala DLHK, Riko Wahyudi, Advisor Funding Mechanism SICCR-TAC, mengungkapkan bahwa salah satu cara yang paling memungkinkan dan paling mudah untuk kompensasi emisi yaitu dengan penanaman pohon. Tak lupa ia mengajak semua pihak, terutama mitra-mitra seperti dinas, lembaga, dan kementerian terkait serta lembaga-lembaga lain yang fokus pada kegiatan perubahan iklim untuk mulai mempertimbangkan emisi yang dihasilkan. 

“Kita perlu untuk mulai memikirkan jejak karbon atas kegiatan yang telah kita hasilkan selama ini dan kemudian dilakukan upaya kompensasi atas kegiatan-kegiatan tersebut” ujarnya. 

Jejak karbon (carbon footprints) merupakan emisi karbon dioksida (CO2) yang dihasilkan dari beragam aktivitas kita sehari-hari. Misalnya saat berkendara, sampah plastik yang dihasilkan, energi listrik yang digunakan hingga makanan yang kita konsumsi setiap hari. Akibat yang dihasilkan dari emisi tersebut dapat meningkatkan konsentrasi gas rumah kaca (GRK) yang kemudian mampu mengikat panas matahari. Dampak yang dapat dirasakan yaitu suhu di permukaan bumi semakin meningkat atau sering dikenal dengan istilah pemanasan global. Untuk itu, salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi karbon yaitu dengan memeliharan tanaman atau pohon, karena tumbuhan ini mampu mengolah CO2 menjadi oksigen (O2) melalui proses fotosintesis. []