Konflik Gajah di Aceh Semakin Parah

Parah Banget, Almost Nodays Without Elephant Conflict, sebut Sapto

Konflik Gajah di Aceh Semakin Parah
Gajah sumatera ini mati akibat tersengat listrik arus tinggi di Desa Seumanah Jaya, Kecamatan Ranto Peureulak, Kabupaten Aceh Timur, Aceh. Foto: Junaidi Hanafiah/Mongabay Indonesia

Konflik Gajah di Aceh Semakin Parah

Parah Banget, Almost Nodays Without Elephant Conflict, sebut Sapto

Banda Aceh - Konflik satwa liar khususnya gajah dengan masyarakat  di Aceh, hingga kini belum tuntas. Kepala BKSDA Aceh, Sapto Aji Prabowo mengatakan  kasus konflik gajah semakin parah terjadi di Aceh. Sejauh belum ada solusi untuk atasi persoalan tersebut.

“Parah Banget, Almost Nodays Without Elephant Conflict,” sebut Sapto, Jumat 27 Oktober 2017.

Meskipun berbagai upaya terus dilakukan untuk mengatasi masalah konflik antara manusia dan gajah liar yang selama ini masih terjadi dikawasan  hutan dan pemukiman peduduk.

BKSDA Aceh, menyatakan konflik yang sering terjadi di antaranya, kawasan Aceh Jaya, Aceh Barat, Aceh Tengah, Mener Meriah, Aceh Timur dan Pidie. Untuk sejumlah wilayah tersebut kerap kali masyarakat  didatangi kawanan gajah liar.

Sejauh ini, BKSDA Aceh terus melakukan langkah  untuk mengusir para kawanan Gajah liar yang masuk dalam permukiman warga. Hingga mereka mengaku telah kehabisan dana untuk menangani konflik gajah ini. Dengan angaran yang mereka dapatkan sebesar Rp 252.740.000.  

Namun apa daya,  karena konflik yang terjadi, disebabkan hutan Aceh terus digunduli, merambah hingga jalur gajah. Makanya  konflik terus terjadi dan tidak ada yang yang tahu kapan akan berakhir.

Disebutkannya, seminggu yang lalu, Tim BKSDA kembali turun ke empat titik, yakni Aceh Jaya, Aceh Barat, Aceh Tengah dan Mener Meniriah. Untuk menanagani konflik tersebut. Tim dari BKSDA turun  dalam kondisi tidak angaran dan mereka terpaksa mengunakan anagaran pribadi untuk tangani kasus tersebut.

“Dari Rabu tim tutun ke empat kabupaten, di Tambah hari ini di Aceh Timur, sebenanrnya angaran penanangan konflik gajah ini sudah habis, ini kami sudah gunakan uang pribadi untuk beli petasan dan logistik, bahkan kami juga mencari sumbangan dari sejumlah sumber untuk tercukupi kebutuhan kami,”sebutnya.

Dikatakannya,  tidak teratasi konflik gajah juga disebabkan karena tidak semua stakeholder bisa saling mendukung,  terutama pemerintah Aceh di tingkat Kabupaten hingga pihak swasta,  masih  belum serius dalam menangani ini.

Inilah dua individu gajah sumatera yang mati akibat tersengat aliran listrik tegangan tinggi yang sengaja dipasang masyarakat di Desa Seumanah Jaya, Kecamatan Ranto Peureulak, Kabupaten Aceh Timur, Aceh. Foto atas dan bawah: Junaidi Hanafiah/Mongabay Indonesia

 

“Kami sudah surati Gubernur Aceh, untuk duduk bersama, bahas ini,  namun hingga saat ini belum kesampaianya,” katanya sambil menunjukan surat yang telah mereka layangkan pada pemerintah Aceh.

Menurut dia, konflik yang terjadi adalah perebutan ruang lahan, sehingga gajah-gajah liar dari Hutan itu keluar hutan untuk mencari makanan pada areal tanaman yang dibudidayakan warga.

“Akibatnya kerugian ekonomi bagi warga, bahkan sering timbul korban di antara kedua belah pihak, ini kasus besar harus kita atasi bersama-sama, dan juga mencari solusi, tidak hanya BKSDA Aceh, tapi semuanya,” ujarnya.

Sementara itu, menurut data BKSDA Aceh pada tahun 2017 sudah terdapat  8 ekor gajah liar yang mati yang menjadi korban dalam konflik itu.

Selain korban gajah, perebutan ruang antara manusia dan gajah juga berdampak pada lahan perkebunan warga, seperti lahan jagung, padi, dan singkong yang mengalami kerusakan.[]