Kopi Arabika Gayo Masuk Urutan ke 6 di Pasar Kanada

Kopi Arabika Gayo Masuk Urutan ke 6 di Pasar Kanada
Project Manager Coffee Sector Coordinator TPSA, Said Fauzan Baabud (paling kiri) mempresentasikan peluang pasar kopi arabika di Kanada kepada peserta dari BAPPEDA Aceh dan Dinas di lingkungan provinsi Aceh, Selasa (13/9) di Aula BAPPEDA Aceh.

Kopi Arabika Gayo Masuk Urutan ke 6 di Pasar Kanada

Banda Aceh - Guna meningkatkan ekspor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dan Koperasi bidang industri Kopi Arabika, Trade and Prevate Sector Assistence (TPSA) bekerja sama dengan pemerintahan Indonesia melalui Kementrian Perdagangan telah mempromosikan produsen Kopi Arabika di pasar Kanada dan Amerika Utara.

Bertempat di Aula Lantai 2 Bappeda Aceh, Project Manager Coffee Sector Coordinator TPSA, Said Fauzan Baabud, Selasa 13 September 2017 mengatakan, peluang pasar Kanada perlu dilirik oleh Pemerintahan Indonesia sebagai salah satu tujuan ekspor kopi Arabika.

“Kanada sangat serius dengan impor kopi Arabika, dan mereka mencari kualitas kopi yang spesial seperti Arabika Gayo,” ucap Project Manager Coffee Sector Coordinator TPSA.

Sebagai negara importir yang berada di urutan ke 11 dunia, Kanada serius mengelola barang yang masuk ke negara mereka dengan membuat sebuah lembaga TFO Canada, untuk memastikan kualitas barang yang masuk dan mengetahui hulu dari barang yang mereka konsumsi.

“Warga Kanada melek informasi dan mereka agak rewel soal produk yang mereka konsumsi, termasuk kopi. Jadi, untuk memastikan produsen mereka memberikan yang terbaik, mereka akan cari informasi itu lewat internet,” jelas Said Fauzan Baabud.

Dalam presentasinya di depan peserta dari Dinas Pertanian, Perdagangan, dan Koperasi yang difasilitasi Bappeda Aceh, ia mengatakan bahwa TFO Canada terus mencari produsen kopi di dunia untuk bisamengekspor kopi berkualitas ke negara mereka.

Dari data yang disuguhkan TPSA, impor kopi Kanada saat ini, didominasi tiga pemain kopi dari Amerika Selatan, yaitu Colombia, Brazil, dan Guatemala yang menyumbang 65 persen. Sedangkan Indonesia dengan kopi Arabika Gayo-Sumatera berada di urutan ke 6 sebagai pengekspor kopi.

“Walaupun Kopi Arabika Gayo kita yang terkenal itu berada di urutan ke 6, tapi harganya 37 persen lebih tinggi dari pada harga kopi lainnya yang di ekspor ke Kanada,” jelasnya.

Melihat peluang tersebut, ungkap Project Manager Coffee Sector Coordinator TPSA itu, berdasarkan survey yang dilakukan, ada tiga indikator penting yang dapat menambah nilai kopi Arabika dari produsen kopi Arabika di Bener Meriah dan Aceh Tengah semakin tinggi di pasar Kanada.

Pertama, cerita di balik kopi Arabika milik petani yang ramah lingkungan misalnya, memiliki sertifikasi atau grading rasa dari cupper lebih dari 80, dan melihat praktek bisnis yang dilakukan selama ini oleh para produsen tersebut.

“Jadi, para peminum kopi di Kanada, sudah sampai pada tahap penikmat kopi yang harus tahu kopi seperti apa yang sedang mereka nikmati. Dari mana asalnya dan apakah kopi yang mereka minum itu ramah lingkungan,” jelas Said Fauzan sambil tersenyum. 

Ia berbagi kisah, saat para buyer dari Kanada mengunjungi kebun kopi petani di Bener Meriah dan Aceh Tengah, dan mendapati banyak sangkar burung di sekitar kebun kopi mereka, para buyer mengapresiasi dengan membayar lebih harga kopi yang mereka beli.

Kini, bersama 5 mitra utama produsen Kopi Arabika Gayo dari Bener Meriah dan Aceh Tengah, yang sudah mendapat pembinaan terkait pelatihan ekspor kopi ke pasar Kanada, teknik pertemuan pemasaran melalui pertemuan bisnis, hingga memfasilitasi para produsen kopi arabika tersebut untuk mengikuti pameran Kopi Internasional Spesialty Coffee Association di Seattle, USA pada April 2017 ia berharap, hal ini dapat meningkatkan kemakmuran petani kopi.

“Tantangan terbesar untuk ekspor kopi ini, tentunya perubahan iklim yang terjadi di dataran tinggi gayo. Kita berharap lewat edukasi yang terus diberikan kepada petani kopi, mereka tidak perlu mencari lahan baru tapi lebih kepada meningkatkan hasil produksi lewat lahan yang sudah ada,” harapnya.

Pada kesempatan yang sama, Kepala Bidang Perencanaan Pengembangan Ekonomi dan Ketenagakerjaan Bappeda Aceh, Marthunis mengatakan, perdagangan tidak terpisah antara hulu dan hilir. Artinya, lanjut Marthunis, konsep TPSA dengan mengedepankan pendekatan histori produk, bisa dipakai untuk mempromosikan produk non mineral lainnya dari Aceh untuk bisa di ekspor. 

“Harapan kita, semoga sosialisasi TPSA dengan metode dan konsepnya tentang kopi yang dishare kepada pemerintah Aceh, dapat mempengaruhi kebijakan pemerintah dan lebih memudahkan perdangaangan untuk meningkatkan kemakmuran masyarakat,” tutup Marthunis.[]