Langai

Jaroe bak langai, mata u pasai. Kata-kata itu, saya dapat dalam salah satu karya Ibrahim Hasan

Langai
Ilustrasi bajak sawah [Foto: susukan.online]

Jaroe bak langai, mata u pasai. Kata-kata itu, saya dapat dalam salah satu karya Ibrahim Hasan

SESEORANG itu harus menjangkau pandangannya jauh ke depan. Persiapan hidup, di dunia –apalagi untuk akhirat, harus dilakukan oleh manusia. Dengan demikian, seseorang harus berpikir dan mempersiapkan diri untuk menghadapi berbagai kemungkinan di masa depan itu. Sekali lagi, masa depan tidak selalu soal dunia, melainkan juga kehidupan setelah di dunia.

Ada satu pesan agama yang penting diingatkan bagi kita. Sebagai manusia, kita harus bekerja sepenuh hati, untuk kebutuhan dunia, seolah-olah seseorang akan hidup selamanya. Pada saat yang sama, ketika dalam posisi mempersiapkan masa depan setelah dunia, kita harus melakukannya dengan sepenuh hati juga, seolah-olah akan mati besok.

Ada pesan keseimbangan yang bisa ditangkap, bahwa kebutuhan dunia dan akhirat harus diseimbangkan oleh manusia. Keduanya berkorelasi, dan atas dasar itu, dua-duanya harus dipersiapkan.

Persiapan ini yang juga penting dilakukan generasi kini. Melakukan sesuatu dengan menjangkau jauh ke depan. Tidak berleha-leha, apalagi terlena dengan berbagai keadaan sekarang. Mereka yang hanya menghabiskan waktu di warung kopi, dengan tidak ada kepentingan yang jelas, pada akhirnya akan menuai hasil yang sepadan.

Apa yang dilakukan sekarang, menjangkau apa yang berkemungkinan terjadi di hadapan. Seseorang yang mempersiapkan diri dengan baik, untuk hal-hal yang baik, maka berpeluang ia akan mendapatkan hasilnya yang baik. Sebaliknya, hal yang buruk, kadangkala tanpa persiapan yang baik pun, hasilnya yang buruk akan didapatkan.

Pengalaman mereka yang menanam tanaman, menemukan kenyataan, bahwa menanam padi akan diiringi oleh berbagai gulma –makanya harus dipersiapkan agar padi tetap tumbuh dengan baik. Sebaliknya, saat menanam tumbuhan yang bisa tumbuh sendirinya, tidak akan diikuti oleh padi.

Pandangan jauh ke depan dalam hidup, dalam konteks hidup dan ekonomi, pernah disebutkan seorang penting di tempat kita. Jaroe bak langai, mata u pasai. Kata-kata itu, saya dapat dalam salah satu karya Ibrahim Hasan, Gubernur Aceh periode  1986-1993 yang pernah menjabat Menteri Negara Urusan Pangan/Kepala Badan Urusan Logistik periode 1993-1995. Ia juga pernah menjabat Rektor Universitas Syiah Kuala periode 1973-1982.

Ungkapan yang lahir karena memaknai betul kondisi pertanian kampungnya, Lampoh Weng, tempat ia dilahirkan 16 Maret 1935. Dari disertasinya, “Rice Marketing in Aceh, A Regional Analysis”,  yang dihasilkan dari Universitas Filipina tahun 1979, sebagai karya yang kemudian menabalkan gelar doktor pada namanya, menyebut ungkapan berjangkar tersebut. Penulisan yang sudah dimulai ketika kuliah master of business administration di Universitas Syracuse, New York tahun 1965.

Ibrahim Hasan tidak melepaskan dua kepentingan yang saling terkait. Sesuatu yang dihasilkan dari pertanian, selalu memiliki dua kepentingan yang sama-sama tidak boleh diabaikan. Memenuhi kebutuhan primer pangan keluarga di satu pihak, juga mendapatkan keuntungan dari sebagian penjualan dalam rangka mendukung kehidupan sebuah keluarga yang paripurna, di pihak lain. Jika sisi pertama membuat orang mapan di dalam rumah, maka sisi kedua membuat orang bisa berdaya ketika berhadapan dengan kondisi kehidupan yang luas di luar rumah.

Hal semacam ini yang harus dipikirkan oleh banyak orang. Bahkan dalam kehidupan yang lebih luas kita jalani pun, sesuatu yang dilakukan di dunia, harus selalu berpikir untuk kebutuhan masa depan, ketika nanti kehidupan yang fana ini berakhir. Banyak orang tidak berpikir, karenanya tidak mempersiapkan diri dengan baik.

Orang yang mempersiapkan diri dengan baik di dunia, akan mendapatkan dua keuntungan sekaligus: hidup di dunia tidak susah, hasil akhirat berkemungkinan diraih. Tidak semua orang mampu dan mau melakukan dua-duanya sekaligus.[]