LEPA Jasa Ekowisata Pulo Aceh

Waktu menunjukkan pukul 14.05 WIB. Lewat lima menit dari waktu keberangkatan boat ke Pulo Breuh. Dek belakang padat penumpang. Perempuan, laki-laki, tua, muda, anak-anak. Nyaris tak ada ruang kosong. Bagian depan terisi puluhan jerigen minyak. Ada juga belasan drum bertuliskan pertamina. Kiri kanan badan boat, bertengger beberapa sepeda motor berbagai merek. Milik penumpang yang akan berlabuh di dermaga Desa Gugop, Kecamatan Pulo Aceh.

LEPA Jasa Ekowisata Pulo Aceh
Foto: Desi Badrina

LEPA Jasa Ekowisata Pulo Aceh

Waktu menunjukkan pukul 14.05 WIB. Lewat lima menit dari waktu keberangkatan boat ke Pulo Breuh. Dek belakang padat penumpang. Perempuan, laki-laki, tua, muda, anak-anak. Nyaris tak ada ruang kosong. Bagian depan terisi puluhan jerigen minyak. Ada juga belasan drum bertuliskan pertamina. Kiri kanan badan boat, bertengger beberapa sepeda motor berbagai merek. Milik penumpang yang akan berlabuh di dermaga Desa Gugop, Kecamatan Pulo Aceh.

SORE itu, fiber berisi es balok diturunkan, di dermaga Seurapong. Tempat khusus para nelayan Pulo Breuh mendaratkan ikan, sebelum dibawa ke Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS) Lampulo. Letaknya berseberangan dengan dermaga Gugop.

Saat boat mendekat ke dermaga, seorang bapak paruh baya melompat ke atas kapal. Disusul seorang anak lelaki lebih tua di belakangnya. Mereka berdua membuka alas kapal bagian depan, yang ternyata tempat penyimpanan bahan belanjaan para penumpang. Bahan pokok seperti beras, tepung, telur, minyak goreng, berkotak-kotak mie instan, dan makanan kecil lainya ada di sana. Tak ketinggalan, tiga tandan pisang raja, dan beberapa jenis sayuran di dalamnya juga ikut diturunkan.  

“Tangkap kotak ini pak,” kata Faisal kepada patnernya, Usman. Faisal menempatkan diri di dalam bagasi boat itu, sedang Usman menyambut barang-barang yang diulurkan Faisal kepadanya.

Faisal dan Usman terlihat menikmati pekerjaan mereka. Berkali-kali mereka bergurau saat memberikan barang itu kepada yang lain. Faisal menggoda Usman yang lebih tua. Pasalnya, Usman sempat mengisap sebatang rokok pucuk saat menurunkan barang sore itu.

“Ayo pak tua, gerak cepat sedikit,” ejek Faisal dengan nada bercanda. Usman yang mendengar itu, seolah terlihat marah, dan membuang rokok pucuk yang tinggal dua centi lagi. Melihat umpannya ditangkap, Faisal tergelak.

Hampir kebanyakan, sembako yang diturunkan dari kapal itu, milik para pedagang dari Desa Seurapong dan Desa Gugop. Mereka hanya perlu menitipkan uang dan list barang yang mereka pesan, kepada pemilik kapal pada pukul 08.00 WIB. Tepat pukul 10.30 biasanya boat sudah mendarat di Lampulo, Banda Aceh. Lalu, becak motor langganan para pedangang sudah menunggu untuk mengambil titipan tersebut. Boat akan kembali ke pulau, pukul 14.00 WIB bersama barang belanjaan pedangan Pulo Breuh.

Usai menurunkan barang di dermaga Seurapong, boat kembali melaju ke seberang kuala. Yaitu dermaga Desa Gogup. Hampir semua tujuan penumpang adalah dermaga satu itu. Jika salah satu penumpang adalah pelancong, maka mereka tak akan menemukan papan informasi mengenai destinasi wisata, saat mereka tiba di sana.

Namun jangan khawatir, ada sekelompok masyarakat Gugop yang dapat membantu wisatawan untuk pergi mengunjungi lokasi wisata di Pulo Breuh. Mereka tergabung dalam kelompok masyarakat yang menamakan diri sebagai Lembaga Eko Wisata Pulo Aceh atau LEPA.

Baca Juga Pulo Aceh, Mimpi Destinasi Wisata Ramah Lingkungan

Sore, Kamis pertama di Januari itu, Muslim duduk di warung kopi tak jauh dari dermaga Gugop. Ia sedang menanti kedatangan Marzuki. Marzuki atau Miki, adalah pendamping konservasi penyu untuk LEPA. Hari itu, Miki berkunjung karena mendapat kabar bahwa telur penyu yang ditanam Nopember tahun lalu, sudah menetas. Mereka sepakat akan melepas bayi penyu itu ke laut esok sore.

LEPA dirintis akhir 2016. Hasil sosialisasi lingkungan Yayasan Lamjabat kepada masyarakat Pulo Breuh. Salah satu divisi LEPA fokus pada pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui promosi pariwisata Pulo Breuh. Konservasi penyu, direncanakan menjadi bagian dalam paket wisata tahun ini.

Baca Juga Edukasi Konservasi Penyu di Pulo Aceh

Tak ada hotel di Pulo Breuh. Begitu pula warung makan. Hanya ada beberapa kedai kopi di sana. Pagi hari, kedai kopi itu menyediakan ‘nasi kucing’ untuk sarapan. Kadang mereka menyediakan mie intans rebus bila pembeli minta dibuatkan. Transportasi umum pun tidak ada. Di pulau, kendaraan roda dua, hampir dimiliki setiap rumah.

Melalui jasa LEPA, para wisatawan tak perlu risau bila ingin berkunjung ke sana. Tim ini mampu mengakomodir para pelancong. Mulai dari penginapan, makan, transportasi darat, serta mengantarkan ke pantai-pantai nan indah dan eksotis. Selain itu, Pulo Breuh juga memiliki situs sejarah peninggalan Belanda tahun 1875. Mercusuar Willem’s Toren yang berada di Desa Meulingge. Desa terujung Pulo Breuh.      

“Kelompok kami, sudah membuat tujuh kali pelatihan guide untuk masyarakat gampong,”promosi lelaki 46 tahun itu.  

Di sana, mereka diajarkan bagaimana mempersiapkan rumah masyarakat yang tak terhuni menjadi homestay. Mengajak masyarakat untuk mau menerima pesanan konsumsi jika sedang berkunjung ke sana. Selain itu, masyarakat sudah diajarkan membuat olahan makanan dari laut sebagai oleh-oleh khas Pulo Breuh. Seperti kerupuk ikan, baso ikan, dan lainnya.

“Kalau oleh-oleh itu, masih belum lancar. Baru paket wisata yang sudah berjalan,” kata bapak dua anak itu.  

Sejak dua tahun terakhir, LEPA sudah meng-guide tamu hampir seribu orang. Mereka berasal dari dalam dan luar negeri. Tawaran paket wisatanya pun menarik. Ada snorkelingdiving, wisata sejarah, kesenian. LEPA juga menawarkan jasa pendampingan bagi peneliti.   

“Kelompok kami pernah mendampingi peneliti asal Australia dan Prancis,” terang Muslim.

Ketika ditanya, mengapa LEPA tak terlalu mengudara di Ibu Kota Provinsi? Ia mengatakan, mereka perlu menyiapkan sumber daya masyarakat di Pulo Breuh untuk mengelola sumber wisata alam yang hanya seluas 58,35 kilometer persegi itu.

“Kami tak ingin tercemar budaya luar. Itu sebabnya, butuh waktu untuk mempromosikan wisata Pulo Breuh ke luar. Takut tak mampu menggendalikan ledakan pengunjung,” kata Muslim.

Kini, Muslim dan sembilan orang teman satu timnya, sedang mempersiapkan 300 Tukik, untuk dilepaskan pada akhir Maret mendatang. Harapannya, rencana Festival Penyu Pulo Breuh 2018, akan dibuat dalam satu paket wisata dan menarik para wisatawan berkunjung ke sana.

“Objek wisata yang diatur langsung oleh masyarakat pulo ini semoga tetap ramah terhadap lingkungan,” tutup Muslim.

Jika anda belum menemukan guide khusus ke Pulo Breuh, maka anda dapat menggunakan jasa Lembaga Ekowisata satu ini. Dapat mengontak LEPA dinomor HP 0852 9793 6887. Selamat mengeksplor Pulo Breuh.[]