Masalah Pengembangan Kurma di Aceh 

Umar menanamnya dengan tangannya

Masalah Pengembangan Kurma di Aceh 

Masalah Pengembangan Kurma di Aceh 

Umar menanamnya dengan tangannya

Oleh Hilmy Bakar Almascaty [Presiden GreenWaqf Movement]

Masyarakat Aceh masih asing dengan budidaya kurma secara komersial.  Pertanyaan pertama yang muncul adalah "bisakah tumbuh dan berbuah kurma di Aceh?". Hal ini terjadi karena kurma adalah pohon yang biasanya tumbuh di Timur Tengah atau Afrika yang terkenal padang pasirnya. Jadi tidak mengherankan banyak kesangsian di tengah masyarakat terhadap keberhasilan budidaya kurma  yang mendatangkan nilai ekonomis. Karena selama ini ada  yang menanam kurma hanya untuk sekedar sebagai pohon hiasan saja. Mayoritas masyarakat ragu keberhasilan pengembangan komuditas baru ini sehingga kurang antusias mengembangkannya sebagaimana disampaikan Syukri yang telah mempelopori perkebunan kurma di Blang Bintang Aceh Besar.

Mengembangkan kurma sebagai komuditas baru perkebunan di Aceh memerlukan sosialisasi yang kontinue serta adanya proyek rintisan yang dapat dilihat langsung hasilnya oleh masyarakat. Diperlukan sebuah perkebunan percontohan yang akan menjadi inspirasi dan penggerak masyarakat dalam membudidayakan kurma secara komersial. Kepeloporan para penggerak

Koperasi Perkebunan Kurma Lembah Barbatee di Blang Bintang Aceh Besar yang  berani mengambil risiko besar dalam bisnis perkebunan kurma perlu diapreasiasi. Keseriusan mengimpor bibit kurma berkualitas dengan harga mahal dari Thailand, Inggris, Abu Dhabi maupun Mesir dan lainnya adalah bukti nyata pengorbanan material mereka yang besar terhadap pengembangan budidaya kurma.

Demikian pula kesungguhan pihak kampus perlu diacungkan jempol. Unsyiah, Universitas Teuku Umar, Umuslim, Unimal dan lainnya telah berupaya mendorong pengembangan budidaya kurma. Unsyiah misalnya telah menjalin kerjasama dengan IMT-GT yang didukung Malaysia dan Thailand serta Universitasnya untuk mengembangkan kurma di bawah SuperFruits Program yang akan dipusatkan di Aceh. Sebelumnya LPKA Umuslim Bireuen telah menjalin kerjasama dengan IPB dan Darul Falah Bogor untuk pengembangan penelitian kultur jaringan kurma. Juga menjalin kerjasama dengan Lembaga sejenis di Sudan, Saudi Arabia, Qatar, Oman dan lainnya untuk keberhasilan pengembangan varietas kurma unggal ala Aceh.

Tidak diragukan peranan pemerintah dan pihak swasta sangat diperlukan dengan melakukan sinergi dalam pengembangan kurma. Karena pada saat memulai mengembangkan tanaman baru, diperlukan biaya besar, sebagaimana dahulu ketika pemerintah mensosialisasikan pengembangan komuditas kelapa sawit. Apalagi tanaman yang akan dikembangkan bukan tanaman asli dan masih asing.

Menurut para peneliti bahwa keberhasilan budidaya komuditas baru kurma di Chiang Mai, Thailand karena melibatkan pihak pemerintah, perguruan tinggi, pengusaha pelopor dan dukungan koperasi perkebunan kurma. Hal ini sudah sepatutnya menjadi inspirasi dan referensi dalam mengembangkan perkebunan kurma di Aceh. Keyakinan dan kesungguhan para pakar pertanian serta dukungan pemerintah telah membuahkan hasil penelitian yang dapat diaplikasikan menjadi sebuah produk ekonomis yang mampu meningkatkan pendapatan masyarakat petani. Para pekebun kurma ataupun pengusaha pembibitan dari Thailand ataupun Malaysia telah memesan banyak bibit kurma berkualitas ke Koperasi Perkebunan Kurma di Chiang Mai. Sementara pihak Bank juga memberikan bantuan dana dalam mengembangkan komuditas baru ini.

Di antara strategi yang harus diambil dalam sosialisasi ini adalah, memeninta dukungan resmi pemerintah Aceh sampai tarap memberikan perizinan, kemudahan lokasi bahkan bantuan tekhnis dan peralatan serta fasilitas lainnya. Bila ada program pemerintah Aceh yang bersesuaian dengan proyek rintisan ini, seperti misalnya pembanguna komplek WISATA AGRO, maka diusulkan dan diyakinkan agar dikembangkan wisata agro yang bertemakan dengan kurma dan peradaban Aceh. Apalagi mengingat Aceh adalah wilayah penerapan syari’at Islam dengan gelaran Serambi Mekkah, maka proyek peradaban seumpama ini akan mendapat dukungan para pemimpin yang visioner.

 Setelah mendapat dukungan pemerintah, tentu lobi kepada pihak pengusaha swasta perlu dilakukan untuk meyakinkan mereka besarnya nilai ekonomis perkebunan kurma yang dikembangkan sebagai komuditas baru potensial yang akan mensejahterakan masyarakat. Para pengusaha visoner dan pelopor akan tertarik dengan gagasan-gagasan baru, apalagi yang akan mendatangkan keuntungan besar. Maka penyusunan sebuah pra studi kelayakan ataupun ringkasan keberhasilan pekebun kurma di Thailand perlu disampaikan sebagai referensi.

 Untuk mendukung kesuksesan proses sosialisasi di masyarakat luas, khususnya di Aceh, maka pihak Ulama dan Dayah (pesantren) serta tokoh masyarakat perlu dilibatkan dengan pendekatan keagamaan. Apalagi kurma adalah buah yang sangat disukai Nabi Muhammad, maka menanamnya sebagai manifestasi dari kecintaan kepada Nabi adalah bagian dari ibadah dan kecintaan kepada Allah. Mengembangkan dengan niat untuk memudahkan kaum muslimin menikmati buah kesukaan Nabi, tentu sebuah pahala.  

DIAWALI DENGAN PROSES PEMBIBITAN YANG BENAR

Budidaya tanaman kurma, mestilah dimulai dari proses pembibitan yang benar menurut standard baku yang telah dilakukan oleh para pakarnya. Proses pembibitan yang tidak memenuhi standard dan dilakukan secara tidak professional pasti akan menghasilkan perkebunan yang gagal. Dan kegagalan pada proses rintisan akan membuat trauma para calon pekebun kurma yang akan diharapkan mendukung program ini. Itulah sebabnya proses pembibitan yang telah dilakukan para pekebun kurma di Chiang Mai, Thailand perlu mendapat perhatian, karena mereka telah berhasil membuat metode dan system yang sesuai dengan alam Nusantara, yang tentunya berbeda dengan negeri asalnya di Timur Tengah.

Sebagai sebuah program rintisan, sebagaimana yang pernah dilakukan para pekebun kurma di Thailand maupun Malaysia, yang tidak memiliki pohon induk sebagai sumber sebagaimana di Timur Tengah, maka proses akan dimulai dengan penanaman pohon induk yang diambil dari Timur Tengah. Tentu akan memerlukan biaya yang sangat besar, karena harus membawa induk kurma yang berumur puluhan tahun dengan segala permasalahannya ke tempat pembibitan. Karena para pekebun kurma di Thailand sudah memiliki pohon induk yang sudah beradaptasi dengan cuaca lokal, maka untuk memulai sebagai pertimbangan efisiensi, bibit kurma dapat dibeli dari Thailand. Namun dalam hal ini, lebih direkomendasikan untuk membawa bibit yang dari KULTUR JARINGAN.

Pengalaman para petani kurma di Thailand yang kurang puas dengan model pengembangan pendahulunya, kini mereka beralih dengan mendatangkan bibit kultur jaringan dari DPD Inggris dan lainnya. Karena bibit dari sistem kultur jaringan menjamin kurma berbuah. Namun faktor harga bibit yang masih di atas 700.000 rupiah berbatang menjadi halangan bagi para petani kecil untuk menanamnya secara komersial. Di samping ada beberapa peneliti yang masih menyangsikan kelemahan dari sistem kultur jaringan ini yang menunjuk kepada pengalaman pengembangan kelapa sawit komersial belum menerapkan metode ini.

Bagi petani kecil bisa memulai budidaya kurma dengan biji. Proses pembibitan kurma tidak jauh berbeda dengan pohon lain seperti kelapa ataupun sawit. Proses pertama adalah dengan mendapatkan biji kurma yang terbaik dan terjamin keasliannya, sama halnya dengan proses pemilihan biji bibit kelapa sawit. Bila memungkitkan biji atau bibit kurma didapatkan dari lembaga atau badan yang memiliki sertifikasi sebagai pengembang kurma yang telah teruji pengalaman dan kredebilitasnya.  Pemilihan asal-asalan terhadap bibit kurma akan menimbulkan kerugian kepada para petani akibat tidak menghasilkan buah sebagaimana yang diharapkan.

Setelah mendapatkan biji kurma terbaik, maka  biji kurma yang sudah di cuci dilakukan proses treatment khusus selama 30 hari. Siapkan  polibag dengan ukuran 20/10x30 yang di dalamnya sudah ada media taman berupa tanah 40%, sekam 30% dan pupuk kandang 30%. Setelah itu, biji ditanam ke dalam polibag dengan kedalaman dua ruas jari. Lakukan penyiraman rutin pada pagi dan sore hari, dan juga letakkan pohon kurma muda di luar ruang agar terkena sinar matahari. Setelah itu pohon kurma akan tumbuh dan pada dua minggu setelah tanam akan keluar daun pertama.
Bila daun pertama sudah tumbuh lakukan pemberian pupuk secara rutin 2 minggu sekali dan lakukan pemangkasan daun secara teratur. Untuk jenis pupuk yang diberikan adalah pupuk organik dengan standar pupuk untuk tanaman kelapa sawit. Pada usia 3 bulan, bibit kurma sudah bisa dipasarkan karena pada usia tersebut bisa dibilang bibit kurma sudah tahan terhadap pengaruh dari luar.  


COBA MENYELESAIKAN TANTANGAN UTAMA

Sebagaimana diketahui pohon kurma berbeda dengan beberapa pohon sejenisnya. Jika pohon kelapa memiliki bunga putik betina dan jantan dalam satu pohon yang memudahkannya dalam proses penyerbukan, maka kurma memiliki satu jenis bunga putik, jadi ada pohon betina yang menghasilkan bunga betina dan ada juga pohon jantan yang menghasilkan bunga jantan. Di mana penyerbukannyapun memerlukan usaha manusia secara langsung sebagai mediasinya, karena bunga kurma yang khas tidak disenangi oleh serangga penyerbuk.

Jika jenis pohon semua jantan atau semua betina, maka dipastikan hanya akan berbunga saja dan tidak akan menjadi buah. Atau jika sudah ada pohon jantan dan betina, namun tidak mediasi proses penyerbukannya, maka kurmapun tidak akan berbuah. Ada kasus yang sangat jarang akibat penyimpangan genetika, tapi terjadi 1 : 1.000.000 kasus. 

Masalah terbesar dalam budidaya kurma adalah belum ada cara yang effisien dalam menentukan jenis tanaman betina dan jantan. Pohon betina bisa berbuah, membuatnya jauh lebih berharga daripada pohon jantannya, namun identifikasi dini terhadap pohon-pohon betina yang lebih berharga sulit, karena membutuhkan waktu sekitar 5-8 tahun pembibitan untuk menghasilkan buah yang berbeda.  Mekanisme untuk menentukan jenis kelamin dalam pohon kurma telah menjadi pertanyaan sentral selama ribuan tahun.

Penelitian baru ini membuktikan bahwa gender berada di bawah kontrol genetik melalui sistem X-Y yang mirip dengan manusia. "Sebuah cara sederhana dan dapat diandalkan untuk membedakan antara bibit jantan dan betina telah lama dicari, tidak hanya untuk keperluan pertanian, tetapi juga untuk mempromosikan studi dasar dari kurma," kata Prof. Joel Malek, seorang peneliti di Weill Cornell Medical College di Qatar (WCMC-Q). Dia  telah mengidentifikasi zona gen kurma yang dikaitkan dengan gender pohon tersebut, sehingga untuk pertama kalinya memungkinkan dengan cepat dan mudah mengidentifikasi pohon jantan dan betina. Penemuan ini memberikan sumbangan informasi yang penting untuk budidaya yang lebih efisien selain sebagai penelitian genetik kurma.

POTENSI ACEH UNTUK BUDIDAYA KURMA 

Sub sektor perkebunan yang merupakan penunjang perekonomian nasional menjadi semakin penting, mengingat makin terbatasnya peranan minyak bumi yang selama ini merupakan sumber devisa utama bagi Indonesia. Dalam tiga tahun terakhir ini sub sektor perkebunan telah menyumbangkan sekitar lebih 15 % dari perolehan devisa yang dihasilkan dari sektor non-migas. Keunggulan komparatif dari sub sektor perkebunan, termasuk di Provinsi Aceh, dibandingkan dengan sektor non-migas lainnya dipengaruhi antara lain oleh adanya lahan yang belum dimanfaatkan secara optimal dan berada di kawasan dengan iklim yang menunjang serta adanya tenaga kerja yang cukup. Namun pembangunan perkebunan yang dilaksanakan belum maksimal meningkatkan produktifitas yang membawa peningkatan kehidupan petani. Sehingga petani menjadi salah satu masyarakat golongan fakir miskin.

Sebagai salah satu daerah yang kaya dengan potensi sumber daya alam khususnya perkebunan, Pemerintah Aceh berkeinginan menyiapkan struktur perekonomian yang mantap dan mengarah pada daerah potensial bagi pengembangan insdustri di sub sektor perkebunan. Namun berbagai kendala masih dihadapi antara lain masih terbatasnya jumlah investasi akibat minimnya informasi daerah yang dapat dikembangkan. Kebijakan strategis untuk mengoptimalkan potensi daerah antara lain dengan melakukan perencanaan pengembangan lahan perkebunan seluas 200.000 ha lebih yang termarjinalkan dengan berbasis perkebunan untuk meningkatkan kesejahteraan.

Provinsi Aceh dikategorikan ke daerah beriklim basah (tipe C) dengan curah hujan relative sedang, yaitu rata-rata 1.183 – 2.248 mm pertahun. Bulan basah antara bulan September sampai dengan bulan Februari, sedangkan bulan kering berada pada bulan April sampai dengan bulan Agustus. Curah hujan tertinggi terjadi pada bulan Oktober, November, dan Desember dengan suhu rata-rata berkisar antara 28 – 32 drajat Celcius pada siang hari dan 21 – 24 drajat C pada malam hari, dengan kelembapan relative (RH) antara 75 %. Maka dengan tipe iklim C dan curah hujan rata-rata 1000-4000 mm pertahun, serta intensitas penyinaran matahari 7 – 8 perhari, sangat sesuai untuk ditanami komoditas perkebunan seperti seperti karet, kelapa, kelapa sawit, kakoa, kopi, pinang dan juga sesuai untuk komuditas baru seperti KURMA.

Walaupun kurma yang dihasilkan tidak sama dengan kurma Padang Pasir, namun kurma ruthab (kurma muda) bisa memiliki nilai ekonomis lebih tinggi. Jika para petani mengembangan kurma jenis Ajwa misalnya, maka akan didapat hasil ruthab Ajwa (kurma muda Ajwa) yang harganya tinggi dipasaran karena kegunaannya sebagai bahan utama kesehatan.

Pembangunan perkebunan KURMA ACEH sebagaimana yang telah berhasil dilaksanakan oleh para pekebun kurma di Chiang Mai Thailand, akan meningkatkan pendapatan masyarakat secara signifikan, baik dilaksanakan sebagai Perkebunan Rakyat atau Perkebunan Komersial. Untuk meningkatkan efisiensi pembangunan perkebunan KURMA ACEH diharapkan Pemerintah Aceh dapat menjadi katalisator maupun promotor yang akan menjadi penghubung aktif antara masyarakat dengan pihak pengusaha perkebunan.

PERKEBUNAN KURMA ACEH SEBAGAI SARANA PENCEGAH PEMANASAN GLOBAL

Pengembangan komuditas kurma di Aceh tidak semata-mata dimaksudkan untuk mendapatkan BUAH sebagaimana di Timur Tengah akibat faktor iklim dan kondisi tanah yang berbeda. Namun perbedaan ini justru dapat dijadikan keutamaan dalam pengengbangan kurma di Aceh. Karena pohon kurma juga dapat dijadikan sebagai sumber bahan baku gula sebagaimana pohon ijuk, nira, kelapa dan lainnya. Bahkan nilai ekonomis dari gula pohon kurma lebih tinggi karena dapat dijadikan sebagai bahan kesehatan dan perubatan modern.

Namun juga fungsi utama budidaya kurma di Aceh secara meluas dapat sebagai sarana pencegahan pemanasan global (global warming) yang memiliki nilai amal saleh. Sebuah hadits Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-, beliau bersabda,

إِذَا مَاتَ اْلإِنْسَانُ‏‎ ‎انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ‏‎ ‎مِنْ ثَلاَثَةٍ إِلاَّ مِنْ‏‎ ‎صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ‏‎ ‎يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ‏‎ ‎صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Jika seorang manusia meninggal dunia, maka terputuslah seluruh amalannya, kecuali dari tiga perkara: sedekah jariyah (yang mengalir pahalanya), ilmu yang dimanfaatkan, dan anak shaleh yang mendo’akan kebaikan baginya.” [HR. Muslim dalam Kitab Al-Washiyyah (4199)]

Menurut hadits di atas jelaslah satu di antara perkara
yang tak akan terputus amalannya bagi seorang manusia, walaupun ia telah meninggal dunia adalah SEDEKAH JARIYAH. Atau sedekah yang terus mengalir pahalanya bagi seseorang.

Para ahli ilmu menyebutkan bahwa sedekah jariyah memiliki banyak macam dan jalannya, seperti membantu fasilitas pendidikan, mendirikan sarana untuk dhuafa, membuat sumur umum, membangun masjid, membuat jalan atau jembatan, dan tentunya juga menanam tumbuhan baik berupa pohon, biji-bijian atau tanaman pangan, dan lainnya.

Termasuk amalan menghijaukan lingkungan dengan tanaman yang kita tanam merupakan sedekah dan amal jariyah bagi kita –walau telah meninggal- selama tanaman itu tumbuh atau berketurunan. Sebagaimana disebutkan Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- yang telah bersabda,

"Tak ada seorang muslim yang menanam pohon atau menanam tanaman, lalu burung memakannya atau manusia atau hewan, kecuali ia akan mendapatkan sedekah karenanya.” [HR. Al-Bukhoriy dalam Kitab AL-Muzaro’ah (2320), dan Muslim dalam Kitab Al-Musaqoh (3950)]

Al-Imam Ibnu Baththol -rahimahullah- berkata saat mengomentari hadits ini, “Ini menunjukkan bahwa sedekah untuk semua jenis hewan dan makhluk bernyawa di dalamnya terdapat pahala.” [Lihat Syarh Ibnu Baththol (11/473)]

Seorang muslim yang menanam tanaman tak akan pernah rugi di sisi Allah -Azza wa Jalla-, sebab tanaman tersebut akan dirasakan manfaatnya oleh manusia dan hewan, bahkan bumi yang kita tempati. Tanaman yang pernah kita tanam lalu diambil oleh siapa saja, baik dengan jalan yang halal, maupun jalan haram, maka kita sebagai penanam tetap mendapatkan pahala, sebab tanaman yang diambil tersebut berubah menjadi sedekah bagi kita.

Rasulullah bersabda,

"Tak ada seorang muslim yang menanam pohon, kecuali sesuatu yang dimakan dari tanaman itu akan menjadi sedekah baginya, dan yang dicuri akan menjadi sedekah. Apa saja yang dimakan oleh binatang buas darinya, maka sesuatu (yang dimakan) itu akan menjadi sedekah baginya. Apapun yang dimakan oleh burung darinya, maka hal itu akan menjadi sedekah baginya. Tak ada seorangpun yang mengurangi, kecuali itu akan menjadi sedekah baginya.” [HR. Muslim dalam Al-Musaqoh (3945)]

Al-Imam Abu Zakariyya Yahya Ibn Syarof An-Nawawiy -rahimahullah- berkata menjelaskan faedah-faedah dari hadits yang mulia ini, “Di dalam hadits-hadits ini terdapat keutamaan menanam pohon dan tanaman, bahwa pahala pelakunya akan terus berjalan (mengalir) selama pohon dan tanaman itu ada, serta sesuatu (bibit) yang lahir darinya sampai hari kiamat masih ada. Para ulama silang pendapat tentang pekerjaan yang paling baik dan paling afdhol. Ada yang berpendapat bahwa yang terbaik adalah perniagaan. Ada yang menyatakan bahwa yang terbaik adalah kerajinan tangan. Ada juga yang menyatakan bahwa yang terbaik adalah bercocok tanam. Inilah pendapat yang benar. Aku telah memaparkan penjelasannya di akhir bab Al-Ath’imah dari kitab Syarh Al-Muhadzdzab. Di dalam hadits-hadits ini terdapat keterangan bahwa pahala dan ganjaran di akhirat hanyalah khusus bagi kaum muslimin, dan bahwa seorang manusia akan diberi pahala atas sesuatu yang dicuri dari hartanya, atau dirusak oleh hewan, atau burung atau sejenisnya.” [Lihat Al-Minhaj (10/457) oleh An-Nawawiy, cet. Dar Al-Ma’rifah, 1420 H]

Al-Hafizh Abdur Rahman Ibnu Rajab Al-Baghdadiy -rahimahullah- berkata, “Lahiriah hadits-hadits ini seluruhnya menunjukkan bahwa perkara-perkara ini merupakan sedekah yang akan diberi ganjaran pahala bagi orang yang menanamnya, tanpa perlu maksud dan niat.” [Lihat Iqozh Al-Himam Al-Muntaqo min Jami’ Al-Ulum wa Al-Hikam (hal. 360) oleh Salim Al-Hilaliy, cet. Dar Ibn Al-Jauziy, 1419 H]

Penghijauan dari budidaya kurma ini merupakan amalan sholeh yang mengandung banyak manfaat bagi manusia di dunia dan untuk membantu kemaslahatan akhirat manusia. Pohon kurma  yang ditanam oleh seorang muslim memiliki banyak manfaat, seperti pohon itu bisa menjadi naungan bagi manusia dan hewan yang lewat, buah bisa dimakan, batangnya bisa dibuat menjadi berbagai macam peralatan, akarnya bisa mencegah terjadinya erosi dan banjir, daunnya bisa menyejukkan pandangan bagi orang melihatnya, dan pohon kurma juga bisa menjadi pelindung dari gangguan tiupan angin, membantu sanitasi lingkungan dalam mengurangi polusi udara. Masih banyak lagi manfaat  pohon kurma yang tidak sempat kita sebutkan.

Karena besar  manfaat dari penghijuan dari pohon kurma ini,  maka tak heran jika Islam memerintahkan umatnya untuk memanfaatkan tanah kosong serta menanaminya sebagaimana yang dijelaskan oleh Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- dalam haditsnya:

إِنْ قَامَتْ السَّاعَةُ وَبِيَدِ‏‎ ‎أَحَدِكُمْ فَسِيلَةٌ فَإِنْ‏‎ ‎اسْتَطَاعَ أَنْ لَا يَقُومَ حَتَّى‎ ‎يَغْرِسَهَا فَلْيَفْعَلْ

“Jika hari kiamat telah tegak, sedang di tangan seorang di antara kalian terdapat bibit pohon kurma; jika ia mampu untuk tidak berdiri sampai ia menanamnya, maka lakukanlah.” [HR. Ahmad dalam Al-Musnad (3/183, 184, dan 191), Ath-Thoyalisiy dalam Al-Musnad (2068), dan Al-Bukhoriy dalam Al-Adab Al-Mufrod (479). Hadits ini di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah (no. 9)]

Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albaniy -rahimahullah- berkata saat memetik faedah dari hadits-hadits di atas, “Tak ada sesuatu (yakni, dalil) yang paling kuat menunjukkan anjuran bercocok tanam sebagaimana dalam hadits-hadits yang mulia ini, terlebih lagi hadits yang terakhir di antaranya, karena di dalamnya terdapat targhib (dorongan) besar untuk menggunakan kesempatan terakhir dari kehidupan seseorang dalam rangka menanam sesuatu yang dimanfaatkan oleh manusia setelah ia (si penanam) meninggal dunia. Maka pahalanya terus mengalir, dan dituliskan sebagai pahala baginya sampai hari kiamat.” [Lihat Silsilah Al-Ahadits Ash-Shohihah (1/1/38)]

Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- tidak mungkin memerintahkan suatu perkara (menanam pohon kurma menjelang kiamat) kepada umatnya dalam kondisi yang genting dan sempit seperti itu, kecuali karena perkara itu amat penting, dan besar manfaatnya bagi seorang manusia. Dan ini juga bermakna bahwa pohon kurma adalah tanaman yang harus ditanam walaupun menjelang hari kiamat. Hadits ini juga dapat diartikan bahwa penghijauan yang paling bagus menjelang kiamat adalah menanam pohon kurma. Karena menurut para ahli emisi karbon dioksida akan sangat tinggi dengan cuaca panas yang sangat ekstrim menjelang tibanya hari kiamat. Pohon kurma adalah diantara pohon yang akan mampu bertahan sampai menjelang tibanya hari kiamat.

Seorang tabi’in yang bernama Umaroh bin Khuzaimah bin Tsabit Al-Anshoriy Al-Madaniy -rahimahullah- berkata,

“Aku pernah mendengarkan Umar bin Khoththob berkata kepada bapakku, “Apa yang menghalangi dirimu untuk menanami tanahmu?” Bapakku berkata kepada beliau, “Aku adalah orang yang sudah tua, akan mati besok.” Umar berkata kepadanya, “Aku mengharuskan engkau (menanamnya). Engkau harus menanamnya!” Sungguh aku melihat Umar bin Khatab menanamnya dengan tangannya bersama bapakku.” [HR. Ibnu Jarir)

Maka tidak diragukan budidaya kurma di Aceh secara massal kelak akan menjadi amal saleh bagi pelopornya. Bahkan penanaman pohon kurma dengan maksud komersial maupun penghijauan akan menjadi pencegah global warming menjelang tibanya hari kiamat. Bahkan budidaya kurma di Aceh dapat disebut sebagai rahmatan lil alamin dari negeri Serambi Mekkah.

..sebentar lagi bulan ramadhan.. bersedekahlah walau hanya dengan biji kurma yang kalian telah nikmati rasa dagingnya. Kumpulkan biji kurma tersebut dan semailah dan tanamlah sehingga menjadi amal saleh penghijauan alam buat kalian.

Wallahu a'lam..[Serambi Mekkah, 14 Ferbuari 2018]