Mencengah Kepunahan Rangkong Gading

Lebih dari 2.000 paruh rangkong gading yang diselundupkan ke Cina, Amerika, dan Malaysia berhasil disita selama tahun 2012 hingga 2016

Mencengah Kepunahan Rangkong Gading
Konsultasi Publik Nasional untuk menyusun Strategi dan Rencana Aksi Konservasi (SRAK) Rangkong Gading, Jakarta 23 November 2017

Mencengah Kepunahan Rangkong Gading

Lebih dari 2.000 paruh rangkong gading yang diselundupkan ke Cina, Amerika, dan Malaysia berhasil disita selama tahun 2012 hingga 2016

Jakarta - Suara khas burung Rangkong Gading mulai jarang terdengar dari hutan-hutan Sumatera dan Kalimantan. Kondisi ini berbeda dengan situasi puluhan tahun silam, di mana suara ini cukup lazim didengar saat pagi hari setelah matahari terbit di ufuk Timur.

Fenomena silent forestini dipicu oleh tingginya angka perburuan dan perdagangan rangkong gading, serta deforestasi hutan. Untuk itu Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLKH) pada menggelar Konsultasi Publik Nasional untuk menyusun Strategi dan Rencana Aksi Konservasi (SRAK) Rangkong Gading, Jakarta 23 November 2017.

Hal tersebut merupakan bagian dari tindak lanjut usulanCITES CoP17 untuk resolusi konservasi rangkong gading yang secara aklamasi diadopsi menjadi Resolusi Conf. 17.11 tentang konservasi dan perdagangan rangkong gading.

Dalam catatan Ditjen Penegakan Hukum Lingkungan Hidup dan Kehutanan KLHK, sebanyak 1.398 paruh rangkong gading berhasil disita di Indonesia. Sementara itu, lebih dari 2.000 paruh rangkong gading yang diselundupkan ke Cina, Amerika, dan Malaysia berhasil disita selama tahun 2012 hingga 2016. Angka-angka ini tercatat terus mengalami peningkatan selama kurun waktu tiga tahun terakhir.

Fakta ini tentunya tentunya sangat mengkhawatirkan bagi keberadaan dan keberlangsungan populasi rangkong gading di alam, yang secara khusus tersebar di Pulau Sumatra dan Pulau Kalimantan, karena burung ini tidak mudah dikembangbiakkan di penangkaran mengingat memiliki karakter yang khusus.

Rangkong gading membutuhkan waktu berbiak sekitar180 hari atau 6 bulan untuk menghasilkan satu anak. Masa reproduksi burung ini juga relatif lebih lama dibandingkan jenis rangkong lainnya di Asia.

Betina biasanya akan mengurung diri di dalam lubang sarang selama bertelur. Selama bersarang, bulu sang betina meluruh (moulting) yang nantinya akan berfungsi sebagai alas sekaligus menjaga kehangatan telur. Kondisi ini menjadikan sang betina tidak dapat terbang sampai sang anak siap keluar sarang, sehingga betina mengandalkan sang jantan untuk menghantarkan makanan.

Maka dari itu, dapat dikatakan dengan membunuh satu ekor jantan rangkong gading sama dengan membunuh satu keluarga rangkong gading di alam. Sehingga, jika rangkong gading terus menerus diburu di alam, tidak lama lagi burung ini akan menyandang status punah.  Sehingga membutuhkan adanya Strategi dan Rencana Aksi Konservasi (SRAK)

Dalam Penyusunan SRAK Rangkong Gading, KLHK selaku Otoritas Pengelola CITES, bekerja sama dengan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) selaku Otoritas Ilmiah CITES, Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Indonesia (UI), Burung Indonesia, Fauna dan Flora Internasional (FFI), Rangkong Indonesia, Yayasan WWF Indonesia, Wildlife Conservation Society – Indonesia Program (WCS-IP), dan Zoological Society of London (ZSL).

Untuk menyempurnakan rancangan SRAK Rangkong Gading, rangkaian konsultasi publik regional telah sukses diselenggarakan di Padang Sumatra Barat dan Pontianak Kalimantan Barat, yang diketahui sebagai titik rawan perdagangan ilegal rangkong gading di Indonesia.

Perlindungan rangkong gading dan satwa lainnya di Indonesia sudah darurat untuk dilaksanakan dan membutuhkan komitmen tidak hanya dari pihak pemerintah, melainkan juga pihak akademisi, mitra, dan sektor swasta. Proses penegakan hukum menjadi satu simpul utama yang perlu diperketat di tingkat nasional dan regional, mengingat sudah banyaknya kejadian kejahatan terhadap satwa di Indonesia dan belum memperoleh penanganan yang maksimal itu.[]