Mencium Wangi Baju Pasangan Bisa Mengurangi Stres

Perempuan yang sering mengendus harum pakaian pasangannya, memiliki tingkat stres yang rendah. Sementara, wangi orang asing membuat mereka merasa tertekan.

Mencium Wangi Baju Pasangan Bisa Mengurangi Stres
Ilustrasi

Mencium Wangi Baju Pasangan Bisa Mengurangi Stres

Perempuan yang sering mengendus harum pakaian pasangannya, memiliki tingkat stres yang rendah. Sementara, wangi orang asing membuat mereka merasa tertekan.

Menurut studi terbaru, wangi baju pasangan Anda bisa membantu mengembalikan semangat di hari-hari penuh tekanan.

Perempuan diketahui memiliki tingkat stres yang lebih rendah setelah mencium harum pasangannya. Sementara, di sisi lain, bau orang asing membuat mereka merasa tertekan.

Hubungan jarak jauh semakin marak saat ini. Namun, penemuan terbaru dari para peneliti di University of British Columbia ini mungkin bisa membantu seseorang menjadi rileks, meskipun sang pacar atau suami tidak berada di sampingnya.

“Dengan berkembangnya globalisasi, jumlah orang-orang yang bekerja di luar negeri semakin meningkat. Penelitian kami menunjukkan bahwa cara simpel seperti mencium wangi pakaian pasangan bisa membantu menurunkan tingkat stres, meskipun kita sedang jauh dengan mereka,” papar Frances Chen, peneliti senior.

Studi sebelumnya menunjukkan bahwa tikus memiliki hormon stres, kortisol, yang lebih rendah ketika berada di dekat tikus lain yang dianggap familiar. Ketika para peneliti menghilangkan aroma dari tikus-tikus tersebut, efek rileksnya juga lenyap.

Manusia pun begitu: bayi menjadi lebih tenang setelah menghirup wangi ibunya. Ia akan menangis jika mencium aroma orang asing.

Daya tarik pasangan

Penelitian terbaru yang dipublikasikan pada Journal of Personality and Social Psychology, menunjukkan bahwa aroma tubuh merupakan bagian dari daya tarik seseorang. Juga bisa memberikan sensasi rasa aman pada perempuan.

Para peneliti memilih melakukan studi ini kepada perempuan karena wangi laki-laki dianggap lebih kuat. Mereka juga menemukan fakta bahwa perempuan memiliki sel penciuman di otak 50% lebih banyak dibanding pria.

Para peneliti mengumpulkan 96 perempuan heteroseksual dan membaginya menjadi tiga kelompok. Kelompok pertama diminta untuk mencium harum baju yang belum terpakai. Kelompok dua dengan aroma pakaian orang asing. Sementara, kelompok ketiga diminta mengendus baju pasangannya yang telah dikenakan.

Setelah melakukan tugasnya, partisipan perempuan pun dihadapkan pada aktivitas yang membuat stres. Termasuk wawancara pekerjaan yang menyebalkan.

Untuk memastikan tingkat stresnya sama, para peneliti mengumpulkan perempuan yang sedang mengalami menstruasi.

Lebih tenang

Dari hasil penelitian tersebut diketahui bahwa perempuan yang ditugaskan untuk mengendus wangi pakaian pasangannya, lebih tenang saat melakukan wawancara. Kadar kortisol mereka juga kembali normal dengan cepat.

Artinya, partisipan di kelompok ketiga ini berhasil menangani stres dengan lebih baik setelah mencium aroma baju pasangannya.

“Ini mungkin bisa menjelaskan fenomena mengapa perempuan senang sekali mencium wangi sweater pacarnya,” kata Marlise Hofer, mahasiswa pascasarjana Psikologi Sosial dari University of British Columbia.

Satu-satunya masalah yang terjadi adalah, ada beberapa partisipan yang tidak jago menebak wangi pasangannya sendiri.

Dua pertiga partisipan mengaku tahu aroma pasangannya. Sementara sepertiga lainnya mengira mereka mencium wangi baju orang lain.

(Gita Laras Widyaningrum/Dailymail)