Merintis Koridor Satwa Melahirkan CRU Trumon

“Saya yakin, jika CRU Trumon tidak ada di sini, Kawasan Koridor Satwa yang luasnya 2.700 hektar akan dirambah manusia, sedangkan perkebunan warga akan porak-poranda dihajar  gajah liar"

Merintis Koridor Satwa Melahirkan CRU Trumon
Mahout Romaliadi bersama Siska (Induk Intan) dan anaknya Intan, yang sedang di tambat dalam CRU Trumon [Foto: Desi Badrina]

Merintis Koridor Satwa Melahirkan CRU Trumon

“Saya yakin, jika CRU Trumon tidak ada di sini, Kawasan Koridor Satwa yang luasnya 2.700 hektar akan dirambah manusia, sedangkan perkebunan warga akan porak-poranda dihajar  gajah liar"

Pagi baru menunjukkan pukul 08.30 WIB, ketika  Nanik, Tuah, Bayu, Siska dan Intan ditempatkan secara terpisah mencari pakan alami. Tuah berada tak jauh dari sungai, tempat biasa lima gajah itu mandi. Bayu, diletakkan sekitar dua ratus meter dari tempat Tuah makan. Sedangkan Nanik, berada tak jauh dari mereka. Yang paling berjarak, pagi itu adalah Siska dan Intan.

Ada empat mahout dan dua asisten mahout yang menangani empat gajah dewasa dan satu bayi gajah di CRU Trumon. Tiap gajah ditangani satu pawang. Sebagai Koordinator mahout, Fransisco Sirait atau biasa disapa Koko mendampingi pejantan Tuah.

Hendra Masrijal mendampingi pejantan Bayu, Wahidin menemani gajah betina, Nanik. Sedangkan Romaliadi berpatner dengan Siska, dan Intan. Dua asisten Mohout lainnya, yaitu Azwir dan Sarmudi turut serta membantu keempat mahout.

Hari itu, suasana di area CRU Trumon yang berada di Desa Naca, Kecamatan Trumon Tengoh, Aceh Selatan, Provinsi Aceh, terlihat lengang. Tak ada aktifitas lain, kecuali beberapa tukang yang sedang membuat bagunan baru, tak jauh dari kantin CRU.

Mendapat kabar bahwa CRU kedatangan tamu dari Yayasan Leuser Internasional (YLI), pagi itu dua mahout yang sedang berada di basecamp langsung mengabarkan kepada Azzuhri. Ia tuhapet Desa Naca. Baginya YLI bukan lagi tamu asing. Masyarakat dan YLI sudah bermitra sejak 1998.

Menggunakan sepeda motor tuanya, pria 42 tahun yang sedari rumah telah berpakaian dinas lengkap untuk berkebun itu menyempatkan diri singgah ke basecampCRU Trumon. Dengan topi dan parang yang tersemat di pinggangnya, ia memarkirkan kendaraan di teras kantin CRU.

CRU Trumon berada dalam kawasan Koridor Satwa seluas 2.700 hektar. Koridor ini berfungsi sebagai lintasan yang menyambungkan antara SM Rawa Singkil-Trumon di bawah, dengan Taman Nasional Gunung Leuser di Aceh Tenggara, sebagai hulunya.

Selama kurang lebih satu dekade, setelah pembebasan lahan pada 2002, Koridor Satwa tidak ada yang mengelola. Kawasan koridor yang ditinggal sejak suksesi pembebasan lahan, telah berkembang menjadi hutan muda.

Tahun 2011, ketika masyarakat berada dipuncak keresahan akibat gajah yang memakan tanaman perkebunan dan pertanian mereka, barulah pembuatan CRU untuk penanganan dan pengamanan gajah liar di Trumon dibentuk.

Kedatangan Azzuhri disambut Project Leader CRU Trumon YLI, Nizar Tarigan. Melihat teman lamanya duduk manis di kursi depan, Azzuhri tak kuasa melempar senyum, meski rokok masih terselip di bibirnya. Tak ketinggalan, Sekretaris Desa (Sekdes) Naca, Muhammad Nasir (44 tahun) juga tiba. Tepat ketika Azzuhri sudah duduk di kursi berhadapan dengan Nizar.   

Azzuhri (nomor dua dari kanan), Muhammad Nasir (tengah), mahout Hendra Masrizal (paling kiri), Romaliadi (paling kanan), dan Nizar Tarigan (nomor dua dari kiri) sedang mendengarkan kilas balik Azzuhri tentang CRU Trumon, pasca berakhirnya program YLI di CRU Trumon. [Foto Desi Badrina]

Kehadiran Mahout Hendra Masrizal dan Romaliadi menjadikan kini ada lima orang yang duduk bercerita tentang kondisi CRU setelah project dengan YLI berakhir pada awal 2017 sembari menikmati kopi Robusta, Aceh Selatan, yang terkenal enak rasanya dan diproduksi home industri.

Rekam jejak CRU Trumon pun dimulai dari Azzuhri, yang saat itu menjabat sebagai Kechik Desa Naca tahun 1999, tepat ketika Yayasan Leuser Internasional menangani project Pembebasan Lahan Koridor Satwa, Desa Naca dan Ie Jeurneh, Kecamatan Trumon.

Pondasi berdirinya CRU Trumon, secara tak langsung dirintis sejak 1998. Berdasarkan SK Bupati Aceh Selatan, Said Mudahar. Saat itu, hanya ia seorang yang tidak mengindahkan imbauan Menteri Kehutanan, Hasrul Harahap, agar Kabupaten Aceh Selatan berdiri HPH, yang bisa merusak lingkungan.

Pembebasan Koridor Satwa pada 1999 ternyata tidak berjalan mulus. Memasuki tahun 2000, konflik Aceh pecah. Pemerintah pusat memberlakukan Darurat Militer di Aceh. Salah satu kabupaten yang cukup rentan kontak senjata adalah Aceh Selatan, tak luput Kecamatan Trumon.

“Pahit betul kisah kami untuk pembebasan lahan koridor satwa ini selama masa konflik. Saya enam kali hilang dari peredaran. Diculik! Tak ada yang tahu posisi saya waktu itu. Ada yang diambil di jalan, ada juga yang di rumah,” kata Kecik Desa Naca tahun 1999- 2006 itu.

Ganti rugi pembebasan lahan kepada dua desa baru selesai pada 2014. Azzuhri mengatakan, butuh tempo 15 tahun untuk menyelesaikan hal itu, hngga semua hak masyarakat di atas tanah mereka terpenuhi. Saat itulah, konflik baru muncul di Kecamatan Trumon. Usai konflik bersenjata, kini rombongan gajah pun turun dari hutan ke perkampungan warga.

Menurut Azzuhri, sebelum CRU berdiri di Trumon, setiap kali gajah liar masuk desa, mereka hanya bisa melapor ke BKSDA Aceh untuk menghalau hewan bertubuh raksasa itu.

“Waktu itu cara menghalaunya masih dengan mercun. Petugas BKSDA datang menanggapi, tapi proses menghalau gajah liar butuh waktu. Bahkan pernah selama tiga bulan gajah bertahan di kampung kami. Tak mau kembali hutan,” ungkapnya.

Ketika itu, lanjutnya, ia banyak berdiskusi dengan pihak Yayasan Leuser Internasional yang masih aktif melakukan kegiatan pembebasan lahan koridor. Konflik yang berkepanjangan dan sangat meresahkan masyarakat Trumon itu, akhirnya mendapatkan titik terang dengan solusi membangun sebuah CRU di Trumon.

“Waktu itu, yang masih aktif dengan masyarakat di sini, ya YLI. Maka YLI lah yang mendorong dan membantu berdirinya CRU di Trumon ini,” terang dia.

Papan informasi Kawasan Koridor Satwa dan CRU Trumon, di depan gerbang menuju bagian dalam CRU. [Foto Desi Badrina]

Keterbukaan antara YLI dan masyarakat Trumon, kata Azzuhri sudah dibangun sejak pengukuhan kawasan koridor pada 1999-2000. Baginya, sistem kerja YLI yang menyertakan warga gampong dalam setiap program mereka, membuatnya salut dengan lembaga lingkungan pertama di Aceh ini.

Ia mengaku, untuk mendapatkan izin mendirikan CRU di Tromon, bukan satu hal yang mudah. Banyak penolakan yang terjadi. Terutama dari masyarakat sekitar yang tidak faham tentang fungsi CRU. Sebagian masyarakat saat itu beranggapan, jika CRU dibangun, akan mengundang gajah liar datang.

Namun, setelah masyarakat mendapatkan sosialisasi dan pemahaman, akhirnya mereka secara terbuka menerima keberadaan CRU di Trumon. Sistem swakelola guna menggaet partisipasi warga setempat membuat Yayasan Leuser Internasional mendapat sambutan dan dukungan baik dari masyarakat lokal.

Kini terhitung genap lima tahun, gajah dan CRU berada di Trumon. Jika melihat napak tilas berdirinya Conservation Response Unit yang menghabiskan waktu lama, sebanding dengan kebahagiaan masyarakat ketika bisa menikmati ketenangan tanpa gajah liar.

Kegembiraan itu diungkapkan Sekdes Naca, M. Nasir. Ia teringat, awal perdamaian Aceh 2006. Sekitar 54 gajah turun ke Desa Kapal Sesak, Pintu Rimba, dan Desa Naca. Tak hanya itu, kawanan gajah liar juga sampai ke perbatasan Gunung Kapur hingga Trumon Dalam.

“Waktu itu kelapa sawit di kebun saya tingginya baru sekitar satu meter. Masih indah-indahnya kita lihat. Kawanan gajah masuk desa, pas malam hari. Paginya, saat saya sama warga lain datang melihat kondisi kebun kami, semua rata dengan tanah,” kenang Nasir.

Akibatnya, kerugian yang dialami masyarakat cukup tinggi. Apalagi, saat itu masyarakat baru kembali bercocok tanam pasca konflik Aceh. Jadi, semua tanaman perkebunan dan pertanian warga, seperti padi, jagung, pisang, dan kelapa sawit milik habis di lahap gajah dalam semalam.

“Tempat main gajah waktu itu memang di belakang dapur warga. Kalau tak salah, hampir tiga bulan gajah di dalam kampung dan tak ada yang bisa mengusir mereka,” ungkap Sekdes Naca itu.

Berdasarkan data Forom Konservasi Gajah Indonesia (FKGI) tahun 2016, secara keseluruhan jumlah gajah di Aceh 475- 500 ekor. Semuanya tersebar di beberapa habitat, seperti di Desa Lokop, Aceh Timur, hingga Desa Peunaron. Jumlahnya 200 hingga 250 ekor.

Potret Gerbang Koridor Satwa Trumon, Aceh Selatan. [Foto Desi Badrina]

Habitat gajah di Lembah Bengkung Aceh Tenggara, hingga Kecamatan Trumon Aceh Selatan, berjumlah 80 hingga 100 ekor. Habitat gajah di Kecamatan Beutong, Kabupaten Nagan Raya, berjumlah 40 hingga 60 ekor.

Jumlah gajah di Ulu Masen Kabupaten Aceh Jaya, Geumpang, Pidie Jaya, dan Aceh Barat, berjumlah 100 hingga 120 ekor. Sedangkan kantung habitat di Peusangan, Kabupaten Bireuen, berjumlah 40 sampai 50 gajah, dan Pidie berjumlah 20 sampai 30 ekor gajah.

Hingga saat ini, guna mengelola Gajah Sumatera yang tersisa di Aceh, Pemerintah Aceh, lewat Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan bekerja sama dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh, dan LSM Lingkungan telah membangun tujuh Conservation Response Unit yang bertujuan merespon cepat konflik mamalia satu ini berdasarkan wilayah sebarannya.   

Tujuh CRU tersebut berada di titik rawan gajah, yaitu CRU Serba Jadi Kabupaten Aceh Timur, , CRU Cot Girek Kabupaten Aceh Utara, CRU DAS Peusangan dan CRU Gempang Kabupaten Pidie, CRU Sampoinit Lingan Kabupaten Aceh Jaya, CRU Aceh Barat, serta CRU Trumon Kabupaten Aceh Selatan.

Basecamp CRU Trumon terletak di lahan seluas 400 hektar. Lokasi CRU itu, merupakan bekas kilang kayu yang berbatasan dengan dua sungai. Dari timur dan barat berbatas dengan Sungai Trumon. Sedangkan arah utara selatan mengalir Sungai Naca.

Memiliki sumber air berlimpah dan hutan yang rimbun, menjadikan Koridor Satwa di Kecamatan Trumon, sebagai tempat yang cocok untuk menambat gajah yang didatangkan dari PLG Sare. Nantinya, selain mengamankan kawasan, gajah juga akan melakukan patroli, untuk memantau kekayaan hayati di kawasan hutan yang menjadi jalan lintas satwa liar dari utara ke selatan, yaitu dari Taman Nasional Gunung Leuser ke Suakamarga Satwa Rawa Singkil Trumon.

Tak hanya itu, Koridor Satwa yang berada tepat di tengah wilayah konflik gajah liar, menjadikan tim CRU Trumon mudah bergerak ke segala penjuru. Dan tak kalah penting, dukungan masyarakat dan pemerintah daerah, menjamin keamanan kawasan koridor dari perambahan dan pembalakan liar.

“Saya yakin, jika CRU Trumon tidak ada di sini, Kawasan Koridor Satwa yang luasnya 2.700 hektar akan dirambah manusia, sedangkan perkebunan warga akan porak-poranda dihajar  gajah liar,” tutup Azzuhri.[]