Meucuca

Orang yang meucuca bukan sekedar ia semakin membuat orang tambah sibuk, melainkan bisa membuat suasana harmoni hancur akibat tujuan yang hendak dicapai sia-sia saja.

Meucuca
Ilustrasi/ bukalapak.com

Orang yang meucuca bukan sekedar ia semakin membuat orang tambah sibuk, melainkan bisa membuat suasana harmoni hancur akibat tujuan yang hendak dicapai sia-sia saja.

SAYA pernah menikmati suasana sungai di sebelah barat rumah kami, bersusun batu-batu dan indah sekali. Dengan air yang bening, banyak ikan di dalamnya. Saat orang-orang yang merantau pulang dan membawa serta anak-anaknya, mereka tidak ingin pulang ke rumah lebih dahulu. Saat melihat sungai yang airnya jernih, mereka langsung ingin menceburkan diri ke dalamnya.

Berbagai kebutuhan ada di sungai. Mulai air bersih, hingga sejumlah jenis ikan yang sekarang sudah sulit ditemui. Orang-orang yang memiliki keahlian memancing, bisa menangkap jenis ikan tertentu di sungai ini. Tidak sulit mendapatkan untuk sekali-dua makan.

Banyak anak yang memiliki kemampuan menangkap ikan. Saya belajar sendiri mencari udang sungai, yang jika jumlahnya sedikit, akan digunakan sebagai umpan untuk mencari ikan yang lebih besar. Namun jika udangnya banyak, bisa langsung dibawa pulang ke rumah.

Itulah proses belajar. Alam memberi kemampuan seseorang untuk menjalani hidup. Keadaan alam menentukan bagaimana seseorang akan menjalani kehidupannya. Proses yang dijalani sangat bersahaja, dengan target keberlanjutan. Semua itu langsung pecah saat ada pemilik uang melihatnya sebagai sumber uang.

Pernah datang suatu masa saat ada orang datang membawa bom buatan untuk menangkap ikan dalam waktu singkat. Saat pasir diambil dengan uang yang menjanjikan, tiba-tiba membuat semuanya menjadi berubah.

Semuanya menjadi banyak hal semakin menyulitkan. Termasuk mencuci pakaian yang banyak dilakukan di pinggir sungai berbatu, ketika sungai berubah berlumpur dan berbau, tidak lagi leluasa dapat dilakukan. Mencuci sekali sudah sulit. Di sungai, untuk membilas pakaian yang sudah dicuci pun, sudah tidak semudah dulu.

Dengan kondisi demikian, mencuci tetap dilakukan dengan bersahaja. Mesin cuci tidak familiar di kampung. Bahkan karena ingin mendapatkan hasil yang sempurna, hingga saat ini banyak yang tidak menggunakan mesin cuci. Penggunaan mesin, dianggap memudahkan kerja. Tinggal masukkan pakaian kotor ke dalamnya, putar perintah, lalu tunggu sejumlah menit. Jika masih belum cukup, tinggal putar sekali atau dua kali lagi.

Orang yang tidak mau menggunakan mesin, memiliki alasan ingin membersihkan pakaian secara bersahaja. Walau memudahkan, dengan mesin dianggap akan memberi kesulitan dalam hal yang lain –tidak bisa memisahkan secara langsung semua jenis pakaian yang hendak diperlakukan secara berbeda –terkait kebersihan dan kesuciannya.

Anak-anak yang suka main air, akan dianggap sebagai penambah beban, ketika air yang dimainkan itu akan dipergunakan untuk membilas pakaian hingga suci. Bagi penyuci yang bersahaja, dibedakan bersih dan suci. Kepentingan penyucian inilah yang menjadi tujuan akhir dari cuci-mencuci pakaian itu.

Orang tua sudah memisahkan air bersih dalam ember yang berbeda. Ember yang lain, biasanya untuk membilas pakaian. Betapa mereka akan bekerja ekstra saat air yang akan dipergunakan itu diobok-obok oleh anak-anaknya. Larangan meucuca, tidak sebatas pada kepentingan untuk tidak membuat tenaga hilang percuma. Orang-orang yang sengaja meletakkan cucian dan membersihkan secara khusus, ingin mencapai kualitas kesucian dari cucian mereka.

Orang yang meucuca bukan sekedar ia semakin membuat orang tambah sibuk, melainkan bisa membuat suasana harmoni hancur akibat tujuan yang hendak dicapai sia-sia saja. Emosi yang berlipat, tenaga yang terkuras, lalu harus mengulangi hal yang sama, adalah efek dari meucuca.

Saat orang tua melarang anaknya meucuca, tidak terbatas pada satu hal. Banyak hal yang jadi pertimbangan. Meucuca dianggap sangat menganggu, bahkan akan membuat banyak kerusakan dalam lini-lini kehidupan mereka. Makanya anak-anak yang meucuca akan dipindahkan ke tempat khusus. Mereka diberi mainan berbeda. Mungkin Anda pernah mengalami hal yang demikian?

Wallahu A'lamu Bish-Shawaab.

[es-te, Selasa, 9 Desember 2017]