Meukasyuk

Sebuah grup yang berbicara tentang kelahiran, sungguh tidak elok diaduk dengan kematian. Sedang berbicara pohon lalu tersambung dengan kaki ayam atau bahkan penyakit yang menimpa manusia.

Meukasyuk
ilustrasi oleh Gus Ngarso

Meukasyuk

Sebuah grup yang berbicara tentang kelahiran, sungguh tidak elok diaduk dengan kematian. Sedang berbicara pohon lalu tersambung dengan kaki ayam atau bahkan penyakit yang menimpa manusia.

Setelah saya hitung-hitung, saya memiliki hampir 30 grup WhatsApp (WA). Ada admin yang sangat santun, menghubunyi lewat jaringan pribadi, menanyakan apakah saya berkenan untuk masuk ke dalam grup WA yang dibuatnya. Selain itu ada orang yang mengundang secara khusus, memberi pilihan, namun tetap kita yang menentukan. Biasanya mereka hanya menampakkan target dan apa yang diharapkan dari grup, dan kita akan masuk ke dalamnya jika tertarik. Di luar itu, ada orang yang memasukkan saja nomor WA kita ke dalam grupnya yang dibuatnya. Tanpa komunikasi, tanpa penjelasan, apalagi persetujuan.

Saya tidak memiliki kemampuan untuk menebak apakah Anda juga termasuk orang yang seperti saya. Ketika masuk atau dimasukkan, saya menjadi sangat sulit keluar. Ketika saya akan keluar dari suatu grup, terlepas bagaimana nama saya dimasukkan, saya merasa tidak enak. Ada kecamuk rasa, seolah-olah saya ingin memutus pertemanan. Tidak menghargai. Dan berbagai rasa lainnya. Padahal kalau mau jujur, kemampuan alat komunikasi yang kita pegang juga masing-masing terbatas. Ketika sudah melampuai batasnya, imbas kepada semakin lambat jaringan kita.

Saya sering menyaksikan orang-orang yang keluar dari grup juga beragam. Ada orang yang keluar begitu saja, tanpa perlu lihat kiri-kanan, walau ketika dimasukkan sudah mendapat persetujuan dan izin muslihat. Tidak sedikit saya menyaksikan mereka minta mundur dengan alasan yang masuk akal. Sudah merasa tidak pada tempatnya, tidak sesuai dengan bidangnya, atau merasa tidak bisa berkontribusi pada rencana grup yang didirikan. Alasan lain karena sudah terlalu banyak grup, sehingga memberi beban bagi alat komunikasi yang digunakan. Apalagi alat komunikasi yang setengah jadul (jaman doeloe), yang membuatnya terhambat ketika berkomunikasi yang penting dengan orang lain.

Sederhananya, masuk dan keluar memungkinkan dilakukan secara muslihat dan tanpa komunikasi begitu saja. Sama persis posisi, ketika admin akan menempatkan orang-orang yang akan dimasukkannya itu dalam posisi yang seperti apa. Seberapa penting kita menganggap orang yang akan kita masukkan, menggambarkan sepenting itu pula kita akan melakukan komunikasi.

Demikian halnya dengan bagaimana kemudian kita mengoperasionalkan WA. Sebagai ruang komunikasi, WA membantu dalam menyampaikan pesan. Orang yang bijak, akan menempatkan pesan tersebut dalam ruang rasa. Sebelum mengirim pesan apapun, ia banding-bandingkan, ia ukur-ukur siapa nanti yang akan menerima dan membacanya. Dengan menimbang rasa demikian, sesuatu yang dikirim tidak begitu saja berlangsung dari satu alat komunikasi ke alat komunikasi yang lain. Apalagi pesan yang ingin disampaikan itu bertujuan untuk orang banyak. Saring yang dipakai untuk menimbang-nimbang jauh lebih halus dari yang hanya dikirim untuk satu atau dua orang saja.

Seorang yang bijak akan berfikir mengenai tujuan masing-masing grup. Ia hanya akan mengirimkan pesan tertentu berdasarnya pertimbangan cocok atau tidaknya dengan misi grup. Sebuah grup yang berbicara tentang kelahiran, sungguh tidak elok diaduk dengan kematian. Sedang berbicara pohon lalu tersambung dengan kaki ayam atau bahkan penyakit yang menimpa manusia.

Saya kira semua ada tempatnya. Sekali lagi, orang seyogianya hanya akan mengirimkan pesan sesuai dengan tempatnya. Tidak boleh seseorang merasa bahwa hanya pesan yang dikirimnya saja yang sesuai dengan semua grup. Kita tidak boleh berpikir bahwa hanya kita yang boleh mengirim kepada banyak grup sekaligus. Ketika kita diberi kesempatan masuk ke dalam grup tertentu, saringan rasa akan menentukan pesan seperti apa yang akan dikirimkan ke dalam grup tersebut.

Berhentilah menjadi orang yang meukasyuk, alias serba semua mau. Ketika dimasukkan dalam sebuah grup, tiada henti mengirim pesan apa saja. Tidak peduli pesan itu dari mana dan akan kemana. Tidak peduli pada apa isinya. Tidak peduli dan tidak mencoba menimbang-nimbang rasa bagaimana perasaan orang yang akan menerimanya. Kesalahan yang lebih serius adalah pesan-pesan yang dikirimkan, justru pengirimnya belum pernah membacanya.

Itulah yang banyak terjadi, saat banyak pesan yang beredar justru pesan yang belum terverifikasi. Orang dengan latah atau sengaja mengirimkan segala pesan yang belum tentu tepat dan benar, ke semua grup yang dari segi tujuan dan maksud grup juga dipertanyakan.[]