Meuripee

Mereka yang bekerja untuk menyelesaikan pekerjaan orang, memang tidak diundi. Apa yang mereka lakukan sudah jelas sasaran dan sang empunya

Meuripee
Ilustrasi/ langkawiartbiennale.com

Mereka yang bekerja untuk menyelesaikan pekerjaan orang, memang tidak diundi. Apa yang mereka lakukan sudah jelas sasaran dan sang empunya

Anak-anak kampung sekarang, tidak pernah melihat bagaimana pekerjaan bersama dilakukan oleh orang tua atau para kakeknya. Tidak semua generasi milenial merasakan. Saya pernah merasakan ketika sejumlah orang berkumpul untuk menyelesaikan pekerjaan seseorang, lalu orang tersebut pada waktu yang lain akan membantu orang yang lain lagi. Pekerjaan ini memang mirip arisan, yang mengumpulkan uang dari masing-masing orang, lalu berkumpul, tinggal diundi siapa yang akan dapat bagian pada saat pertemuan.

Mereka yang bekerja untuk menyelesaikan pekerjaan orang, memang tidak diundi. Apa yang mereka lakukan sudah jelas sasaran dan sang empunya. Dalam mempersiapkan tanah pertanian, paling sering terjadi aktivitas meuripee ini. Semua pekerjaan menjadi mudah dilaksanakan bersama-sama. Namun pemilik lahan harus bekerja keras untuk menjamu mereka yang bekerja.

Sebentuk jamuan menjadi hal pembeda manusia yang bekerja dibandingkan dengan mesin yang tidak perlu apa-apa. Manusia memiliki tenaga yang terbatas, sehingga pada waktu tertentu membutuhkan pemulihan tenaga. Pada kadar tertentu, manusia juga membutuhkan waktu yang relaks. Berbeda dengan mesin yang tidak butuh waktu terlalu panjang untuk menyelesaikan satu kegiatan.

Mesin atau manusia, dalam konteks tarik-menarik penggunaan tenaganya, terjadi dinamika dan perkembangan pentingnya di era sekarang. Penggunaan manusia sudah diperhitungkan. Dengan kerja yang tidak terukur, sedang berbagai kebutuhan harus dipersiapkan. Berbeda dengan mesin, yang hanya menekan tombol tertentu, semua bisa digerakkan.

Perkembangan dunia inilah yang dibayangkan banyak orang sebagai sesuatu yang tidak mungkin dibatasi. Pekerjaan praktis dan efisien menjadi pilihan banyak orang pada era sekarang. Dan pola demikian dianggap hanya akan terukur dengan menggunakan mesin saja.

Seiring dengan perkembangan ini, orang-orang pun kehilangan pekerjaan. Di sepanjang jalan kampung pinggir sawah kampung saya, setiap masa panen orang antre menunggu pemilik sawah yang membutuhkan tenaga mereka. Namun mesin pemotong padi seperti mengubah bagaimana harapan orang-orang yang sedang menunggu kerja tersebut. Mesin masuk kampung mungkin membuyarkan sebagian harapan.

Inilah zaman yang terus berubah. Pekerjaan yang saling dilakukan bersama dan bergilir dari satu tempat ke tempat lain, disebabkan karena kepentingan agar pekerjaan bisa diselesaikan dengan cepat. Orang zaman sekarang bukan saja tidak ingin tergantung, melainkan juga ingin mencapai target yang lebih cepat dari manusia. Tidak ingin direcoki dengan saling berbalas jasa. Muncul keinginan seolah untuk melakukan sendiri, agar tidak tergantung jasa kepada orang lain. Dengan demikian juga tidak perlu melakukan sesuatu terhadap orang lain, di waktu yang lain. Ketika orang melakukan sesuatu terhadap kita, maka kita pun akan melakukannya terhadap orang lain. Ketergantungan semacam inilah yang semakin ditinggalkan.

Padahal semakin banyak pekerjaan yang bisa diselesaikan dengan adanya orang-orang. Sawah yang luas bisa dipagar semua dengan membagi jatah beberapa meter saja setiap satu orang. Semua orang ikut terlibat. Tidak masalah suatu waktu ada di antara mereka yang berhalangan. Orang lain akan menggantikan.

Sekali lagi, mesin membuat semua proses lebih mudah. Hal yang tidak dilupakan bahwa mesin hanya menyelesaikan kehidupan beberapa orang saja. Berbeda ketika tugas-tugas itu diberikan kepada orang-orang yang membutuhkan, maka berapa banyak orang yang akan terbantu kehidupannya.

Sebagai orang kampung yang pernah berpengalaman ikut bertani (bersawah; meublang; meu ‘eu), saya bisa merasakan bagaimana rumitnya hubungan aktor-aktor ini dijelaskan. Bagi orang kampung, suasana ini sebenarnya tidak rumit. Sudah terbiasa berbagi peran dan tidak ada tagih-menagih.

Wallahu A'lamu Bish-Shawaab.