Minat Baca Anak Rendah, Salah Siapa?

Semua pihak ikut bertanggung jawab, mulai dari orang tua, sekolah, dan pemerintah juga ikut ambil andil dalam hal ini.

Minat Baca Anak Rendah, Salah Siapa?
Photo: Zikra

Minat Baca Anak Rendah, Salah Siapa?

Semua pihak ikut bertanggung jawab, mulai dari orang tua, sekolah, dan pemerintah juga ikut ambil andil dalam hal ini.

Oleh : Zikrayanti, MLIS*

PADA dasarnya kita tahu bahwa manfaat membaca itu sangat baik bagi perkembangan otak anak. Di antaranya menambah kosata, meningkatan imajinasi, meningkatkan ketrampilan berkomunikasi, dan melatih kemampuan anak untuk berfikir.  Namun yang menjadi permasalahan adalah apakah kita benar-benar sadar telah mendorong dan memupuk kebiasaan membaca anak? 

Kebiasaan membaca bukan turunan melainkan kebiasaan yang dipupuk sedini mungkin.  Memupuk dan mendorong kebiasaan membaca anak sebenaranya menjadi tugas utama orang tua, guru dan pemerintah. Di rumah, orang tua harusnya lebih menutrisi anak dengan bahan bacaan rekreasi seperti cerita-cerita fiksi bergambar. Jagan pelit untuk menghadiahkan  anak-anak anda dengan buku seperti kita terbiasa membelikan jajanan untuk mereka.

Baca juga:
Orang Miskin, Beras dan Rokok
Gubernur Irwandi dan Masa Depan Pertanian Aceh
Bang Risman; Status Majas Irwandi Yusuf?

Orang tua seharusnya membiasakan diri  membacakan cerita untuk anak pada saat sebelum tidur. Di samping itu kebiasaan membaca juga harus dimiliki oleh orang tua karena pada dasarnya anak-anak belajar mencontoh dari orang-orang terdekat mereka.

Bayangkan bila kita selaku orang tua memiliki kebiasaan membaca secara tidak langsung anak akan menginguti pola tingkah kita orang tuanya yang suka membaca juga. Yang menjadi pertanyaan apakah kita selaku orang tua telah melakukan hal tersebut?

Guru adalah orang tua anak di sekolah. Lingkungan sekolah juga seharusnya memotivasi anak untuk gemar membaca. Program Gerakan Literasi Sekolah yang diluncurkan oleh Kemendikbud yang bertujuan untuk memotivasi agar anak gemar membaca, dalam hal ini anak-anak diwajibkan untuk membaca buku non-pelajaran setiap harinya selama 15 menit sebelum jam pelajaran dimulai.

Namun sangat disayangkan masih minim sekali yang menerapkan program tersebut di sekolah. Di samping itu pemerintah, dalam hal ini perpustakaan juga memiliki kewajiban untuk meningkatkan dan memotivasi anak agar gemar membaca dengan menyediakan fasilitas-fasilitas yang memadai, seperti: ruang baca yang aman dan nyaman, koleksi yang menarik dan memadai, pustakawan yang berkompeten, serta menghidupkan fungsi rekreasi perpustakaan agar anak-anak senang berkunjung keperpustakaan.

Program-program peningkatan minat baca juga harus digarap dengan serius, seperti program-program rutin mingguan; bercerita, bedah buku, meet dan greet pengarang buku, club menulis, club bahasa dan lain-lain. sehingga setiap harinya ruang baca anak menjadi ramai pengunjung. 

Kembali ke judul di atas ketika kita bertanya minat baca anak rendah salah siapa? Semua pihak ikut bertanggung jawab, mulai dari orang tua, sekolah, dan pemerintah juga ikut ambil andil dalam hal ini. Penanaman kebiasaan membaca menjadi tugas bersama bukan kelompok tertentu. Ketika semua aspek dalam lingkungan ikut mendorong dan memotivasi anak untuk gemar membaca maka kebiasaan membaca tidak lagi menjadi persoalan yang rumit.[]

*Penulis Adalah Pemerhati Kegiatan Anak Dalam Bidang Perpustakaan dan Dosen Tetap Jurusan Ilmu Perpustakaan UIN Ar-Raniry Banda Aceh