Kata-kata gertak, optimisme, bahkan kegarangan, bukan hanya untuk mereka yang berada di lapangan dan kamar ganti, melainkan juga publik kebanyakan

Mop
Ilustrasi

Kata-kata gertak, optimisme, bahkan kegarangan, bukan hanya untuk mereka yang berada di lapangan dan kamar ganti, melainkan juga publik kebanyakan

Apakah Anda pernah melihat langsung – atau paling tidak menonton siaran langsung melalui televisi — konferensi pers antara dua pemain atau tim dalam olahraga? Sekiranya pernah menonton, apa yang Anda perhatikan? Keteraturan kata? Atau isinya? Terus terang saya sangat tertarik dengan isinya, walau bagaimana ritme berbahasa juga sangat penting. Isi yang gagah, disampaikan oleh orang yang super lembut, membuat mereka tidak terdongkrak. Sebaliknya, ritme yang tidak didukung oleh isi, juga akan timpang. Makanya harus didukung dua-duanya.

Lihatlah bagaimana pemain tinju, dalam temu konferensi pers. Ia akan dengan garang menyebut lawannya bisa dirobohkan dalam beberapa menit saja. Tidak jarang petinju yang sangat garang dalam konferensi pers, justru jatuh KO lebih dulu. Apa yang disampaikan dalam konferensi baginya merupakan gertak awal, agar lawan sedikit merasa kuyu ketika bertanding. Tatapan mata, cara bertutur, bahkan isi yang gegap-gempita ingin menjatuhkan lawan, adalah perpaduan yang ingin memberi ketakutan terhadap lawannya.

Sering saya tonton konferensi pers tim sepak bola. Selain pelatih, biasanya mereka akan menyertakan sejumlah pemain kunci (satu atau dua orang). Bahasa mereka juga satu waktu itu, ingin menang dan mengalahkan lawan. Bahkan dalam konferensi pers, meremehkan (peukabeh) lawan sangat sering terjadi. Mereka dengan gagah menyebut akan memorak-porandakan pertahanan tim lawan.

Tidak ada yang bisa marah dengan rumus pers olahraga. Pada masa konflik, bahkan halaman olahraga yang paling aman menemukan kata-kata ganjil. Tim aparat dibombardil tim bukan aparat, dengan bebas dipakai dalam berita olahraga. Kata-kata diterkam, dipukul, dihantam, digereduk, jamak dijumpai dalam berita. Sehingga pada masa lalu, ketika sedang konflik, pers olahraga ini termasuk yang dikaji betapa amannya pers ketika menggunakan kata-kata terkait olahraga. Sebuah pertarungan, yang bahkan membangkitkan dendam kesumat, bahkan dengan pihak yang berkonflik sekalipun, tidak masalah dengan pers olahraga.

Kini hal itu jelas dipakai, tanpa takut akan psikologi publik. Padahal kata-kata gertak, optimisme, bahkan kegarangan, bukan hanya untuk mereka yang berada di lapangan dan kamar ganti, melainkan juga publik kebanyakan. Betapa kegarangan akan menurun kepada suporter fanatik, ketika mendengar pelatih tim kebanggaannya menyebut mampu membombardil lawannya. Tidak semua orang memahami itu sebagai gertak (mob). Konflik yang terjadi di lapangan olahraga sekalipun, ketika tidak mampu dipahami bahwa permainan itu selalu memiliki sisi menang dan kalah. Tidak ada pertandingan yang harus selalu merasakan menang.

Sayangnya ketidakpahaman ini bukan hanya milik publik awam. Saat terjadi kerusuhan di dalam lapangan, yang turut terlibat tak cukup hanya pemain, melainkan juga manajemen yang duduk di tribun, bahkan penonton yang tumpah-ruah ke lapangan. Ironisnya masalah besar yang menumpuk di lapangan, kadangkala disebabkan hal-hal kecil. Antar pemain saling sikut, karena mungkin kalah dari segi kualitas. Tidak mungkin melawan dengan tak-tik kualitas, tidak sportif dalam bermain menjadi pilihan. Sedangkan di luar lapangan, antar suporter ribut gara-gara saling ejek.

Semua efek dari gertak, tidak selalu mampu dipahami semua pihak. Makanya ia dijadikan senjata untuk menang dengan berbagai cara. Mereka yang sudah memahami, tidak ingin menang diraih dengan cara-cara yang tidak elegan.

Ketahuilah kini mob itu mengalir kepada kekuatan politik. Lawan politik yang tidak menerima kekalahan timnya, akan melakukan upaya apapun untuk menjatuhkan mental lawan. Hal itu dilakukan tidak selalu karena ingin menggantikan kuasa. Mereka tahu posisinya akan kerdil memperoleh kuasa yang demikian. Mop ini lebih kepada ingin menampakkan diri. Begitulah adanya. Ka kalen kee.

Wallahu A'lamu Bish-Shawaab.