Nandiya, Putri Indonesia 2018 Duta BFLF untuk Thalasemia

“Mereka tanya saya, apa golongan darah saya. Saya jawab, golongan darah saya O plus. Langsung ada yang minta, kak donor untuk saya saja ya"

Nandiya, Putri Indonesia 2018 Duta BFLF untuk Thalasemia
Nandiya Deva Puspa Dewi

Nandiya, Putri Indonesia 2018 Duta BFLF untuk Thalasemia

“Mereka tanya saya, apa golongan darah saya. Saya jawab, golongan darah saya O plus. Langsung ada yang minta, kak donor untuk saya saja ya"

Nandiya Deva Puspa Dewi menyusuri koridor gedung lama Rumah Sakit Umum Zainal Abidin (RSUZA). Tujuannya hari itu, Ruang Bermain Sentral Thalasemia. Tak pernah terbayangkan olehnya ruang bermain anak-anak berada jauh dari keramaian. Gedung lama RSUZA itu, kini khusus dihuni pasien kangker, hemofilia, kangker dewasa, TB paru, gagal ginjal, dan thalasemia.

“Jauh ya pak ruang bermain anak Thalasemia. Sepi sekali di sini,” tutur Putri Indonesia 2018 asal Aceh kepada Direktur Blood For Life Foundation (BFLF) Michael Oktaviano.

“Idealnya ruang bermain anak harus lebih mudah diaksesnya supaya banyak yang berkunjung. Gedung RSUZA baru, lebih cocok sebenarnya,” jawab Michael sambil tersenyum.

Setelah berjalan santai melewati koridor selama lima belas menit dengan jarak hampir setengah kilo meter, mereka berbelok ke sebelah kanan. Di sanalah bangsal Thalasemia, tempat anak-anak yang rutin melakukan tranfusi darah tiap bulan, tinggal beberapa hari.

Hari itu, hanya ada 12 orang anak di Bangsal Thalasemia. Anak-anak itu terkejut mendapati perempuan berparas cantik nan tinggi itu tersenyum saat menyapa mereka. Agenda Nandiya, yaitu menjadi voluntir untuk program hospital school yang rutin dilakukan BFLF.

Program hospital school biasanya menuntut para relawanya untuk bisa story telling kepada anak-anak yang hampir rata-rata masih berusia sekolah dasar. Mereka bercerita tentang motivasi, dan mengajarkan anak-anak Thalasemia itu untuk tidak berhenti memiliki cita-cita. Di sela cerita, tentu saja, mereka diajak bermain bersama.  

Kepada Acehnews Nandiya bercerita betapa terkejutnya ia, saat seorang anak bertanya apa golongan darahnya. Itu terjadi usai kegiatan belajar dan bermain usai.

“Mereka tanya saya, apa golongan darah saya. Saya jawab, golongan darah saya O plus. Langsung ada yang minta, kak donor untuk saya saja ya,” kisah Putri Indonesia asal Aceh saat menceritakan pengalaman pertamanya bersinggungan langsung dengan pasien Thalasemia, pertengahan Februari.

Nandiya yang takut dengan jarum suntik, saat itu juga merasa malu berhadapan dengan anak-anak yang seumur hidupnya harus melakukan tranfusi darah. Tak pernah terpikir olehnya, bahwa bantuan yang sangat dibutuhkan oleh pasien Thalasemia adalah kakak asuh.

“Saya pikir, saya akan menjadi kakak asuh untuk salah seorang anak yang tadi meminta saya mendonorkan darah untuknya,” terang perempuan kelahiran 1995 ini.

Sebagai Putri Indonesia 2018 asal Aceh, Nandiya mengadvokasi bidang pendidikan. Ia merasa wajib menggalakkan pendidikan yang layak untuk semua anak-anak Indonesia, terutama anak di daerah asalnya, Aceh.

Sudah lama ia ingin bersosial dengan dunia anak-anak. Namun, profesinya sebagai model disela-sela kesibukan tugas akhirnya sebagai mahasiswa tingkat akhir Universitas Syiah Kuala, menjadikan perempuan yang suka dengan dunia olahraga ini, belum berkesempatan bergabung dengan komunitas kemanusian di Banda Aceh.

Hingga akhirnya, ketika ia sharing dengan Putri Indonesia 2017 asal Aceh, Yayang Ayu Lestari, ia mendapatkan banyak cerita tentang anak-anak Thalasemia di Aceh. Adik sepupu Yayang yang menderita Thalasemia meninggal dunia karena tak tercukupi kebutuhan darahnya.

“Lewat seorang teman bernama Darmawan Satria, memperkenalkan saya dengan BFLF, dan jadilah kami sepakat untuk melakukan galang dana untuk anak-anak itu,” cerita Nandiya.

Saat bertemu dengan Direktur BFLF, Michael Oktaviano, Nandiya banyak mendengar tentang anak Thalasemia, dan bagaimana kondisi pendidikan mereka yang kebanyakan dari mereka putus sekolah.

Mendengar BFLF bekerja sama dengan Bimbel Anak Shaleh, membuat program sosial khusus untuk pasien Thalasemia untuk mengajarkan tentang pendidikan yang mereka beri nama hospital school, jadilah Nandiya tertarik menjadi voluntir.

Michael yang berkesempatan mendampingi Nandiya mengatakan, perempuan ini sangat ramah terhadap anak. Tidak ada kesan bahwa ia seorangPutri Indonesia. Michael menggambarkan Nandiya sangat mudah tersentuh hatinya.

Nandiya mau menuruti apa yang diminta anak-anak itu. Ada yang minta dipeluk, minta foto bersama, dan ekspresi anak-anak itu mengagumi dia. Siapa yang tak suka dipeluk princess,” kata Direktur BFLF.

Thalasemia termasuk empat besar jenis penyakit yang menghabiskan banyak dana BPJS. Sebulan, anak-anak penderita Thalasemia itu, membutuhkan 10 juta rupiah perbulan untuk biaya berobat. Jika ditotalkan, dalam setahun anak Thalasemia membutuhkan 220 juta rupiah untuk biaya rumah sakit.

“Setiap bulan mereka pasti ada libur sekolah karena harus tranfusi darah. Dan kebanyakan dari mereka akhirnya putus sekolah,” jelas Michael. Program hospital school ini diharapkan dapat menjadi home schooling untuk anak-anak tersebut.

Tepat minggu ketiga Februari, setelah kegiatan hospital school, Nandiya dan beberapa relawan lainnya, melakukan galang dana untuk pasien thalasemia di sebuah warung kopi di Banda Aceh. Galang dana itu mendapat sambutan hangat oleh semua kalangan termasuk beberapa anggota DPRA Aceh. Nandiya dan teman-temannya berhasil menggalang 1,8 juta rupiah malam itu.

Saat ia menyerahkan bantuan tersebut kepada BFLF, pada Kamis 22 Februari, Michael meminta kesediaan Nandiya untuk menjadi Duta BFLF untuk anak-anak Thalasemia.

Perempuan itu berterima kasih karena diberi kepercayaan untuk menjadi Duta BFLF untuk anak-anak Thalasemia. Michael berharap, akan lebih banyak anak muda yang peduli dengan gerakan sosial sehingga pesan yang disampaikan kepada masyarakat yang tentan di bidang sosial dan kesehatan dapat tepat sasaran.[]