Nanti Malam Gerhana Bulan, Ini Tata Cara Shalat Gerhana

" Sesungguhnya matahari dan bulan merupakan dua tanda kekuasaan Allah Azza wa Jalla. Terjadinya gerhana matahari atau bulan itu bukanlah karena kematian seseorang atau kehidupannya. Oleh karena itu, jika kau menyaksikan gerhana bergegaslah untuk mengerjakan shalat.” (HR. Muslim)

Nanti Malam Gerhana Bulan, Ini Tata Cara Shalat Gerhana
foto: libera.com

Nanti Malam Gerhana Bulan, Ini Tata Cara Shalat Gerhana

" Sesungguhnya matahari dan bulan merupakan dua tanda kekuasaan Allah Azza wa Jalla. Terjadinya gerhana matahari atau bulan itu bukanlah karena kematian seseorang atau kehidupannya. Oleh karena itu, jika kau menyaksikan gerhana bergegaslah untuk mengerjakan shalat.” (HR. Muslim)

Di tanggal 28 Juli 2018 nantinya akan muncul sebuah fenomena alam yakni gerhana bulan. Dan Indonesia menjadi wilayah yang beruntung di mana gerhana bulan bisa terlihat secara sempurna.

Di balik fenomena alam gerhana bulan yang akan terjadi, tentu tersimpan kebesaran dari Allah. Oleh karena itu bagi mereka yang beragama Islam sangatlah disarankan untuk melakukan shalat gerhana bulan. Hal ini sendiri sudah tertulis dalam hadits dari Al-Mughirah dalam kitab Bulughul Maram No. 526 yang berbunyi:

 Pada zaman Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam pernah terjadi gerhana matahari yaitu pada hari wafatnya Ibrahim. Lalu orang-orang berseru, terjadi gerhana matahari karena wafatnya Ibrahim. Maka Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah. Keduanya tidak terjadi gerhana karena kematian dan kehidupan seseorang. Jika kalian melihat keduanya berdo’alah kepada Allah dan sholatlah sampai kembali seperti semula.”

Allah sendiri pun berfirman bahwa," Sesungguhnya matahari dan bulan merupakan dua tanda kekuasaan Allah Azza wa Jalla. Terjadinya gerhana matahari atau bulan itu bukanlah karena kematian seseorang atau kehidupannya. Oleh karena itu, jika kau menyaksikan gerhana bergegaslah untuk mengerjakan shalat.” (HR. Muslim). Sehingga dari hadits tersebut pun disimpulkan bahwa shalat gerhana bulan hukumnya sunnah muakkad (sunnah yang sangat dianjurkan) baik bagi laki-laki maupun untuk perempuan.

Waktu shalat gerhana bulan

Waktu pelaksanaan shalat gerhana bulan sebaiknya dilakukan sejak dimulainya gerhana atau ketika bulan tertutupi hingga gerhana berakhir alias bulan terlihat seperti kondisi normal.

Shalat gerhana bulan sebenarnya boleh dilakukan sendiri atau tanpa perlu pergi ke masjid. Namun sangat disarankan untuk melakukannya secara berjama'ah karena Rasulullah dahulu mengerjakannya secara berjamaah di masjid, dengan khutbah atau tanpa khutbah.

Shalat gerhana bulan ini dikerjakan 2 rakaat dengan dalam setiap rakaat terdapat dua kali ruku'. Aisyah radhiyallahu'anha pun meriwayatkan, "Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengeraskan bacaannya saat shalat gerhana bulan, beliau shalat empat kali ruku’ dan empat kali sujud." (HR. Bukhari)

Sayyid Sabiq dalam Fiqih Sunnah pun menjelaskan bahwa sebelum shalat gerhana bulan dimulai, hendaklah muadzin mengumandangkan lafadz “ash shalaatu jaami’ah.”

Niat shalat gerhana bulan

Sebelum melakukan shalat gerhana bulan, ada baiknya untuk membaca niat shalat gerhana bulan berikut ini:

- Jika menjadi imam shalat gerhana bulan:

Usholli sunnatal khusuufi rok’ataini imaaman lillahi ta’aalaa

Artinya: “Aku niat shalat gerhana bulan dua rakaat sebagai imam karena Allah Ta’ala."

- Jika menjadi makmum shalat gerhana bulan:

Usholli sunnatal khusuufi rok’ataini ma’muuman lillahi ta’aalaa

Artinya: “Aku niat shalat gerhana bulan dua rakaat sebagai makmum karena Allah Ta’ala."

- Jika melakukan shalat gerhana bulan sendirian:

Usholli sunnatal khusuufi rok’ataini lillahi ta’aalaa

Artinya: “Aku niat shalat gerhana bulan dua rakaat karena Allah Ta’ala."

Tata cara shalat gerhana bulan

Setelah membaca niat shalat gerhana bulan, maka berikutnya adalah melakukan shalat gerhana bulan tersebut dengan tata cara berikut ini seperti yang telah dirangkum oleh Liputan6.com dari berbagai sumber (25/7):

1. Takbiratul Ihram.

2. Membaca surat Al Fatihah dan surat lainnya. Disunnahkan surat yang panjang.

3. Ruku’. Disunnahkan waktu ruku’ lama, seperti waktu berdiri.

4. Berdiri lagi kemudian membaca Al Fatihah dan surat lainnya. Disunnahkan lebih pendek daripada sebelumnya.

5. Ruku’ lagi. Disunnahkan waktunya lebih pendek dari ruku’ pertama.

6. I’tidal.

7. Sujud.

8. Duduk di antara dua sujud.

9. Sujud kedua

10. Berdiri lagi (rakaat kedua), membaca surat Al Fatihah dan lainnya

11. Ruku’. Disunnahkan waktu ruku’ lama, seperti waktu berdiri.

12. Berdiri lagi kemudian membaca Al Fatihah dan surat lainnya.

13. Ruku’ lagi. Disunnahkan waktu ruku’ lebih pendek dari ruku’ pertama.

14. I’tidal.

15. Sujud.

16. Duduk di antara dua sujud.

17. Sujud kedua.

18. Duduk Tahiyah akhir.

19. Salam.

Begitu salam selesai diucapkan, maka sangat disunahkan untuk berdoa setelah shalat gerhana bulan. Sebabnya di waktu setelah shalat gerhana bulan adalah waktu yang mustajabah untuk berdoa.

Doa setelah shalat gerhana bulan

Berikut adalah doa yang harus diucapkan setelah shalat gerhana bulan:

“Sesungguhnya matahari dan bulan itu adalah dua tanda kekuasaan Allah, agar hamba takut kepadaNya. Terjadinya gerhana matahari dan bulan itu bukanlah karena kematian seeorang. Maka jika engkau melihatnya, maka shalatlah dan berdoalah hingga gerhana itu tersingkap dari kalian” (HR. An Nasa’i shahih).

Setelah doa shalat gerhana bulan selesai dikumandangkan, maka ada baiknya untuk ditutup dengan khutbah. Khutbah tersebut hendaknya berisikan untuk selalu mengingat kebesaran Allah yang Maha Kuasa, bertaubat atas segala dosa yang dilakukan, motivasi untuk selalu melakukan hal yang positif seperti sedekah, berdoa, dan beristighfar sebagai upaya agar selalu berada di jalan Allah SWT.

Sumber: Liputan6