Nasib Rumah Yatim BFLF di Jakarta

“Saya pikir, ini yang paling urgen untuk dipublis. Tolonglah, untuk ditulis dan dishare kepada media. Sebab masa sewanya akan habis bulan Februari 2018 ini"

Nasib Rumah Yatim BFLF di Jakarta
Foto: Desi Badrina

Nasib Rumah Yatim BFLF di Jakarta

“Saya pikir, ini yang paling urgen untuk dipublis. Tolonglah, untuk ditulis dan dishare kepada media. Sebab masa sewanya akan habis bulan Februari 2018 ini"

HARI itu hujan. Michael Oktaviano, 36 tahun, baru saja tiba di Rumah Singgah BFLF Banda Aceh. Ia masih menggunakan pakaian dinas lengkap. Warnanya mirip cairan kopi sanger Aceh, dengan roastingan medium. Di sana, ia telah dinanti, lima mahasiswa Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Ar-Raniry.

Hampir tiga jam, empat mahasiswa dan seorang mahasiswi, menunggu Direktur Blood For Life Foundation (BFLF) tersebut. Mereka membawa nama Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam untuk mengajukan permohonan magang matakuliah Pers Reles, di lembaga kemanusian untuk Aceh ini.

“Assalamualaikum. Maaf ya, abang telat ini. Sedang mendampingi mahasiswa FKIP buat kegiatan di Ruang Thalasemia Anak, di RSUZA,” kata Michael.

Keenam mahasiswa hanya tersenyum dan saling melihat satu sama lain. Agaknya, Michael tahu apa yang ada dalam pikiran mereka.

“Pasti kalian kaget ya dengan wajah abang kan?” katanya. Audiens yang ditanya, langsung mengiyakan dengan tawa serentak.

Suasana pun langsung cair saat Michael bergurau dengan mengata-ngatai dirinya. Bukan kali pertama, ia mendapati pandangan takjub orang yang pertama kali bersua dengannya. Begitu pula dengan keenam mahasiswa mengira nama Michael pasti berperawakan tinggi, kulit putih dan bermata biru. Ternyata, Michael yang mereka jumpai berparas asli Indonesia.

Selesai dengan takjub dan tawa diawal jumpa, sekelompok mahasiswa yang diketuai Fajar, memberitahukan maksud dan tujuan magang mereka kepada bapak tiga anak itu.

“Begini bang, kami berniat magang di sini. Apa kiranya yang bisa kami bantu untuk buat rilis dari BFLF untuk media. Seminggu sekali, kami akan datang menulis dan mengangkat satu berita menarik dari BFLF,” jelas ketua tim itu pada Michael.

Tentu saja, BFLF yang sangat membutuhkan bantuan relawan untuk mempublikasi kebutuhan Rumah Singgah mereka, sangat terkesan dengan inisiatif kampus, yang memberikan fasilitas tersebut untuk lembaga non profit seperti BFLF.   

Kepada Fajar, Munawir, Vera, Sobari, dan Fauzan, ia menjelaskan awal mula BFLF berdiri. Bertepatan dengan peringatan tsunami, 26 Desember 2010. Saat itu, lembaga yang murni lahir dari masyarakat Aceh, bercita-cita dapat membantu dunia lewat gerakan donor darah.    

“Seiring berjalannya waktu, BFLF akhirnya tak hanya fokus pada galang darah saja. Kami melihat bahwa kebutuhan rumah singgah untuk pasien dari kabupaten kota yang datang berobat ke Banda Aceh juga penting,” terangnya.

Dengan bantuan beberapa donatur, BFLF berhasil menyewa rumah, untuk dijadikan Rumah Singgah masyarakat kurang mampu di Aceh sejak 2013. Banyak pasien yang datang berulang kali ke sana, tanpa dipungut biaya.

Selama bercerita, Michael juga menceritakan kisah pasien yang datang dari kampung dengan berbagai kesulitan. Mulai pasien yang semangat untuk sembuh meski tak ada biaya, hingga kisah pasien yang meninggal, karena tak sanggup menanggung biaya makan dan transportasi menuju Banda Aceh.

“Meskipun biaya berobat kita gratis, tapi fasilitas RSUZA untuk Rumah Singgah bagi pasien jauh itu belum memadai. Belum lagi, urusan administrasi yang tak bisa siap dalam sehari,” tutur Michael.

Usai berkisah tentang awal mula BFLF, ia mempromosikan, bahwa cabang BFLF sudah ada hampir di seluruh Provinsi Aceh. Dan mereka juga sudah memiliki sebuah Rumah Yatim di Jakarta. Hanya saja, Rumah Yatim yang diberi nama Rumah Yatim BFLF Ar-Raudhoh itu, akan habis masa sewanya.

“Ada 60 anak yatim yang tinggal di sana. 15 orang menetap, dan 45 lainnya pulang pergi. Semua anak di asuh oleh buk Mala. Dia mualaf,” kata Michael.

Katanya, Mala tak hanya menjaga anak-anak, tapi juga sebagai pengajar untuk anak yatim tersebut. Kondisi anak juga berbeda-beda. Salah seorang anak yatim bernama Sulaiman usia 2,5 tahun,  menderita Mikrosefalus,  Serebel palsi dan multimedia, yang mengakibatkan balita itu tidak bisa duduk,  mengunyah serta kepala dan otaknya mengecil. 

“Saya pikir, ini yang paling urgen untuk dipublis. Tolonglah, untuk ditulis dan dishare kepada media. Sebab masa sewanya akan habis bulan Februari 2018 ini,” terangnya.

Cerita Rumah Yatim BFLF Ar- Raudhoh, menjadi penutup awal cerita lima mahasiswa yang sedang magang itu.

Kepada mereka, Michael mengatakan, Rumah Yatim BFLF Ar-Raudhoh berada di jalan Komaruddin I RT. 12 RW 05 No. 54 Penggilingan Jakarta Timur. Serta biaya yang dibutuhkan untuk perpanjangan masa sewa sebesar Rp. 26.500.000.

Kepada yang ingin memberikan sumbangannya, bantuan bisa disalurkan melalui transfer ke BNI Syariah No. Rek.0812608529 AN. Blood For Life Foundation. Dapat mengkonfirmasi kepada, Mala BFLF Jakarta : +6281281239782 atau Michael BFLF Pusat : +6281260852973.[]