Nova: Bidan Garda Terdepan Membentuk Generasi Terbaik Bangsa

Bidan adalah profesi yang selalu bersentuhan langsung, baik pada masa 7 bulan dalam kandungan hingga bayi berusia 2 tahun

Nova: Bidan Garda Terdepan Membentuk Generasi Terbaik Bangsa
Wakil Gubernur Aceh, Nova Iriansyah menyerahkan sertifikat kepada Bidan yang meraih predikat Delima pada pembukaan Rakerda ke 13 dan Hut IBI ke 69 di gedung BKOW Banda Aceh, Sabtu, 18/11/2017.

Nova: Bidan Garda Terdepan Membentuk Generasi Terbaik Bangsa

Bidan adalah profesi yang selalu bersentuhan langsung, baik pada masa 7 bulan dalam kandungan hingga bayi berusia 2 tahun

Banda Aceh - Bidan merupakan garda terdepan dalam membentuk generasi terbaik bangsa. Profesi bidan dinilai memiliki andil besar kepada ibu dan bayi terkait dengan periode emas anak atau 1000 hari pertama kehidupan.

Hal itu disampaikan Wakil Gubernur Aceh, Nova Iriansyah usai membuka secara resmi Rapat Kerja Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Aceh tahun 2017, serta HUT IBI ke-66, yang di pusatkan di Gedung BKOW, Sabtu 18 November 2017.

“Di periode emas ini, Bidan adalah profesi yang selalu bersentuhan langsung, baik pada masa 7 bulan dalam kandungan hingga bayi berusia 2 tahun. Pada periode ini kesehatan ibu dan nutrisi bayi haruslah diperhatikan dengan baik,” ujarnya.

Wagub juga kepada IBI untuk terus memperkuat komitmen dalam peningkatan kapasitas dan perlindungan Bidan di Aceh, sehingga dapat berperan lebih optimal dalam mendukung program kesehatan Aceh.

Nova menambahkan, peran aktif bidan dalam bidang pelayanan kesehatan reproduksi telah diakui sejak lama. Statistik Kesehatan tahun 2007 menunjukkan, bahwa 66 persen persalinan, 93 persen kunjungan masa kehamilan, dan 80 persen pelayanan Keluarga Berencana dilakukan oleh Bidan.

“Bidan juga berperan dalam mendorong pencapaian 53 persen prevalensi pemakaian kontrasepsi dan 58 persen pelayanan kontrasepsi suntik. Hal ini menjadi bukti bahwa eksistensi Bidan semakin memperoleh kepercayaan dari masyarakat,” ungkapnya.

Menurutnya, peran bidan di Aceh sangat terasa karena sebarannya merata di berbagai wilayah. Hingga tahun 2014, jumlah bidan di Aceh tercatat 10.371 orang, atau jika dirasiokan sekitar 211,4  bidan per 100 ribu penduduk.

“Jumlah ini dua kali lipat dari rasio jumlah bidan nasional sebagaimana standar yang ditetapkan WHO, yaitu 100  bidan per 100 ribu penduduk,” imbuhnya.

Wagub juga menjelaskan, bahwa angka ini mengindikasikan tingginya tingkat persaingan bidan di Aceh. Dengan persaingan itu, Wagub berharap kompetisi untuk meningkatkan kualitas kerja juga harusnya lebih ditingkatkan.

“Kualitas itu dapat dilihat dari pencapaian dalam menurunkan  Angka Kematian Bayi (AKB) dan Angka Kematian Ibu (AKI). Alhamdulillah, hasilnya cukup menggembirakan. Terbukti AKB di Aceh tahun 2015 tercatat 12/1000 Lahir hidup, menurun dari tahun 2014 yang berkisar 15/1000 lahir hidup.”

Meski mengalami penurunan, Wagub mengingatkan agar para bidan bersama instansi terkait lainnya untuk terus berbenah karena masih angka tersebut masih tinggi dibandingkan target nasional, yaitu 102/100.000 lahir hidup.

“Oleh sebab itu perlu kerja keras untuk meningkatkan pelayanan bagi ibu dan bayi agar AKI di Aceh bisa turun menjadi 130/100.000 lahir hidup. Untuk itu, para bidan harus memperkuat diri dengan memanfaatkan keberadaan organisasi yang menaunginya,” pungkas Wagub.[]