Orang Miskin, Beras dan Rokok

Oleh : Rustam Efendi (Pengamat Ekonomi Aceh)

Orang Miskin, Beras dan Rokok
Illustrasi: Puntung Rokok

Orang Miskin, Beras dan Rokok

Oleh : Rustam Efendi (Pengamat Ekonomi Aceh)

Publikasi Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh baru-baru ini kembali menghenyakkan kita. Setidaknya, ada dua hal yang membuat kita harus mengernyitkan dahi.

Pertama, persentase kemiskinan Aceh tidak mengalami penurunan disaat anggaran belanja pemerintah bertambah. Angka kemiskinan Aceh pada Maret 2017 menjadi 16,89 %, sementara pada Maret 2016 angkanya 16,43 %. 

Kedua, kelompok makanan adalah yang paling dominan yang menyebabkan seseorang itu miskin. Beras masih penyumbang terbesar terhadap garis kemiskinan di Aceh, baik di perdesaan (26,05 %) maupun di perkotaan (20,24 %). Rokok kretek juga sangat memberi andil (14,28% di desa, dan 13,19 % di kota), selain ikan tongkol, telur ayam ras, kue basah, gula pasir, bandeng, cabe merah, bawang merah, dan beberapa komoditi lain.

Untuk katagori Non-Makanan, perumahan adalah yang paling berpengaruh (5,13 % di desa, dan 6,76 % di kota), selain bensin (3,27 % di desa, dan 3,69 % di kota), pendidikan, listrik, dan beberapa komoditi lain.

Dari situasi ini, sudah dapat dibaca dan diketahui apa sebenarnya yang harus diintervensi Pemerintah Aceh? 

Tidak dapat dinafikan, penyaluran beras kepada orang miskin harus diberi tumpuan serius. Beras harus benar-benar sampai kepada pihak yang tepat, jangan sampai salah sasaran. Raskin yang seharusnya dinikmati oleh orang-orang miskin hendaknya tidak jatuh ke orang-orang yang mampu. Orang yang merasa dirinya sudah mampu, jangan ikut mengambil sesuatu yang bukan haknya. Jatah untuk orang miskin sebanyak 15 kg/KK/bulan, sebaiknya tidak dikurangi. 

Dalam konteks ini, peran Keusyik atau Kepala Desa dan perangkat Gampong amat menentukan. Keusyik dan perangkat Gampong harus jujur dan amanah. Raskin adalah hak si miskin, bukan hak orang lain. 
Karena sentral distribusi terakhir berada di tingkat Gampong, maka konsentrasi pengawasan implementasi aturan harusnya dipusatkan di Gampong, mengingat disinilah sering terjadi "permainan" yang tidak patut selama ini.

Kebijakan membangun rumah-rumah bagi mereka yang miskin, juga upaya yang tepat dan urgen. Apa yang sudah dilakukan selama ini oleh Pemerintah Aceh dapat dilanjutkan. Perlu diterapkan aturan dan sanksi yang tegas bagi pihak yang melanggar, seperti alih-tangan, jual-beli bantuan yang telah diterima/dimiliki. 

Kedepan, Pemerintah Aceh dan Pemkab/Pemko harus lebih cermat dalam proses alokasi anggaran. Sudah waktunya, alokasi anggaran diarahkan untuk kegiatan/proyek yang bisa mengarah pada penciptaan lapangan kerja dan menumbuhkan peluang usaha ekonomi, terutama bagi kepala keluarga miskin yang punya motivasi usaha dan keterampilan. Jika semua ini dipenuhi, saya yakin, jumlah orang miskin di Aceh pada tahun-tahun mendatang akan berkurang.

Dana bantuan desa yang jumlahnya sangat lumayan diterima tiap Gampong setiap tahunnya selama ini, juga dapat dioptimalkan untuk menciptakan proyek/kegiatan yang bersifat 'cash for work'. Para inong balee atau janda miskin, KK miskin, anak-anak muda penganggur yang ada di Gampong, dapat dilibatkan dalam setiap proyek yang menggunakan dana bantuan desa. Tentu, Keusyik dan perangkatnya harus selalu bersikap terbuka dan mengedepankan prinsip musyawarah dalam setiap proses pembangunan Gampong. 

Bagaimana dengan Rokok? Terus terang, mengatasi penyebab buruk ini tidaklah mudah. Yang bisa dilakukan hanya bisa bersifat himbauan saja. Melibatkan para Ulama dalam program sosialisasi dan penyuluhan ini, dapat dipertimbangkan. Tidaklah mudah meminta mereka yang sudah kecanduan untuk berhenti merokok. Ini sama halnya seperti mencabut separuh nyawanya. Karib saya, seorang perokok berat, pernah terbengong-bengong, mukanya pucat, badannya tak bertenaga, ketika dia tiba-tiba berhenti merokok karena arahan dokter. Kondisinya kembali pulih dan segar ketika kembali merokok. Aneh, kan ?

Cara yang juga paling ampuh, adalah dengan memberi contoh yang baik. Menurut saya, sudah saatnya, para Pemimpin kita, mulai dari Gubernur, Bupati, Walikota, Camat, hingga Keusyik, semuanya harus berhenti merokok. 

Jika ini bisa dipraktekkan, saya yakin, orang-orang miskin pasti akan berhenti merokok. Mau percaya, silakan. Jika keberatan, pun tak mengapa.  Jangan marah![]