Orasi Kebangsaan Dari Pemuda Aceh Melawan Radikalisme

Sudah saatnya Generasi Ddarussalam berbenah diri, bahwa tanggung jawab Indonesia, tanggung jawab kenegaran, berada di pundak generasi muda saat ini.

Orasi Kebangsaan Dari Pemuda Aceh Melawan Radikalisme
Ribuan mahasiswa dari dua puluh perguruan tinggi di Banda Aceh dan Aceh Besar melakukan Orasi Kebangsaan. Bertempat di Lapangan Tugu, Darussalam, Banda Aceh, dimulai dari Rektor Universitas Syiah Kuala,

Orasi Kebangsaan Dari Pemuda Aceh Melawan Radikalisme

Sudah saatnya Generasi Ddarussalam berbenah diri, bahwa tanggung jawab Indonesia, tanggung jawab kenegaran, berada di pundak generasi muda saat ini.

Banda Aceh - Tepat delapan puluh sembilan tahun yang lalu, pada 28 Oktober 1928, sebanyak 71 pemuda dari seluruh nusantara, berkumpul dalam sebuah gedung di jalan Kramat raya, Nomor 106 Jakarta. Mereka mengikrarkan janji persatuan, dalam satu ikrar, yang dikemudian hari menjadi embrio lahirnya kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945.

Peristiwa itu, lalu diberi nama Sumpah Pemuda yang diputuskan pada Kongres Pemuda Kedua. Anggota Kongres yang terhimpun saat itu, Jong Java, Jong Ambon, Jong Celebes, Jong Batak, Jong Soematera Bond, Jong Islameitent Bond, Sekar Rukun, Perhimpunan Pelajar-pelajar Indonesia (PPPI), Pemuda Kaum Betawi, dan lain-lain.

Perbedaan agama, bahasa, ras, suku, dan adat istiadat tidak menjadi hambatan bagi pemuda dari seluruh tanah air itu, untuk bersama mewujudkan cita-cita kemerdekaan Republik Indonesia yang akhirnya mewujud nyata lima belas tahun setelah deklarasi Sumpah Pemuda itu di gaungkan.

Seolah tak ingin memadamkan Api Sumpah Pemuda tersebut, lebih dari 3000 Perguruan Tinggi di Indonesia, pada 28 Oktober 2017, melakukan Orasi Kebhinekaan sekaligus Deklarasi Kebangsaan Melawan Radikalisme dan Intoleransi secara serentak di tiga puluh empat provinsi di tanah air.

Hari itu, di bagian paling barat Provinsi Aceh, ratusan mahasiswa dari dua puluh perguruan tinggi di Banda Aceh dan Aceh Besar melakukan Orasi Kebangsaan. Bertempat di Lapangan Tugu, Darussalam, Banda Aceh, dimulai dari Rektor Universitas Syiah Kuala, Prof. Dr. Samsul Rijal, M.Eng, menyampaikan Orasi Kebangsaan kepada ribuan mahasiswa yang duduk santai setelah upacara resmi yang dihadiri oleh Walikota Banda Aceh, dan seluruh civitas akademika.

 

“Mana yang mau jadi presiden tahun 2045?” kata Rektor Unsyiah itu memulai Orasi Kebangsaannya. 

Cuaca yang cukup terik pagi itu, tidak melunturkan semangat mahasiswa untuk tetap antusias mengikuti orasi kebangsaan yang berdurasi kurang lebih dua jam itu. Tak sedikit dari ribuan mahasiswa yang mengacungkan tangannya ke atas, ketika pertanyaan tersebut dilontarkan oleh Samsul Rizal. 

“Bukan tidak mungkin pada 100 tahun Indonesia merdeka pada 2045, akan lahir dari kalian yang hadir disini sebagai Presiden Indonesia. Karena jelas, itu akan lahir dari generasi kalian, bukan dari kami yang sudah tua ini,” sebut Samsul Rizal lantang, yang disambut sorak gembira oleh mahasiswa.

Selain itu ia juga menyampaikan, bahwa perbedaan bahasa, agama, suku, dan adat istiadat dalam sejarah Indonesia, menunjukkan fakta bahwa hal tersebut tidak menjadi sekat dan batasanbagi pemuda Indonesia untuk bersatu menjadi sebuah negara besar, yaitu Negara Indonesia.

Ia juga menyebutkan, pada peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia pertama, Bung Karno pernah berpesan, jangan mewarisi abu Sumpah Pemuda, tapi warisilah Api Sumpah Pemuda. Sebab, jika kalian mewarisi Abu, maka saudara-saudara sekalian akan puas dengan Indonesia yang sekarang.

Orasi tersebut dilanjutkan oleh Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry yang diwakili Wakil Rektor III, Prof. Dr. Syamsul Rijal, M.Ag. Ia mengatakan, bahwa Generasi Darussalam adalah generasi yang mampu melawan radikalisme dan intoleransi. 

“Manusia bijak dan manusia sukses adalah manusia yang mampu merespon keadaan dan memikirkan masa depannya,” kata Wakil Rektor III UIN Ar-Raniry.

Ia melanjutkan, sudah saatnya Generasi Ddarussalam berbenah diri, bahwa tanggung jawab Indonesia, tanggung jawab kenegaran, berada di pundak generasi muda saat ini. Itu sebabnya, lanjut Syamsul Rijal, segera benahi diri, dengan ilmu.

Tak ketinggalan, Orasi Kebangsaan tersebut juga dilanjutkan dengan Deklarasi Kebangsaan Perguruan Tinggi Se-Indonesia Melawan Radikalisme, oleh perwakilan Pemuda Aceh, Muhammad Riza. Ada tiga inti deklarasi tersebut yang dia bacakan secara lantang di depan Pemuda Aceh lainnya.

Bahwa Perguruan Tinggi adalah pusat pengembangan ilmu pengetahuan, Teknologi dan seni yang bertujuan meneggakkan serta memberikan manfaat sebesar-besarnya, bagi bangsa, negara dan kemanusiaan.

Bahwa muncul kecenderungan dan berkembangnya ajaran-ajaran, atau faham yang bersifat radikal di Indonesia yang mengajarkan kekerasan dalam mencapai tujuan, yang mengatasnamakan suku, agama ras, dan antar golongan, yang bertentangan dengan Pancasila, adalah keadaan yang membahayakan bangsa, negara dan kemanusian.

 Bahwa Perguruan Tinggi se-Indonesia harus mengambil sikap jelas dan tegas dalam melawan radikalisme dan mengambil peran nyata, dalam membela Pancasila dan keutuhan Negara Kesatuan RI sebagai wujud kepedulian dan tanggung jawab, kepada bangsa dan negara Indonesia.

“Atas dasar tersebut dan dengan rahmat Tuhan yang maha Esa, kami pimpinan perguruan tinggi se Aceh, menyatakan, Satu idoelogi, PancasilaSatu konstitusi, UUD Negara RI 1945Satu negara, negara Kesatuan Republik Indonesia, Satu semboyan, Bhineka Tunggal IkaSatu tekat, melawan radikalisme dan intoleransi,” ungkap Riza, dengan langtang yang di ikuti oleh seluruh Pemuda Aceh di Lapangan Tugu Darussalam.[]