Panggilan Puncak Lancuk Leweng

Panggilan Puncak Lancuk Leweng

Panggilan Puncak Lancuk Leweng

Bermula dari keingintahuan saya dan teman-teman saat melihat sejumlah orang yang tampak berkumpul untuk mendaki bukit terjal bernama Lancuk Leweng di Desa Asir-asir Kecamatan Lut Tawar Kabupaten Aceh Tengah. Kami pun menyepakati mencoba menelesuri rasa penasaran sembari mencari tahu keindahan apa yang ditawarkan di atas sana. Siapa tahu jika tempatnya bagus kami bisa mengajak keluarga untuk kembali ke lokasi wisata baru di kota dingin  itu.

Pukul 11.30 WIB kami pun memulai pendakian dengan menitipkan sepeda motor di rumah teman yang baru pindah dan ikut mendaki. Keberadaan rumahnya tidak jauh dari area parkir yang disediakan pengelola wisata. Menurut informasi, jika ada yang ingin mendaki, biasanya masyakarat menawarkan penitipan kendaraan di lapangan yang dikelola pemuda setempat dengan biaya Rp 5.000. Dikarenakan jalan yang akan dilalui nantinya lumayan terjal dan licin sehingga tidak memungkinkan jika menggunakan sepeda motor maupun mobil.

50 meter awal pendakian di kaki bukit, kami pun disuguhi rambu penunjuk arah menuju puncak. Namun pada papan rambu terdapat beberapa arah lain dengan dibumbui tulisan nama beberapa negara seperti Australia, Turkey dan beberapa negara lain hingga membuat kami ketawa dan menyempatkan diri mengabadikannya dengan kamera ponsel.

Tidak jauh dari sana, kami menemui beberapa kendaraan terparkir di sisi jalan. Dan kami yakin jika itu kendaraan pengunjung yang memaksa mendaki menggunakan sepeda motor, namun akhirnya tidak dapat melalui jalan yang semakin terjal dan licin. Meski demikian kami juga menemui beberapa sepeda motor lain yang menawarkan tumpangan pada pendaki yang tidak mampu mencapai puncak dengan tarif Rp 15.000 untuk sekali jalan. Mereka adalah tukang ojek yang sudah menguasai seluk-beluk lintasan dan menyiapkan mesin motor sesuai dengan medan menuju puncak Lancuk Leweng.

Sepanjang jalur pendakian, kami menemui sejumlah pengujung dari berbagai usia. Mulai anak-anak hingga usia dewasa.  Selama pendakian kami juga beberapa kali berhenti dan memantau siapa saja yang merasa letih dan perlu istirahat. Kami menerapkan pesan senior sewaktu saya mendaki Gunung Merapi di Padang Panjang kala masih duduk di bangku SLTP Berhenti mengikuti yang paling lemah, bukan mengikuti yang paling kuat”.

Sekitar seperempat perjalanan menjelang puncak. Kami kembali menemui area parkir. Ternyata ini adalah jalur terakhir yang bisa dilewati ojek sepeda motor, dikarenakan jalur setelahnya jauh lebih sempit dan terjal. Bahkan beberapa jalur tak bisa digunakan untuk dua orang dengan tujuan berlawanan. Sehingga salah satu harus berhenti dan memberi jalan bagi yang lain. Hal itupun sempat membuat beberapa di antara kami merasa khawatir, namun rasa penasaran kembali membuat kami bertekat melanjutkan pendakian hingga puncak.

Akhirnya rasa lelah dan was-was selama pendakian pun terjawab dengan pemandangan indah yang kami temui setiba di puncak. Bahkan pendakian selama satu jam itu pun lunas terbayarkan dengan keindahan yang disajikan Lancuk Leweng. Ternyata di puncak sudah ramai pengunjung yang mendahului kami. Bahkan di antara mereka juga tampak anak-anak yang tampak ceria sambil mengabadikan momen puncak Lancuk Leweng bersama keluarga mereka.

Setelah beberapa saat melepas lelah, kami pun melaksanakan shalat zuhur berjamaah bersama para pengunjung lain. Meski hanya menggunakan matras, kain, bahkan jaket sebagai alas. Ibadah kali ini jauh lebih berkesan.

Usai melaksanakan shalat zuhur. Kami pun tidak mau meninggalkan kesempatan mengabadikannya lewat kamera ponsel, sembari berpose di tulisan “I Love Gayo” dan latar belakang Kota Takengon yang sejuk dan menawan.

Puas berfoto dan melihat jarum jam sudah menujukkan pukul 14. 45 WIB. Kami sepakat memilih untuk kembali pulang dengan menuruni bukit yang sebelumnya telah kami lewati. Perjalanan kali ini terasa lebih cepat dikarenakan medan yang menurun. Sepanjang jalan pulang kami menemui beberapa pengunjung yang ingin mendaki dengan rasa penasaran tinggi. Bahkan beberapa di antara mereka sempat bertanya “masih jauh tidak? Sembari memberi semangat kami pun menjawab “Semangat saja, Insya Allah sampai”. 

Sesampai di kaki bukit, kami pun mendapat sapaan ramah pemuda setempat yang mengelola wisata pendakian. Sambil tersenyum mereka pun menawarkan air mineral dan stiker bertuliskan “Lancuk Leweng” secara gratis. (Ansor)