Pembebasan Al Quds pada Masa Umar bin Khattab

Dengan nama Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang, Inilah jaminan keamanan yang diberikan oleh hamba Allah, Umar Amir al Mu’minin, terhadap penduduk Iliya (Al-Quds)

Pembebasan Al Quds pada Masa Umar bin Khattab
Masjidil Al Aqsa/ Al Quds (alecso.org)

Pembebasan Al Quds pada Masa Umar bin Khattab

Dengan nama Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang, Inilah jaminan keamanan yang diberikan oleh hamba Allah, Umar Amir al Mu’minin, terhadap penduduk Iliya (Al-Quds)

Menjelang perang Yarmuk, Umar bin Khattab menggantikan tampuk pimpinan pasukan Islam di Syam dari Khalid bin Walid kepada Abu Ubaidah bin Al-Jarrah. Namun Abu Ubaidah tidak mau memberitahukan kepada Khalid serta mereka sampai ia mengetahui sendiri berita itu. Saat Khalid tahu berita itu, ia menegur Abu Ubaidah padahal kekuasaan itu kini di tangannya. Abu Ubaidah mengatakan kepada Khalid, “kekuasaan dunia bukan yang aku inginkan, bukan untuk dunia aku beramal. Kita semua sesungguhnya adalah dua saudara yang menegakkan kebenaran atas perintah Allah.” Ini menunjukkan bahwa mereka paham benar misin peperangan bukan untuk dunia tapi semata-mata menegakkan agama Allah.

Beberapa kekalahan Romawi di perang pemanasan itu, raja Romawi yang masih tinggal di Antakia menghimpun seluruh kekuatannya untuk berperang mengadapi umat Islam. Pasukan Romawi dalam perang Yarmuk saat itu berjumlah antara 200 ribu lebih pasukan. Mendengar jumlah pasukan Romawi yang begitu besar, Abu Ubaidah memberikan wejangan agar banyak bersabar. Ia mengirim surat kepada Umat meminta bala bantuan, namun sang Khalifah hanya bisa memberikan dukungan moril dan semangat karena pasukan Romawi sudah dekat, “jangan melemahkanmu jumlah mereka, Karena Allah berlepas dari mereka.”

Ada peristiwa menarik menjelang perang Yarmuk. Komandan sayap kiri pasukan Romawi, Darnajar mengirim mata-mata ke barisan umat Islam. Setelah tinggal selama satu malam, mata-mata itu melaporkan kepada komandannya, “saya menemukan kaum yang bangun malam untuk shalat semuanya, siang hari mereka berpuasa, memerintahkan kepada kebaikan dan melarang kemungkaran, seperti rahib di malam hari dan singa di siang hari. tak ada yang mencuri di antara mereka kecuali tangannya dipotong, jika ada yang berzina, mereka merajamnya karena lebih mementingkan kebenaran.”

Maka Darnajar mengatakan, “jika benar yang kamu katakan, perut bumi lebih baik – bagi orang yang memerangi mereka – dibanding permukaannya.”

Perang Yarmuk pun meletus pada Senin, 5 Rajab 15 H (Agustus 636). 120 ribu pasukan artileri, ditambah 80.000 pasukan berkuda Romawi bertemu dengan 36.000 pasukan Islam. Abu Ubaidah berkeliling di tengah-tengah pasukan Islam berpesan, “tolonglah Allah, Allah akan menolong kalian dan mengokohkan kaki-kaki kalian. Janji Allah pasti benar, umat Islam sabarlah karena kesabaran itu menyelamatkan.” Orasi juga disampaikan oleh Muadz bin Jabal, Amr bin Al-Ash. Perang berkecamuk dan umat Islam bertahan di tengah gempuran pasukan Romawi. Ratusan ribu pasukan Romawi tewas dan sisasnya melarikan diri. Sementara sekitar 3000 pasukan islam gugur syahid dalam perang menentukan ini.

Setelah Umat Islam memperoleh kemenangan di perang Yarmuk, Abu Ubaidah memerintahkan Khalid bin Walid untuk keluar menuju Homs, sedang Abu Ubaidah menggerakan pasukan mujahidin ke Damaskus.

Abu Ubaidah membagi Syam menjadi beberapa wilayah:

– Damaskus dan sekitarnya dengan komandan Yazid bin Abu Sufyan.

– Yordania dan sekitarnya dibawah komando Surahbil bin Hasnah.

– Sedangkan Abu Ubaidah berada di Homs dan sekitarnya.

Dengan izin Allah, seluruh komandon berhasil membersihkan daerah dari tentara Romawi dan pengikut mereka, maka tidak tersisa di depannya selain pembebabasan Al-Quds.

Abu Ubaidah Al Jarrah mengepung Baitul Maqdis selama 6 bulan. Perjuangan mereka tak sia-sia. Saat itu, udara dingin musim semi April tahun 637, menjadi saksi bahwa umat Islam akhirnya dapat bersujud tenang di Al Aqsa. Penjaga kunci kota Al Quds, Pendeta Sophronius mensyaratkan tidak akan menyerahkan kunci kecuali kepada sesorang yang memenuhi syarat tertentu, para ahli sejarah bebrbeda pendapat tentang sifat tersebut,ada yang menyebutkan bahwa mereka mensyaratkan 3 huruf dalam nama orang tersebut.ala kulli hal, kaum muslimin mendapatkan sifat tersebut pada Amirul Mukminin Umar bin Khattab, Abu Ubaidah berkirim surat pada Umar di Madinah.

Tak lama, Umar bin Khattab berangkat dari Kota Nabi, Madinah, Umar tidak langsung masuk ke Baitul Maqdis, namun ia terlebih dahulu ke Jabiya dan kaum muslimin telah menyambutnya disana, bersama Abu Ubaidah, Khalid bin Walid, Yazid bin Abu Sufyan, ketika melihat Umar, Abu Ubaidah ingin mencium tangannya namun ditolak Umar, begitu juga Umar ingin mencium telapak Abu Ubaidah namun ditolaknya.

Kemudian Umar berkhutbah di Jabiyah,

“Wahai jamaah sekalian, perbaikilah hal-hal yang tersembunyi dari kalian maka akan baik pula yang tampak dari diri kalian, berbuatlah untuk akhirat maka urusan dunia akan tercukupi, ketahuilah bahwa seseorang itu tidak ada diantaranya dengan adam seorang bapak yang hidup pasti bernasab pada kematian, siapa yang ingin mendapat jalan ke surga hendaklah senantiasa bersama jamaah, sesungguhnya setan bersama orang  yang sendiri, dan dia lebih menjauh dari orang yang berdua. Tapi jangan sekali-kali berduaan dengan perempuan, karena setan menjadi yang ketiga. Siapa yang senang dengan kebaikannya dan sedih atas keburukannya menandahkan bahwa dia adalah seorang mukmin.”

Pejanjian Umariyyah

Pemimpin Al-Quds saat itu datang ke Jabiyah menemui Umar, tanpa ragu ia serahkan kunci kota al-Quds. Tanpa ragu ia tanda tangani kesepakatan dengan jaminan keamanan dan kebebasan beribadah di sana. Perjanjian itu dikenal dengan al-‘uhdah al’umariyah.

“Dengan nama Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang, Inilah jaminan keamanan yang diberikan oleh hamba Allah, Umar Amir al Mu’minin, terhadap penduduk Iliya (Al-Quds),

Aku memberikan jaminan keamanan bagi jiwa raga dan harta benda mereka. Untuk gereja-gereja serta tiang-tiang salib mereka. Yang sakit maupun yang sehat, serta seluruh tradisi kepercayaan mereka.

Gereja-gereja mereka tidak akan diduduki atau dihancurkan, tidak akan dikurangi ataupun dirubah. Tidak akan dirampas salib maupun harta benda mereka, walaupun sedikit. Mareka tidak akan dimusuhi kerena keyakinan agamanya, dan tidak akan diganggu atau diancam seorangpun dari mereka. Dan tidak diizinkan bangsa Yahudi untuk tinggal bersama mereka di Iliya, meskipun hanya satu orang.

Terhadap penduduk Iliya, mereka harus membayar jizyah, sebagaimana pernah diberikan oleh penduduk kota-kota yang lain. Mereka juga harus mengusir bangsa Romawi dan kaun Lushut. Siapa diantara mereka yang keluar, dijamin aman nyawa serta hartanya, hingga mencapai tempat aman mereka. Dan siapa yang tetap tinggal diantara mereka, diapun dijamin aman. Hanya saja ia dikenakan jizyah, sebagaimana yang diwajibkan terhadap penduduk Iliya.

Apa yang tertuang dalam surat perjanjian ini dilindungi oleh janji Allah, jaminan Rasul-Nya, jaminan para khalifah, serta jaminan kaum mu’minin, jika mereka memberikan jizyah (pajak) yang dikenakan atas mereka. perjanjian ini disaksikan oleh Khalid bin Walid, ‘Amru bin ‘Ash, Abdurrahman bin ‘Auf, dan Mu’awiyah bin Abi Sufyan. Dan dituliskan pada tahun 15 Hijriyah.”

Maka dengan itu kunci Al-Quds diserahkan ke Umar bin Khattab, kaum muslimin pun tidak sabar untuk memasuki tanah suci, dan melihat Masjid Al-Aqsa, sejak itulah bangsa Palestina masuk Islam berbondong-bondong dan sejak itu pula Islam mengakar di Palestina dan peradaban emas terbangun di sana.[]

Sumber: Panjimas