Pengumuman Kelulusan 20 Besar Calon KIP Bener Meriah Tuai Protes

Atas keputusan tim Pansel, Peserta merasa dirugikan.

Pengumuman Kelulusan 20 Besar Calon KIP Bener Meriah Tuai Protes

Pengumuman Kelulusan 20 Besar Calon KIP Bener Meriah Tuai Protes

Atas keputusan tim Pansel, Peserta merasa dirugikan.

Bener Meriah -  Panitia Independen penjaringan dan penyaringan (Pansel) calon anggota Komisi Independen Pemilihan (KIP) Kabupaten Bener Meriah, pada Senin 24 September 2018 mengumumkan 20 peserta yang lulus dari 35 peserta yang mengikuti tahapan tes tulis untuk calon KIP periode 2019-2024.

Tersisanya 20 besar calon KIP Bener Meriah yang diumumkan tim Pansel tersebut menuai protes dari beberapa calon peserta yang tersingkir. Di antaranya Alamri dan Idaham Watan.

"Sesuai dengan surat edaran tim Pansel yang distempel pada hasil tes itu akan menyisakan 30 besar sesuai dengan Undang-undang nomor 6 tahun 2016, tapi pada kenyataan tim Pansel hanya menyisakan 20 besar," kata Alamri, saat dikonfirmasi, Selasa 25 September 2018.

"Keputusan tim Pansel terkait mengumumkan 20 besar, apakah ada permainan elit?," cetusnya.

Alamri menegaskan, atas keputusan tim Pansel tersebut dirinya merasa sanggat dirugikan sebagai peserta. 

"Intinya pada ujian tulis panitia mengambil 30 besar sesuai dengan undang undang, namun ketika undang undang itu dilanggar kita menduga ada permainan. Dan ini menunjukkan langkah awal menuju tindakan yang negatif, oleh sebab itu kami sebagai peserta merasa dizalimi," sebutnya.

Sementara itu, Ketua Pansel Effendi saat dikonfirmasi Selasa (25/9) menyebutkan, pengumuman 20 besar calon anggota KIP adalah berdasarkan standar nilai yang telah ditentukan dalam rapat pleno Pansel.  

"Dalam rapat pleno standar nilai yang kami tentukan adalah ambang batas terendah 70 persen dan tertinggi 150 persen," ujarnya.

Lanjut Effendi,  Yang mencapai nilai 70 persen ke atas hanya 20 peserta, sedangkan 15 peserta lainnya hanya memperoleh 69 persen ke bawah.

Dia menambahkan, dasar perekrutan adalah Qanun Nomor 6 Tahun 2016, di mana dalam qanun tersebut dijelaskan akan mengumumkan tanggal hasil tes tulis dan jumlah peserta yang lulus maksimal 30 besar.

"Dalam Qanun Nomor 6 Tahun 2016 kita mengumumkan tanggal dan maksimal 30 besar, namun pada kenyataan kita hanya mengumumkan 20 besar yang meraih nilai minimal 70 persen dan itu sama sekali tidak melanggar Qanun.  Karena di situ ditulis tepatnya dapat huruf F mengumumkan batas maksimal 30 besar bukan harus 30 besar," terangnya.

Terkait keputusan tersebut Kata Efendi, pasti banyak yang bertanya, namun pihaknya tetap memegang regualasi Qanun tentang stadar penilaian mulai dari tahapan tes mampu baca Alquran dan tes tulis untuk nilai paling rendah ambang batas 70 persen sedangkan paling tertinggi 150 persen.

"Penetapan 20 orang itu, karena kita  telah sepakati standar nilai melalui rapat pleno. Jadi kita tidak serta merta untuk menyisakan 20 besar," pungkas Effendi.[]