Perempuan India di Negeri Syari' at

“Kita kan sesama umat beragama. Ini ritual keagamaan kami"

Perempuan India di Negeri Syari' at
Salah seorang gadis India mengikuti dengan khitmat upacara Pangguni Uthiram di Gampong Keudah. [Foto: Desi Badrina]

Perempuan India di Negeri Syari' at

“Kita kan sesama umat beragama. Ini ritual keagamaan kami"

RANI berdiri di seberang Kuil Shri Palena Andewar. Ia mengenakan satu setel salwar suit berwarna biru tua. Yaitu celana panjang berbahan kain, dan kameez, mirip blus berlengan tiga perempat. Potongan kameeznya menjulur sebatas lutut. Selembar dupatta mirip selendang, tersampang di leher. Dalam busana sembahyang khas Umat Hindu India, ia tak mengenakan alas kaki.

Lantunan puji-pujian atas kemenangan Dewa Muruga diiringi tabuhan gendang tujuh lelaki remaja di dalam kuil terdengar energik. Membuat tubuh perempuan yang usianya belum lagi setengah abad itu, sesekali bergoyang. Tahun ini, ia dan keluarganya mengikuti Ritual Pangguni Uthiram bersama keturunan Etnis India, Tamil, di Banda Aceh.

“Mereka yang di dalam kuil, berpuasa sampai empat puluh hari. Saya hanya berpuasa tiga hari saja,” kata Rani tersenyum.

Sebelum mengikuti ritual Pangguni Uthiram, semua Umat Hindu diwajibkan berpuasa. Pilihannya macam-macam. Bila ada yang punya nazar besar, biasanya mereka berpuasa sampai 40 hari. Tapi, ada pula yang hanya berpuasa tiga hari, atau satu hari. Sesuai dengan kemampuan dan kesehatan diri.

Dalam ritual seperti ini, biasanya perempuan memiliki peranan besar. Salah satunya mempersiapkan makanan vegetarian. Secara gotong-royong perumpuan tua muda membuat masakan untuk mereka santap pada hari puncak Pangguni Uthiram.    

Rani dan keluarganya berdomisili di Medan. Mereka tiba di Banda Aceh pada Sabtu pagi untuk mengikuti serangkaian ritual Pangguni Uthiram yang berlangsung Sabtu malam, dan berakhir Minggu siang, 8 April.

Rani takjub melihat antusias masyarakat Aceh. Katanya, penonton ramai dan semarak. Bila orang Aceh melihat ritual mereka sebagai tontonan, ia malah menonton tontonan tersebut. Ia terlihat hanyut dalam puji-pujian kepada Dewa mereka.

Seorang ibu-ibu yang menonton tak jauh dari tempat Rani berdiri, menanyakan tentang ritual tersebut. Ia meladeni pertanyaan dengan ramah.

“Kita kan sesama umat beragama. Ini ritual keagamaan kami. Kami senang melihat banyak orang yang menonton. Doa yang kami tujukan juga untuk keselamatan orang Aceh. Kami berharap bencana seperti tsunami tak akan melanda Banda Aceh lagi,” katanya.

Disebelah Rani, berdiri pula kakak Iparnya. Namanya Susila. Usianya terpaut tiga tahun lebih tua dari Rani. Mendapati perempuan muda berjilbab menyapanya, ia senang luar biasa. Pertanyaan yang didapat, bukan soal ritual, tapi budaya India dan asesoris yang mereka pakai.

“Ibu, itu yang dikening namanya apa bu?” Tanya Darashynny pada Susila.

Darashynny perempuan 25 tahun, asal Banda Aceh yang sejak pagi ingin melihat ritual ibadah Etnis India. Sedari pagi, ia duduk di seberang kuil. Tak ada yang bisa dilihat karena Umat Hindu masih bersembahyang di dalam kuil. Hingga beberapa perempuan berpakaian warna-warni keluar dari kuil termasuk Rani dan Susila.

“Ini namanya bindi. Fungsinya sebagai pelindung kalau ada orang mau buat jahat sama kita,” jelas Susila sambil menunjuk titik merah tepat di antara dua alis hitamnya.

“Kalau yang di rambut ini lain lagi. Namanya sindoor. Tanda untuk orang yang sudah menikah,” lanjut Susila memperlihatkan warna merah berupa serbuk di kening atas yang bersentuhan dengan kulit kepala dan rambutnya.  

Darasynny yang sejak awal sudah memperhatikan semua yang dikenakan Rani dan Susila manggut-manggut faham. Saat Rani menawarinya stiker bindi warna merah sama seperti yang dikenakannya kepada Darasynny, perempuan berjilbab itu, tak langsung mengiyakan.

“Ini boleh dipakai kok. Hanya stiker. Saya bawa dari Malaysia. Sini saya pakaikan,” kata Rani sambil mengeluarkan sebungkus plastik kecil. Isinya belasan stiker bindi.

Mendengar penjelasan Rani, Darasynny dengan senang mendapatkan hadiah tersebut. Layaknya seorang ibu di film-film Bolywood yang memakaikan bindi pada anaknya, Darasynny pun pagi itu mendapatkan perlakuan budaya India langsung dari perempuan keturunan India.

Sebagai kenang-kenangan pernah dipakaikan bindi lansung oleh keturunan India, Darasynny meminta kesediaan Rani berfoto bersama.

“Tolong fotokan. Ini bukti pernah pakai bindi,” kata perempuan Aceh satu ini.

Meski belum pernah ke India, Darasynny hari itu, merasakan sensani di India lewat perempuan keturunan India seperti Rani dan Susila. Pakaian khas sembahyang perempuan India yang penuh warna lengkap dengan asesoris, membuat warga di “Negeri Syariat” seperti Darasynny merasakan sehari Gampong Kedah, berubah menjadi Gampong India.[]