Perjalanan Daging Anjing di Medan, dari Pasar hingga Piring Makan (2)

Arman Peranginangin (43) mengaku sudah makan daging anjing dari kecil.

Perjalanan Daging Anjing di Medan, dari Pasar hingga Piring Makan (2)
Pedagang daging babi dan anjing di Jalan DI Panjaitan, Siantar, Sumatera Utara.(KOMPAS.com/Mei Leandha)

Perjalanan Daging Anjing di Medan, dari Pasar hingga Piring Makan (2)

Arman Peranginangin (43) mengaku sudah makan daging anjing dari kecil.

Medan - Di Pajak Pancurbatu di Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara, anjing-anjing yang dijajakan terbungkus karung dan terikat tali. Tak jauh dari situ ada anjing-anjing berjejal di dalam kandang dari kawat atau besi.

Mereka dijual untuk dikonsumsi dengan harga mulai Rp 40.000 per kilogram.

Di Medan, berbagai rumah makan dan lapo tuak yang menyajikan hidangan daging anjing. Meski terang-terangan menjual menu daging anjing, banyak pemilik warung yang enggan berbicara dan ketakutan. Begitu pula penikmatnya.

Namun, ada juga para penikmat yang secara terbuka mengakui alasan mereka menyukai menu daging anjing. Apa kata mereka?

Arman Peranginangin (43) mengaku sudah makan daging anjing dari kecil. Di keluarganya, kebiasaan menyantap menu daging anjing ditularkan dari ayahnya.

Perjalanan  Daging Anjing di MEdan, dari Pasar hingga Piring Makan (1)

Keluarganya dikenal ke seluruh kampung karena sering memotong anjing dan mengundang para tetangga untuk ikut menyantapnya. 

“Dari kecil, aku sudah makan daging anjing, minimal sebulan sekali. Gara-gara suka memotong anjing, kami jadi terkenal di kampung. Apalagi, ayahku suka mengundang para tetangga kami,” kenangnya.

Kebiasaan masa kecil ini terus terbawa hingga sekarang. 

“Kebiasaan ini tak bisa kutinggalkan. Bawaan badan dan hati kayaknya harus makan daging anjing aku. Itu pun sudah kukurangi. Maklum, usia makin tua, ketahanan fisik menurun. Sekarang kalau sudah kebanyakan makan daging anjing, kepalaku pusing dan pundak terasa berat. Sebelumnya, sikat terus,” kata Arman.

Ayah satu anak yang tinggal di kawasan Johor, Kota Medan, ini mengaku tidak seperti ayahnya yang memotong sendiri anjing yang hendak mereka makan. Arman memilih makan di rumah makan khas Karo yang biasa juga menyajikan menu babi panggang karo (BPK) yang menyediakan daging anjing. 

“Aku suka kali daging anjing panggang. Sekali makan bisa dua porsi, satu porsi dagingnya dan satu porsi lagi bagian dalam, hati, usus, dan jantung. Sekali makan habislah Rp 50.000,” ucapnya.

Pria yang sehari-hari bekerja sebagai eksportir karet ini mengaku hapal lokasi rumah makan yang menyediakan menu daging anjing yang enak di sekitar Kota Medan dan Kota Binjai, dan dia lebih suka menyantap daging anjing sebelum matahari terik, sekitar pukul 10.00 pagi. 

“Dagingnya harus segar, baru dipotong, bukan sisa kemarin. Pernah ketahuan aku pemilik rumah makan mencampur dagingnya, marah aku. Heran yang punya rumah makan, kok tahu aku. Sejak itu, selalu dikasihtahunya aku sebelum disajikan,” ucapnya.

Sementara itu, Damai Mendrofa yang tinggal di Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, mengatakan, dia sekeluarga percaya bahwa daging anjing membawa manfaat.

”Untuk anak-anak, daging anjing menyembuhkan demam. Untuk orang dewasa, menambah daya tahan tubuhnya,” tuturnya.

Di daerahnya, peminat daging anjing cukup banyak. Harga daging anjing yang masih hidup sekilonya sekitar Rp 25.000. Sementara menu daging anjing yang sudah masak harganya Rp 15.000 seporsi. 

“Satu porsi itu sedikit, hanya sepiring kecil. Kalau pas selera, enaknya digoreng dan dimasak pakai bumbu saksang. Terus makannya pakek(pakai) sambal cabe, potongan asam dan kecap asin,” kata Damai.

Seusai menyantap hidangan tersebut, ayah tiga anak ini mengaku merasakan hangat di sekujur tubuh. Dia lebih menyukai daging anjing daripada babi. 

Damai menjelaskan, daging anjing lebih berserat ketimbang daging babi. Memang, daging anjing bisa lebih amis, namun mereka yang sudah terbiasa mengolahnya bisa membuat menu daging anjing tanpa bau amis.

Dia mengaku tidak takut dengan ancaman rabies jika salah memakan daging anjing yang terjangkit penyakit anjing gila itu.

“Rabies itu kalau yang makan anjing gigit anjing lain, rabieslah anjingnya,” ungkapnya.[]kompas.com