Pesta Panen Zea Mays Mahasiswa Pertanian

Sebelum pesta panen, nantinya mahasiswa akan ujian final. Dan itu langsung dilakukan di kebun hasil praktikum mereka, kata Hadianur

Pesta Panen Zea Mays Mahasiswa Pertanian
Jagung manis atau Zea Mays salah satu tanaman pangan yang memiliki nilai jual tinggi secara komersial. Foto : 2scale.org

Pesta Panen Zea Mays Mahasiswa Pertanian

Sebelum pesta panen, nantinya mahasiswa akan ujian final. Dan itu langsung dilakukan di kebun hasil praktikum mereka, kata Hadianur

SATU diantara sekian banyak komoditi tanaman pangan yang mengambil peran dalam membangun sektor pertanian dan memiliki nilai jual tinggi adalah Jagung manis atau Zea Mays. Keistimewaan rasa manis yang terkandung dalam bulir jagung, menjadikan tanaman asal Mexiko dan Amerika ini cukup favorit untuk diolah menjadi berbagai jenis makanan.

Di Aceh, tak terlalu sulit menemukan jagung manis yang diolah dengan cara dibakar atau direbus. Di Banda Aceh dan Aceh Besar misalnya, mudah menjumpai pedagang jagung manis bakar di pinggir pantai, atau diseputaran jalan Nasional Banda Aceh-Medan. 

Memasuki kawasan Puncak Seulawah, jagung manis ini, dijual dalam bentuk rebusan. Biasanya, pedagang menenteng jagung yang direbus dengan kulit itu, dalam wadah plastik. Lalu, besamaan dengan oleh-oleh keripik, tapai ubi, atau makanan lainnya, jagung manis rebus bersaing untuk mendapatkan perhatian penumpang travel yang singgah untuk membeli jajanan.  

Harga persatu tongkol jagung manis, jika dibeli dipasar tradisional mencapai seribu lima ratus rupiah atau dua ribu rupiah per tongkolnya. Bila jagung manis sudah direbus atau dibakar, harganya tak jauh dari lima ribu rupiah sampai enam ribu rupiah perolahan. 

Jagung manis yang ditanam musiman oleh masyarakat Aceh, menyebabkan pasokan jagung bakar di seputaran Banda Aceh dan Aceh Besar lebih sering dipasok dari provinsi tetangga. Hal itu disampaikan Wakil Dekan III Pertanian Universitas Syiah Kuala, Syafruddin saat mendampingi 200 mahasiswa dari Jurusan Agroteknologi dan Agribisnis dalam matakuliah praktikum penanaman jagung manis dengan berbagai perlakuan. 

Ia mengatakan, masyarakat Aceh belum melirik serius sektor pertanian jagung manis sebagai bisnis untuk meningkatkan tarah ekonomi masyarakat. Itu sebabnya, hasil penelitian selama 18 tahun itu ia kembangkan dengan cara memasukkan praktikum jagung manis dalam kurikulum belajar di Fakultas pertanian. 

Praktikum jagung manis yang tertuang dalam matakuliah Dasar-Dasar Agronomi itu, menjadi matakuliah wajib hampir seluruh prodi di Fakultas Pertanian Unsyiah. Ia yakin, dengan mengajak mahasiswa familiar dengan komuditas tanaman pangan terbesar setelah gandum dan padi ini, akan lahir produsen jagung manis di Aceh.   

Syafrudin mengatakan, sejak lahan di belakang gedung Pertanian Unsyiah dibuka pada 2002 sebagai media praktikum, jagung manis dengan masa panen 75 hari, menjadi satu-satunya tanaman yang cocok untuk sumberdaya lahan permanen untuk tetap produktif dan dapat memperbaiki kondisi lingkungan.

“Saya sudah 18 tahun mengajar soal jagung manis. Sejauh ini, hanya tanaman jagung manis yang cocok dengan agroekologi di daerah kita untuk bahan praktikum mahasiswa,” terang Wakil Dekan III Pertanian itu. 

Ia menyebutkan, nilai jual jagung manis perkilogramnya yang mencapai dua belas ribu rupiah dengan masa panen dua bulan setengah itu, sangat menguntungkan para petani jika hal tersebut dilirik sebagai bisnis. 

Mahasiswa yang mengikuti praktikum itu, tak hanya belajar budidaya jagung manis, tapi mereka juga belajar agromarketing, dengan cara menjual langsung hasil panen mereka kepada pembeli untuk menumbuhkan sifat wirausaha dalam jiwa pentani muda itu

Minggu ketiga Oktober, sudah terhitung lebih 35 hari usia tanaman jagung manis itu. Tinggi batangnya sudah hampir sepinggang orang dewasa. Taksiran mereka, panen akan berlangsung pada akhir November mendatang. 

“Setiap kali panen, mahasiswa akan buat pesta panen hasil dari menjual jagung manis. Berdasarkan pengalaman, jagung mereka habis terjual dalam satu jam. Karena, jagung manis ini tak selalu ada di pasaran,” jelasnya.

Besar harapan lelaki yang mendedikasikan dirinya selama 18 tahun untuk pengembangan jagung manis ini, akan lahir produsen jagung manis di Aceh, lewat 200 mahasiswa bimbingannya. Ia juga berharap mahasiswa dapat mengembangkan ilmu pertanian di daerah mereka.

Selain mendampingi praktikum mahasiswa dalam penanaman jagung manis, Syafruddin juga memiliki petani dampingan di Desa Blang Krueng, Kecamatan Baitussalam, Aceh Besar, yang menanam jagung manis, melon, dan cabai. Tujuan pembinaan itu, terang dia untuk meningkatkan taraf ekonomi masyarakat gampong yang tinggal berdampingan dengan lingkungan kampus Darussalam.

“Masalah pertanian ini perkara hidup mati. Ini soal pangan. Dan yang berhasil memenangkan pangan dan energi itulah negara yang eksis kedepan,” tutupnya sambil membenarkan letak kacamatanya.

Pada kesempatan lain, Koordinator Praktikum Matakuliah Dasar-Dasar Agronomi, Fakultas Pertanian Unsyiah, Hadianur, mengatakan, dalam praktikum tersebut, mahasiswa diberikan tugas berbeda untuk tiap perlakuan tanaman jagung manis.

Ketika menanam, mahasiswa yang terdiri dari sebelas kelompok itu, mendapatkan dua belas bedeng untuk masing-masing kelompok. Mereka diajarkan cara menanam dua bibit jagung untuk satu lubang tanam. Nantinya, satu dari dua tanaman yang telah tumbuh akan dipangkas, guna mendapatkan batang yang lebih bagus.   

Perempuan yang mendampingi praktikum tiap tahun itu mengataka, mahasiswa juga diajarkan, bagaimana memperlakukan lahan agar tetap produktif. Salah satunya, dengan tidak menggunakan pestisida. 

“Lahan kami ini, masih tetap produktif meski sudah digarap hampir 18 tahun. Jadi selain praktik menanam, mereka juga harus tau bagaimana caranya agar lahan mereka tak perlu bertambah, karena sudah tidak produktif lagi,” sebutnya.

Sambi menanti panen, mahasiswa wajib mengecek lahan, dan membuat semacam pengamatan tiap Rabu, Sabtu dan Minggu. Semakin bagus hasil praktikum, semakin bagus nilai mereka. Kerjasama menjadi bagian penilaian. 

“Perbedaan jagung manis yang ditanam mahasiswa dengan yang ditanam petani biasa jelas berbeda. Mahsiswa melakukan semua hal secara terukur. Mulai dari jarak tanam, olah tanah, dan cara pemupukan,” bubuh perempuan itu.

Hal itu dilakukan, agar tanah yang tiap tahun dipakai itu, tetap bisa dipakai untuk praktikum berikutnya. Mahasiswa juga diharuskan rutin memberikan pupuk kandang pasca panen. Kini, masa tanaman jagung manis mahasiswa itu, memasuki minggu ke lima. Pertanda ada sekitar enam minggu lagi untuk mengamati praktikum mereka.  

“Sebelum pesta panen, nantinya mahasiswa akan ujian final. Dan itu langsung dilakukan di kebun hasil praktikum mereka,” tutup Hadianur.[]