Peuneutoh

Peunutoh digunakan untuk menggambarkan bahwa segala sesuatu yang dibicarakan atau dilakukan, semua sudah selesai

Peuneutoh
ilustrasi. (shutterstock)

Peuneutoh

Peunutoh digunakan untuk menggambarkan bahwa segala sesuatu yang dibicarakan atau dilakukan, semua sudah selesai

Dua hari yang lalu, abang ideologis saya merayakan kebahagiaan. Anaknya dilamar. Proses ini, tidak semua keluarga melakoni. Jika dirasa butuh, akan dilakukan tahap ini. Banyak orang yang sudah melewati. Ingin praktis dan mempermudah, tinggal datang sejumlah utusan, lalu saling berbicara tentang berbagai kemungkinan, ada keputusan, langsung dilaksanakan ijab kabul. Hal yang terakhir itu dianggap yang sangat penting.

Bagi mereka yang memiliki banyak kawom kerabat, komunikasi sesama keluarga dianggap juga penting. Anak dari anggota keluarga mereka yang akan melepas lajang, akan diberitahu sedemikian rupa. Berbagai hajatan, biasanya sesama anggota keluarga saling memberi semangat, satu sama lain.

Proses yang ada, bisa mudah jika dilaksanakan bersama. Sebaliknya, yang mudah juga memungkinkan jadi rumit, jika tidak dilakukan dengan sepenuh hati. Komunikasi dengan sesama menjadi kunci agar semua proses berjalan secara sempurna.

Hal itulah yang dilakoni abang ideologis saya itu. Setelah berkomunikasi dengan semua kawom kerabat, ia berdiam merasakan kebahagiaan. Ada proses di belakang layar yang sudah berlangsung. Malam itu, galipnya hanya mensahihkan apa yang sudah dikomunikasikan. Biasanya proses ini tidak berlangsung lama. Proses formal hanya sebentar saja. Sedangkan proses lama yang informal, sudah dilakukan dengan melibatkan sejumlah pihak.

Proses formal, hanya sebagai peneutoh. Kata “peuneutoh” (huruf o untuk menentukan vokal ditulis dengan ö) sering terdengar dalam politik yang berbasis realitas. Kata ini dalam realitas dikaitkan dengan menempatkan superioritas pimpinan politik. Sedangkan secara konsep, disebutkan dalam sebuah organisasi politik, selalu ada kesetaraan mereka yang menjadi pimpinan dan para anggotanya. Kesetaraan ini hanya bisa dilakukan melalui pola pengambilan kesimpulan atau kesepakatan dengan mendengar semua pihak.

Secara teori, kesetaraan itu mengajarkan bahwa pengambilan kesimpulan apapun, selalu tidak boleh dengan arogansi pimpinan. Begitulah teori, yang sering berbeda 180 derajat dengan realitas. Orang-orang yang berbeda pikiran, tidak mau menyenangkan pimpinan, atau pada taraf yang sederhana, karena seseorang terlalu banyak bicara, bisa jadi kena pergantian jabatan atau keanggotaan.

Dalam proses yang saya sebutkan di atas, peuneutoh itu juga terjadi. Namun prosesnya dilakukan. Ada orang yang memiliki kharisma di dalam keluarga, memiliki peran lebih dalam memberi peuneutoh. Itulah peunutoh. Dalam konteks ini tidak selalu membuat seseorang yang berkharisma itu selalu merasa diri harus superior. Posisi kharisma dalam keluarga bisa berubah, ketika kondisi masing-masing manusia sudah berubah.

Kata “peunutoh”, dalam Kamus Umum Indonesia-Aceh yang disusun M. Hasan Basry (Yayasan Cakra Daru, 1994), digunakan dalam enam konteks. Pertama, istilah ini digunakan untuk memahami kata “kakagau”, yang diartikan sebagai “peunutoh majelih hukom”. Padahal kata “kakagau” sendiri sebenarnya untuk menggambarkan putusan lembaga hukum tertinggi di Toraja. Kedua, digunakan untuk menjelaskan kata “mosi” (keputusan rapat; yang menyatakan pendapat atau keinginan para anggota rapat. Dalam makna Aceh disebut, “Peunutoh mupakat nyang meu'asoe peunapat atawa meukeusud anggèeta ba' pakat nyan”. Ketiga, untuk mengartikan kata “natijah” (peunutoh; punutoih). “Natijah” dapat diartikan sebagai kesimpulan; hasil; keputusan. Tidak semua memiliki kata “natijah”. Demikian juga dengan Kamus Inggris-Indonesia. Namun demikian, ketika dibuka Kamus Indonesia-Inggris, kata “natijah” diartikan dengan “core issue (of argument, etc)”. Keempat, kata “simpul; menyimpulkan; kesimpulan”, salah satu artinya digunakan denganpeunutoh”. Dalam Kamus Bahasa Indonesia, “simpul” adalah “ikatan pada tali atau benang”. Kelima, “suara” (terkait dengan menyuarakan), yang diartikan dengan “ha' peunutoh”. Dalam hal ini, “suara” merupakan “sesuatu yang dianggap sebagai perkataan (untuk melahirkan pikiran; perasaan; dan sebagainya); pendapat; pernyataan; dukungan”. Keenam, “vonis”, digunakan “peunutöh hakim lam peukara”. “Vonis” adalah “putusan hakim (pada sidang pengadilan) yang berkaitan dengan persengketaan di antara pihak yang maju ke pengadilan; hukuman (para perkara pidana)”.

Ada satu lagi yang sangat penting bagi orang Aceh, ketika peunutoh digunakan untuk menggambarkan bahwa segala sesuatu yang dibicarakan atau dilakukan, semua sudah selesai. Ketika seseorang sudah berbicara, dengan basis kearifan dan kebijaksanaannya, maka semua inti dari pertemuan mereka dianggap selesai –dalam arti bisa diterima dengan lapang dada. Pada posisi ini, orang yang berkemampuan demikian tidak banyak.

Malam itu, saat abang ideologis saya berbahagia, saya merasakan peuneutoh ini belum berjalan maksimal.

Wallahu A'lamu Bish-Shawaab.