Polisi Serius Ungkap Pungli Dana Bantuan Kelompok Tani di Nagan Raya

“Alasannya dana yang dipotong akan digunakan untuk belanja bahan saprodi yang nanti akan dibagikan kepada 38 kelompok tani,” katanya.

Polisi Serius Ungkap Pungli Dana Bantuan Kelompok Tani di Nagan Raya
Kepolisian jajaran Reserse Kriminal Polres Nagan Raya serius mengungkap kasus korupsi berupa pungutan liar (Pungli) di Dinas Pertanian dan Perternakan Kabupaten Nagan Raya.

Polisi Serius Ungkap Pungli Dana Bantuan Kelompok Tani di Nagan Raya

“Alasannya dana yang dipotong akan digunakan untuk belanja bahan saprodi yang nanti akan dibagikan kepada 38 kelompok tani,” katanya.

Nagan Raya – Kepolisian jajaran Reserse Kriminal Polres Nagan Raya serius mengungkap kasus korupsi berupa pungutan liar (Pungli) di Dinas Pertanian dan Perternakan Kabupaten Nagan Raya yang dilakukan oleh HP selaku Plt Kabid Tanaman Pangan Holtikultura bersama LD salah satu staff honorer, Rabu 31 Januari 2018.

Kapolres Nagan Raya AKBP Giyarto mengatakan pungutan liar tersebut dilakukan secara bertahap mulai Oktober 2016 hingga Agustus 2017.

Pungli dilakukan dengan cara tim teknis Dinas Pertanian dan Perternakan Nagan Raya meminta paksa pemotongan dana pada 38 kelompok tani (Poktan) penerima bantuan di Nagan Raya pada saat mereka melakukan penarikan di Bank BRI Kecamatan Kuala.

Pungli yang dilakukan mencapai  Rp 568.574.000,- dengan anggaran bersumber dari dana APBN tahun 2016 pada satuan kerja Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Aceh yang dikelola oleh Dinas Pertanian dan Peternakan Nagan Raya.

Dalam kasus tersebut ke dua tersangka yaitu HP selaku Plt Kabid Tanaman Pangan Holtikultura Dinas Pertanian dan Peternakan Nagan Raya dan LD salah satu honorer dinas setempat yang bertugas sebagai pembantu tim teknis.

Dalam aksinya kedua pelaku bekerjasama memangkas angaran sejumlah Kelompok tani tersebut dengan cara meminta seluruh anggaran yang tekah dicairkan dari rekening milik Poktan. Ironinya diceritakan kapolres Nagan Raya, usai dikutip uang oleh keduanya, seluruh petani hanya diberikan sedikit anggaran yang terhitung cukup untuk membeli racun pembasmi rumput.

“Setelah ditarik semua, kelompok tani hanya diberikan uang sebesar harga rondup saja,” uangkap Giyarto.

Sementara itu pihak kepolisian juga mengungkapkan pihak pengelola anggaran yaitu kedua tersangka tersebut beralasan anggaran nantinya dikelola untuk melakukan belanja alat lainya sesuai kebutuhan disejumlah kelompok tani tersebut.

“Alasannya dana yang dipotong akan digunakan untuk belanja bahan saprodi yang nanti akan dibagikan kepada 38 kelompok tani,” katanya dalam konferensi pers yang berlangsung di Polres Nagan Raya, Rabu 31 Januari 2018.

Dari kasus tersebut pihak kepolisian terus melakukan penyelidikan dan hingga berita ini ditulis, pihak kepolisian belum dapat memastikan jumlah kerugian negara serta keterlibatan pihak – pihak lain terkait penyalah gunaan wewenang dan penyalah gunaan uang bantuan tersebut

Selain itu Polisi telah melakukan penyitaan barang bukti berupa uang tunai sebesar Rp 100 juta rupiah. Kini pihaknya masih terus melakukan penyelidikan dan kepada dua orang yang telah ditetapkan sebagai tersangka dijerat dengan Pasal 55 ayat 1 Jo Pasal 64 Ayat 1 KUHPIDANA dengan ancaman penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 4 tahun dan paling lama 20 tahun.[]