Tidak jarang orang akan mengungkap kekecewaan ketika dalam kuah beulangong di meja, tidak ditemukan asoe dalam di dalamnya.

Pruet
Ilustrasi (Foto: Irwansyah Putra/ Antara)

Tidak jarang orang akan mengungkap kekecewaan ketika dalam kuah beulangong di meja, tidak ditemukan asoe dalam di dalamnya.

Saya kira, Anda pernah bergotong royong di kampung-kampung, apalagi sekarang masih dalam suasana maulid. Banyak khawuri dilaksanakan di masjid atau meunasah. Kuah beulangong menjadi satu ciri khas yang sepertinya selalu tersedia, tentu, di antara banyak pilihan yang lain. Saat berbicara kuah beulangong, maka daging adalah isi di dalamnya.

Masing-masing tempat memiliki cara tersendiri. Ada yang sengaja memotong lembu atau kambing. Tak sedikit juga membeli daging di pasar. Mereka yang memotong, masing-masing peran sudah ditentukan. Termasuk isi dalam hewan, jeroan (asoe pruet), yang ditangani dan dibersihkan secara khusus. Bahkan untuk daging yang dibeli pun, biasanya isi dalam itu turut dibeli yang akan digabung dalam kuah beulangong.

Sebuah khawuri, membutuhkan peran banyak orang. Sebuah versi mini pembagian kerja yang sudah terukur. Ada yang bisa tergantikan oleh orang lain, namun tidak sedikit kerja khusus yang hanya mampu dilakukan oleh orang khusus pula. Kerja hal yang khusus ini, biasanya jumlah sedikit, dengan tingkat pengkaderan yang lambat. Tidak heran, yang melakukannya juga rata-rata sudah berusia senja. Orang-orang khusus ini umumnya ada di dapur.

Untuk sebuah hajat khawuri bagi banyak orang, nasi dan lauk sama-sama membutuhkan penanganan khusus. Tidak semua orang mampu menjadi tukang masak nasi dalam jumlah besar. Ada ukuran tertentu, juga ditentukan oleh bagaimana rasa digunakan oleh mereka yang melakukannya.

Bukankah bumbu masak kuah beulangong dalam masyarakat kita itu tidak diserahkan kepada sembarang orang?

Bahkan untuk khawuri yang penting, perawat rumus bumbu masakan itu akan dihadirkan secara khusus. Dalam prosesnya, ada yang terbuka dan tidak jarang, hanya kalangan tertentu saja yang mengetahui rumus tersebut. Perawat rumus bumbu ini sudah dipesan jauh-jauh hari. Hanya sedikit orang yang mau nimbrung dalam proses demikian. Biasanya mereka yang dipersiapkan secara khusus di kampung-kampung, telah memperlihatkan kecintaannya pada peran ini.

Pengetahuan ini diturunkan pelan-pelan. Tidak diajarkan sekaligus. Bagaimana bumbu diaduk biar meresap hingga ke semua lini. Kapan waktu yang pas air ditambah. Bagaimana menggunakan perasaan untuk mengukur seberapa banyak garam yang dibutuhkan. Bahkan saat yang tepat mengisi santan. Tidak mudah melakukan itu.

Iseng-iseng pernah memperhatikan di mana tempat yang paling banyak orang? Tempat cuci piring salah satunya. Ia bisa dilakukan oleh semua orang, namun tetap butuh keahlian. Untuk piring sisa gapaih, harus benar-benar bersih dan tidak bau, karena ia akan digunakan kembali untuk tamu selanjutnya. Walau sesuatu yang mudah, ia tetap di bawah kontrol orang yang telah ditunjuk.

Satu lagi yang sangat penting adalah memperlakukan daging. Dari awal, berbagai bagian dari daging sudah dipisah-pisahkan. Semua memiliki kegunaan masing-masing. Dengan jenis masakan yang sudah diancang-ancang, maka bagian daging akan menentukan jenis masakan itu. Hasil yang dijejer di atas meja hidangan, adalah akhir dari proses pembagian yang sudah lakukan di awal.

Pembagian ini tetap dilakukan andai pun daging dari pasar. Pemasak akan memesan secara khusus masing-masing bagian kepada pemilik hajatan. Mulai dari yang inti sampai kepada apa yang disebut sebagai peumameh kuah. Tulang-belulang akan mendampingi kebutuhan yang disebut terakhir.

Intinya jangan anggap remeh pada semua bagian itu. Semua dianggap memiliki peran. Terlepas dari aspek kesehatan, implikasinya juga akan berbeda. Orang-orang yang bertekanan darah tinggi harus banyak menghindari. Mereka yang rentan nyeri tulang, harus menjauhi jeroan. Kini ada pertanyaan yang sering diungkap dokter kepada pasien, tentang seberapa sering mengonsumsi kuah beulangong.

Saya hanya ingin menegaskan bahwa semuanya penting. Semua dibutuhkan, tidak ada yang satu dianggap bisa tidak sempurna. Bagaimana orang harus melakukan hal yang khusus hanya untuk menyiapkan asoe dalam. Betapa besar energi dan konsentrasi yang dibutuhkan untuk menangani asoe dalam tersebut. Tidak jarang orang akan mengungkap kekecewaan ketika dalam kuah beulangong di meja, tidak ditemukan asoe dalam di dalamnya.

Bukankah pada posisi demikian, asoe dalam juga sangat istimewa?

Wallahu A'lamu Bish-Shawaab.

[es-te, Senin, 1 Januari 2018]