[Cerpen] Pukak Abu, Penjahat yang Menginspirasi Para Penakut

Pukak Abu menjadi dongeng penyembuh hati para bajingan, tidak ada nama Pukak Abu di buku sejarah anak sekolah. Buku sejarah anak hanya menyisipkan foto-foto pembesar dan penguasa. Kasihan Pukak Abu

[Cerpen] Pukak Abu, Penjahat yang Menginspirasi Para Penakut
ilustrasi (Indonesia Berprestasi)

[Cerpen] Pukak Abu, Penjahat yang Menginspirasi Para Penakut

Pukak Abu menjadi dongeng penyembuh hati para bajingan, tidak ada nama Pukak Abu di buku sejarah anak sekolah. Buku sejarah anak hanya menyisipkan foto-foto pembesar dan penguasa. Kasihan Pukak Abu

PUKAK Abu jadi jagoan di kampungnya. Siapapun tak segan-segan ia tantang berkelahi. Asal salah sedikit, Pukak Abu langsung menjungkalkan orang-orang yang dianggapnya merusak pemandangannya. Dari hampir semua gaya silat di kampungnya telah ia kuasai. Jurus andalannya adalah jurus Harimau. Konon, Pukak Abu dapat menangkap pisau yang dilemparkan padanya dengan mata ditutupi oleh kain hitam, bahkan ia dianggap kebal. Entahlah.

Pukak Abu bukanlah el mariachi atau jagoan-jagoan lainnya, bukan pula koboi atau  jagoan bar yang suka dar der dor pistol. Pukak Abu adalah penjahat paling dibenci di kampungnya, namun mirip petuah orang tua ‘setiap manusia paling brengsek sekalipun punya masa depan dan setiap orang suci punya masa lalu’. Pukak Abu menjadi dua hal yang berlawanan, pahlawan yang dibenci dan dibenci karena menjadi pahlawan. Dilema.

Ya, dilema. Pukak Abu menjadi dongeng penyembuh hati para penakut, tidak ada nama Pukak Abu di buku sejarah anak sekolah. Buku sejarah anak hanya menyisipkan foto-foto pembesar dan penguasa. Kasihan Pukak Abu.

Di zaman penjajahan dulu, di sebuah negeri dan daerah yang dialiri sungai-sungai tengah uring-uringan. Radio mengumumkan Belanda telah pulang kampung, hengkang di gilas ‘cahaya Asia’. Tentara-tentara berkulit putih, tubuh pendek dan cenderung cipit dan berbicara suka teriak-teriak tak jelas. Penjajah baru itu adalah Jepang.

Pukak Abu sering mangkal di daerah sungai. Dia baru diusir dari satu kampung karena dituduh menodai anak gadis. Pukak Abu memang brengsek. Sambil kabur dan nongkrong di pelabuhan, Pukak Abu melihat puluhan tentara sedang mandi. telanjang. Tidak salah lagi, mereka adalah tentara Jepang, Nippon.

Pukak Abu duduk ngobrol dengan seorang temannya.

Pukak Abu buta politik, tak tahu menahu negerinya sedang dijajah, baginya bisa minum tuak dan minum kopi saja sudah cukup. Tapi, orang paling apatis sekalipun bakal tahu penjajah baru telah datang. Dan, di depan mata Pukak Abu tentara Nippon itu mandi di sungai dangkal.

“Jadi manusia-manusia boncel itu yang datang ke kampung. Heh!” sembur Pukak Abu bermaksud menghina.

“Benar” jawab temannya singkat sambil mengamati.

“Sekali tolak pasti terjengkang dia” kata Pukak Abu meremehkan.

“Jangan salah, mereka jago memainkan pedang dan konon mereka lebih sadis daripada Belanda sombong itu. Lah, buktinya Belanda pulang kampung dibuat oleh si boncel-boncel itu” kata temannya mengingatkan.

Pukak Abu merenung. Lama.

“Berapa lama mereka akan di sini?” tanya Pukak Abu.

Temannya menggeleng sambil menyalakan rokok “Mana ku tahu”.

***

Menjelang malam, tersiar kabar sampai telinga Pukak Abu. Akan ada pemancungan besar-besaran di satu kampung. Kepala-kepala serdadu Belanda akan dipancung. Strategi tentara Nippon memang bagus sekali, pemenggalan kepala serdadu Belanda harus disaksikan oleh semua orang kampung untuk memberi pesan ‘heh, kalian semua! Sekarang kami orang Asia yaitu tentara Nippon berkuasa atas kalian sekarang. Kami yang hebat sekarang, bukan Belanda menjijikan ini!’ kira-kira seperti itulah simbol yang dipertontonkan.

Proses pemenggalan kepala berlangsung cepat dan menyeramkan. Pukak Abu di sana, menyaksikan dari atas pohon. Melihat betapa tentara Nippon itu memenggal sambil tertawa dan menganggapnya sebagai olah raga biasa. Kejam betul pikir Pukak Abu.

“Aku rasa orang-orang boncel itu gila. Mereka semua adalah orang sakit yang memegang senjata. Mereka seperti anak-anak yang mengira nyawa adalah permaian” kata Pukak Abu.

Teman Pukak Abu heran, “Apa bedanya dengan kamu?”

“Aku membunuh dan berkelahi lalu dicap sebagai bajingan, itu adil. Sedangkan mereka menumpahkan darah sambil tertawa dan malah dianggap pahlawan, itu jelas tidak adil, bodoh!”

***

Hari-hari demi hari setelah pemenggalan dilakukan, tentara Nippon makin kurang ajar, bekerjasama dengan petinggi kampung dalam mengorganisir gadis-gadis desa untuk dijadikan perempuan-perempuan penghibur para tentara Nippon. Sebagian besar perempuan-perempuan yang dijadikan penghibur birahi tentara Nippon itu adalah gadis-gadis miskin.

Pukak Abu makin tak tahan, eksistensinya sebagai orang bajingan yang jahat tergeser oleh kedatangan tentara Nippon. Tentara itu semakin berlebihan, setelah menjadikan kami budak dan memaksa kami melihat kegilaan mereka, kesombongan mereka, apalagi? Yang pasti akan lebih buruk.

Pukak Abu terus mencari akal, setelah dihitung-hitung jumlah tentara Nippon di kampungnya tidak terlalu banyak sekitaran 50-an. dibandingkan dengan pemuda di kampungnya, tentara Nippon itu sudah jelas kalah jumlah. Tapi para pemuda kalah mental. Takut dipancung.

“Lebih baik aku mati dipancung mereka, ketimbang bersimpuh di lutut mereka!” teriak Pukak Abu ditengah warung kopi.

“lalu apa rencanamu?” tanya pemiliki warung kopi penasaran.

“lihat saja!” Pukak Abu tetaplah brandal gila, tetap ditakuti walaupun orang kini lebih takut tentara Nippon. “aku akan mematikan tentara-tentara brengsek itu. kampung ini adalah wilayahku!” seluruh anak muda di warung kopi diam, tak bergeming.

Seberkas ketakutan dan sebagian penuh rasa dendam. Pukak Abu mencoba mengipas-ngipas kemarahan mereka. “sebentar lagi, kalian semua akan dipanggang, kepala kalian akan dijadikan bola dan mereka akan merendahkan kalian! Jika kalian masih diam, aku akan bekerja sendiri, dan dunia akan mencatat kalian sebagai anak-anak muda pecundang yang pantas untuk diludahi”

Tidak ada tanggapan. Pukak Abu pergi, setelah meludahi meja warung kopi.

***

Pukak Abu mecari-cari informasi dari orang-orang tentang rencana tentara Nippon. Mudah saja, Pukak Abu akan menggertak setiap pentinggi desa, bahkan membentak agamawan untuk memberikan informasi mengani tentara Nippon.

Pukak Abu mendapatkan informasi, dalam waktu dekat sekitar 40-an tentara Nippon akan hijrah ke perairan yang tak jauh dari kampung aliran sungai Pukak Abu, aliran sungai Cinendang. Entah bisikan malaikat atau setan yang merasuki Pukak Abu, Pukak Abu dapat ide.

Kemudian waktu yang dinanti-nanti telah tiba. Pukak Abu mengancam pemilik perahu dan mengatur siasat untuk mencelakakan tentara Nippon. Pemilik kapal hanya angguk-angguk, takut ancaman Pukak Abu.

Pukak Abu membawa para tentara dengan kapal, dari aliran sungai Soraya ke aliran Sungai Cinendang. Di tengah perjalanan, di sungai dalam nan terjal Pukak Abu merusak kapal seorang diri tanpa diketahui oleh para tentara. Lantai kapal kayu dirusak, siasat ini telah dibangun Pukak Abu sebelum perjalanan mengantar tentara Nippon.

Kapal di bocorkan, lalu Pukak Abu melompat ke air menyelam dan menghilang ke dasar sungai tanpa diketahui. Setelah sampai di daratan, Kapal mulai tenggelam, para tentara Nippon panik, mereka tak pandai berenang. Pukak Abu tau itu, saat melihat tentara Nippon itu mandi di sungai dangkal dan gelagat mereka menyebrangi air.  Kapal tenggelam, Pukak Abu menyaksikan kemenangan, tentara Nippon minta tolong, tapi sia-sia. Di daratan, Pukak Abu menembakkan batu dengan ketapel tepat ke kepala tentara Nippon. Tentara Nippon tenggelam, rencana Pukak Abu berhasil.

***

Setelah kejadian itu, Pukak Abu dikenal seluruh kampung dari Soraya ke Cinendang. Sebagian tentara Nippon telah mati, para tentara menyadari bahwa lawan mereka mungkin terlihat lemah dan bodoh, para penjajah mungkin dapat menjajikan kontrak pada pembesar atau raja-raja tapi niat untuk melawan akan terus dihembuskan oleh rakyat, bahkan  manusia paling brengsek sekalipun.

Bagaimana dengan Pukak Abu? Pukak Abu dikabarkan telah dipancung secara rahasia oleh tentara Nippon. Pukak Abu hidup sebagai bajingan dan mati sebagai bajingan yang meludahi kepengecutan, menghina pembesar yang suka menjilat, dan semua jajaran yang membuat penjajah menjadi telihat seperti pahlawan.

Nama Pukak Abu tetap tak ada dalam sejarah buku anak sekolah. Dongeng memang dilema.[]

Zulfikar R H Pohan adalah Ketua Sanggar Daun Mekaum (SDM) Banda Aceh. Mahasiswa  Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam UIN Ar-Raniry, dan Mahasiswa Jurusan Akuntansi  Universitas Syiah Kuala.