'Pulau' Plastik Raksasa Mengapung di Samudra Pasifik

Luas pulau plastik di Samudra Pasifik lebih besar dari perkiraan ilmuwan sebelumnya.

'Pulau' Plastik Raksasa Mengapung di Samudra Pasifik
Sampah plastik. Ilustrasi. Foto: Huffpost

'Pulau' Plastik Raksasa Mengapung di Samudra Pasifik

Luas pulau plastik di Samudra Pasifik lebih besar dari perkiraan ilmuwan sebelumnya.

Amsterdam - Sebuah "pulau" plastik raksasa yang mengapung di Samudra Pasifik ternyata menampung puing 16 kali lebih banyak dari yang diperkirakan sebelumnya. Ilmuwan mengatakan hal itu menimbulkan ancaman signifikan terhadap rantai makanan.

"Onggokan sampah yang berada di perairan antara California dan Hawaii itu terdiri dari jaring ikan, wadah kemasan plastik, hingga tali," kata Ocean Cleanup Foundation yang mengepalai sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal daring "Scientific Reports".

Penelitian itu menggunakan tangkapan gambar dari udara. Gambar tersebut mengungkapkan bahwa massa sampah 16 kali jauh lebih padat dari yang diperkirakan sebelumnya.

"Ini mengejutkan," kata Joost Dubois, juru bicara Ocean Cleop Foundation yang berbasis di Belanda. Ia memimpin tim peneliti dari tujuh negara.

Hampir 200 negara akhir tahun lalu menandatangani resolusi PBB untuk menghilangkan polusi plastik di laut. Hal itu diharapkan akan membuka jalan menuju perjanjian yang mengikat secara hukum.

Penelitian baru memperkirakan akumulasi sampah mencapai 79 ribu metrik ton atau 1,8 triliun potongan sampah dari plastik. Sebagian besar potongan itu berukuran mikro.

Untuk menggambarkan seberapa besar ukurannya, Joost membandingkan jumlah tersebut terdiri dari sampah yang cukup untuk mengisi 500 pesawat jet komersil berukuran besar. "Plastik telah terakumulasi menjadi massa karena arus laut," kata para ilmuwan. Penelitian itu mempelajari petak lautan yang berukuran lebih dari 1,6 juta kilometer persegi.

Plastik, yang merupakan produk berbasis minyak bumi, hancur secara perlahan. Mereka mengatakan salah satu benda yang diambil dari onggokan itu sudah berusia sekitar 40 tahun. Hal itu membahayakan kehidupan laut karena membunuh makhluk seperti penyu dan lumba-lumba yang menelan sampah tersebut. Sampah juga membahayakan manusia karena pada akhirnya memasuki rantai makanan dalam bentuk mikroplastik yang terkandung di dalam biota laut.

"Pada dasarnya kita meracuni makanan kita sendiri, terutama bagi kita yang mengandalkan ikan untuk asupan gizi kita," kata Dubois.

Sumber : Antara