Pulo Aceh, Mimpi Destinasi Wisata Ramah Lingkungan

Bicara mengenai pariwisata Indonesia, tak akan terlepas dari urusan sampah. Banyaknya sampah seolah berbanding lurus dengan jumlah kunjungan wisatawan yang datang ke satu lokasi wisata. Fenomena itupun terjadi di wilayah paling barat Indonesia. Ketika pengelola dan wisatawan belum siap dengan program kementerian pariwisata yang menargetkan 20 juta wisatawan mancanegara, maka hanya akan berdapak pada kerusakan lingkungan.

Pulo Aceh, Mimpi Destinasi Wisata Ramah Lingkungan
Salah satu destinasi wisata Pulo Aceh dengan potensi ekowisata

Pulo Aceh, Mimpi Destinasi Wisata Ramah Lingkungan

Bicara mengenai pariwisata Indonesia, tak akan terlepas dari urusan sampah. Banyaknya sampah seolah berbanding lurus dengan jumlah kunjungan wisatawan yang datang ke satu lokasi wisata. Fenomena itupun terjadi di wilayah paling barat Indonesia. Ketika pengelola dan wisatawan belum siap dengan program kementerian pariwisata yang menargetkan 20 juta wisatawan mancanegara, maka hanya akan berdapak pada kerusakan lingkungan.

PUTRI Widiansyah Lestari, 22 tahun, duduk beralaskan papan di pinggir Pantai Deudap, Pulo Nasi. Pandangannya tertuju pada tiga pulau tak berpenghuni di seberang lautan. Suara ombak menyapu pasir terdengar sesekali. Aroma air laut, dan angin sepoi-sepoi membuat perempuan asal Jawa Timur yang berteduh di bawah pohon terminalia catappa itu, ingin memejamkan mata.

“Aku belum percaya sedang duduk di pantai yang bangus banget di Aceh ini,” kata Widia kepada teman satu tempat mangangnya. Widia adalah mahasiswa tingkat akhir di Sekolah Tinggi Pariwisata (STP) Bandung. Sudah empat bulan ia magang di Greenpeace Indonesia dan sedang berwisata ke Aceh.

Selaku mahasiswa Pariwisata, ia cukup paham tentang nilai satu lokasi wisata seperti Pantai Deudap. Keindahan yang ditawarkan masih asri. Tak ada campur tangan investor luar dengan berbagai pembangunan yang dapat menghilangkan rasa original satu tempat.

Tak jauh dari tempat duduknya, sebuah botol kaca ukuran 150 mili, telah diisi dengan pasir putih. Agaknya botol kaca bekas berbentuk balok yang terdampar dari negeri tetangga, cukup mudah dijumpai di pinggir pantai, dan cantik sekedar dijadikan koleksi dan kenang-kenangan dari Pulo Nasi.

Baca juga : Sampah 72 Produk Air Mineral Dunia Bermuara di Pulo Aceh

Satu pagi di akhir Desember, perempuan yang sedang bertamasya ke Pulo Nasi itu, sengaja mengenakan baju kaos putih bertuliskan Wonderfull Indonesia yang menjadi tageline Kemenpar. Katanya, ia seperti sedang mempromosikan pariwisata Indonesia. Namun, begitulah salah satu caranya mengapresiasi keindahan alam Aceh. Sembari menikmati hamparan laut yang tekena sinar matahari dengan kilau cemerlang.

Sayangnya, kebijakan Menpar tentang menciptakan 10 Bali baru di Indonesia membuatnya prihatin. Padahal, lanjutnya, pulau Bali sudah mulai rusak akibat bengkaknya kunjungan wisatawan. Ia menilai Kementerian Pariwisata dengan program 20 juta Wisatawan Mancanegara, hanya fokus pada promosi destinasi wisata, tanpa peduli terhadap dampak kerusakan lingkungan yang akan merugikan masyarakat setempat.

Baginya, ketika pemerintah ingin menciptakan 10 destinasi Bali baru itu, berarti akan menghilangkan karakteristik yang dimiliki oleh 10 lokasi wisata yang memiliki ciri khas tersendiri.

Ada Danau Toba di Sumatera Utara, Tanjung Kelayang di Bangka Belitung, Tanjung Lesung di Banten, Kepulauan Seribu di DKI Jakarta, Borobudur di Jawa Tengah, Bromo-Tengger-Semeru di Jawa Timur, Wakatobi di Sulawesi Tenggara, Mandalika di Nusa Tenggara Barat, Labuan Bajo di Nusa Tenggara Timur, dan Morotai di Maluku Utara. Sepuluh daerah itu, punya rasa berbeda.

Ia menyebutkan, hampir semua “Bali baru” itu destinasi wisata berbasis alam, yang rentan terhadap kerusakan. Ia membayangkan, saat investor masuk ke satu lokasi yang dicanangkan sebagai destinasi wisata, maka wisatawan semakin membludak, dan kondisi lingkungan tak terkendali.

“Di situlah timbul ancaman kerusakan, ditambah juga masyarakat yang mungkin saja menjadi korban dengan adanya shock culture,” terangnya, sambil memainkan kakinya di pasir putih itu.

Kondisi geografis indonesia menjadikannya kaya sumber daya pariwisata berbasis alam atau dikenal juga dengan istilah ekowisata. Ekowisata atau ekoturisme merupakan salah satu kegiatan pariwisata yang berwawasan lingkungan dengan mengutamakan aspek konservasi alam, aspek pemberdayaan sosial, budaya, ekonomi masyarakat lokal, serta aspek pembelajaran, dan pendidikan.

Menurutnya, tujuan ekowisata selain melestarikan lingkungan, juga ingin mensejahterakan masyarakat setempat, lewat pemberdayaan masyarakat baik sebagai pengelola wisata. Sebab selama ini, nampaknya, lokasi wisata bukan milik masyarakat setempat, namun milik investor. Mereka yang mulanya memiliki tempat tersebut, berakhir sebagai objek atau penonton saja.

Pulo Nasi salah satu pulau yang berpotensi menjadi ekowisata. Konsep ekowisata yang bertujuan mengedukasi pengunjung dengan cara tetap melestarikan lingkungan sekitar, perluperencanaan yang matang, sebelum suatu destinasi dipromosikan massal.

“Mulai dari kesiapan masyarakat hingga kesiapan produk pariwisata. Sehingga antara perencanaan dan promosi itu balance,” terang Widia.

Baginya, jika Pulo Nasi dilirik serius oleh pemerintah daerah, konsep ekowisa dengan budaya Islam yang masih kental, dapat menjadi daya tarik, sekaligus edukasi budaya kepada wisatawan. Sedangkan untuk fasilitas, tak perlu ada investor yang akan membagun resort di Pulo Nasi.

Rumah warga akan layak menjadi hunian wisatawan jika mereka sudah dibekali tentang pengelolaan penginapan untuk tujuan wisata. Selain itu, mengajak pengunjung bersentuhan langsung dengan aktifitas penduduk setempat, juga dapat dihitung sebagai paket wisata dengan tema menjual pengalaman.

“Masyarakatlah sebagai tuan rumahnya. Jangan sampai peran itu direbut oleh investor. Sebab untung yang diambil oleh investor, tak sebanding dengan kerusakan lingkungan dan kerugian yang akan ditanggung masyarakat,” tutupnya.

Pada kesempatan yang sama, Arifsyah Nasution, Juru Kampanye Kelautan Greenpeace Indonesia, yang saat itu sedang melakukan penelitian tentang jumlah sampah di lautan yang terdampar di Pulo Nasi, mengatakan, masyarakat harus segera diperkenalkan tentang potensi ekowisata yang dimiliki.

“Sebelum wisata itu buming di Pulo Aceh, masyarakat sudah harus diperkenalkan tentang menjaga lingkungan,” katanya.

Mereka yang sengaja berwisata sambil melakukan bersih pantai, sudah berkegiatan sejak 2016 bersama Kualisi Advokasi Laut Aceh (KuALA) dan Sahabat Laut. Mereka inginmengawinkan isu sampah dengan pariwisata. Outputnya, yaitu kegiatan pariwisata yang ramah lingkungan.

“Pembelajaran yang selama ini kami dapat dari satu lokasi wisata, jika pengelola wisata tidak siap, dan pengunjung juga tidak siap, sedangkan jumlah wisatawan semakin banyak, maka dampak buruknya adalah sampah dan kerusakan lingungan,”  terang Arifsyah.

Meskipun akhir Desember ini, mereka belum sampai pada tahap mengajak proaktif masyarakat untuk terlibat membersihkan pantai, seiring berjalannya waktu, pada tahun ketiga dan keempat, ia yakin, interaksi dengan warga yang telah mereka bangun, akan berdampak positif untuk pariwisata yang ramah lingkungan di Pulo Nasi.[]