Relawan Cilik Pengelola Rumah Pustaka

Pelabuhan Deudap sunyi. Tak ada aktifitas transportasi laut di sana. Boat yang biasa berlayar ke Banda Aceh, berlabuh di sebelah kanan dermaga. Ia dijadwalkan libur hari itu. Hanya ada tiga bocah laki-laki sedang menata buku di atas panggung kecil. Tempat para penumpang menanti keberangkatan kapal.

Relawan Cilik Pengelola Rumah Pustaka
Photo: Desi Badrina

Relawan Cilik Pengelola Rumah Pustaka

Pelabuhan Deudap sunyi. Tak ada aktifitas transportasi laut di sana. Boat yang biasa berlayar ke Banda Aceh, berlabuh di sebelah kanan dermaga. Ia dijadwalkan libur hari itu. Hanya ada tiga bocah laki-laki sedang menata buku di atas panggung kecil. Tempat para penumpang menanti keberangkatan kapal.

PUKUL 08.00 WIB. Zidan, Nanda, dan Ilham, sudah stand by menanti teman-temannya. Mereka lebih dulu sampai ke dermaga. Kesepakatan awal, yang lebih dulu sampai ke sana, bertugas menggelar 100 buku cerita. Buku itu, baru saja tiba. Titipan sebuah lembaga pendidikan di Banda Aceh. Yaitu Rumah Baca Aneuk Nanggroe (RUMAN) Aceh.

Nanda dan Ilham adalah teman sekelas di SD Deudap. Meraka kelas VI SD. Sedangkan Zidan, teman barunya. Ia kelas III di SDN 3 Simpang Kiri. Sekolah yang jaraknya 16 jam perjalanan dari Pulo Nasi. Letaknya di bagian barat perbatasan Sumatera Utara-Aceh. Minggu itu, Ia sedang berlibur di Pulo Nasi bersama saudaranya.

Baru seperempat jalan mengatur buku-buku di atas panggung setinggi 120 cm itu, Tasya, Nisa, dan Sarah tiba. Ketiganya juga murid SD Deudap.

“Kenapa kalian bentang bukunya di atas itu?” tanya Tasya. Ia murid kelas VI SD Deudap.  

“Bentar lagi udah ada orang taruh ikan di situ. Itu tempat orang jual ikan kalau siang,” katanya lagi.

Akhirnya, Zidan dan dua teman barunya, memasukkan kembali buku-buku ke dalam kardus kertas HVS. Tak jauh dari mereka, Mirza Aulia dan Nayla Safira segera bergabung. Setelah merasa cukup banyak yang datang, Tasya memberi usul agar lokasi membaca pindah ke Pantai Lhok Ketapang. Sekitar 600 meter dari tempat mereka semula.

Semua sepakat dengan usul Tasya. Alasannya, tempat itu agak teduh. Banyak pohon Ketapang di sana. Satu diantaranya terpasang ayunan kayu. Butuh waktu 10 menit untuk berjalan kaki ke pantai Lhok Ketapang itu. Nisa, Nanda, Zidan dan Ilham bersepeda menuju lokasi pantai.

Anak lainnya mendapat tumpangan dari paman Tasnya. Ia memanggilnya Alot. Adik paling bungsu dari ibunya. Sekali bonceng, Alot bisa membawa tiga orang penumpang ditambah satu kotak buku. Tasya, Nayla, dan Sarah.

Setiba di Pantai Lhok Ketapang, Tasya mendapati empat orang temannya bergantian main ayunan kayu di salah satu pohon ketapang. Kardus buku yang mereka bawa diletakkan di atas pasir putih.

“Di mana bagusnya kita duduk?” tanya Tasya kepada teman yang lain.

“Sebelah sana saja, Tasya, dekat balok kayu tu. Supaya tak terkena panas,” kata Nanda yang sedang diayun oleh Ilham.

Lima anak lainnya mengikuti Tasya ke arah balok yang ditunjuk Nanda. Nisa dan Sarah membantu Tasya mengeluarkan buku. Buku itu diatur berbanjar, untuk memudahkan melihat judulnya. Anak yang tak sabar membaca, langsung saja mengambil satu buku berdasarkan judul yang diminati.

Kardus baru saja dikosongkan. Mereka terlihat menikmati membaca buku cerita itu. Tetiba, suara deru sepeda motor Alot terdengar mendekat. Ternyata, dia membawa serta pembaca lainnya. Mereka adalah tiga sepupu kecil Tasya berusia 5 dan 4 tahun. Misya, Adidnda, dan Talita.

Tiga gadis kecil itu sama sekali belum bisa membaca. Tapi, Tasya membiarkan mereka memilih buku. “Pilih satu ya dek. Buka halamannya baik-baik. Jangan sampai sobek bukunya” intruksi  sang kakak untuk tiga sepupu kecilnya.

Anak-anak itu mulai membaca. Bernaungkan atap langit, beralaskan pasir. Beberapa diantaranya duduk di atas balok. Agaknya, membaca di pinggir pantai, baru kali pertama mereka lakukan. Deburan ombak mengalun syahdu temani mereka membaca.

Satu, dua buku selesai dibaca. Zidan sudah menyelesaikan dua buku cerita anak-anak itu. Nayla bahkan sudah menyelesaikan tiga buku. Hingga pukul 09.30 WIB, konsentrasi mereka akhirnya pecah. Godaan menyentuh air laut sudah tak bisa lagi mereka bendung.

Mereka mengaku, sebelum membaca di pinggir pantai, hampir semua belum ada yang mandi. Liburan sekolah menjadikan mandi pagi bukan satu hal yang penting dibandingkan waktu bermain. Akhirnya, gagasan mandi laut usai membacapun datang dari Nanda dan Zidan.

Mereka yang lebih dulu melepas alas kaki dan berlari menuju kumpulan buih lautan itu. Tasya selaku koordinator Rumah Pustaka di pinggir pantai itu, lebih dulu mengajak teman yang belum menjeburkan diri ke laut, untuk membereskan pustaka mereka.

“Yuk bereskan bukunya dulu. Supaya tidak basah. Setelah ini kita mandi,” imbau Tasya pada teman-temannya.

Tak sampai lima menit, buku telah terkumpul dan diletakkan bersamaan dengan setumpuk sandal. Meski mereka anak pulau, mereka tetap antusias tiap kali mandi laut.

Jadilah kegiatan pustaka baca pinggir pantai pada libur semester lalu, berakhir dengan mandi laut. Ketika Tasya dan tiga sepupu kecilnya sampai di rumah dalam keadaan basah kuyup, Baiti, ibunya hanya bisa geleng-geleng kepala.

Di daratan Banda Aceh, Direktur RUMAN Aceh, Ahmad Arif, merasa senang mendapati program Rumah Pustaka akhirnya sampai juga di Pulo Nasi, Kecamatan Pulo Aceh, Kabupaten Aceh Besar. Mereka sudah merencanakannya pada 2015, hanya saja lintas pulau membuat langkah mereka terhambat.

Hingga akhirnya ada satu keluarga yang berkunjung ke Desa Deudap, di Pulo Nasi yang bersedia mencarikan relawan. Fungsi relawan itu untuk dititipkan buku dari Pustaka RUMAN Aceh. Harapannya, buku yang dititipkan tersebut, mudah diakses oleh anak-anak usia sekolah dasar di desa itu.

“Buku yang kami titipkan, sifatnya pinjaman. Selang satu bulan, buku itu akan ditukarkan dengan yang baru. Jadi bukunya bergulir,” kata Ahmad Arif.

Program Rumah Pustaka itu  sudah dirintis sejak 2015. Pertengahan 2016, Rumah Pustaka mencapai 27 titik, di tujuh kabupaten kota se Aceh. Namun, relawan Rumah Pustaka yang dominan mahasiswa sudah menyelesaikan tugas akhir. Jadilah semua buku di Rumah Pustaka, ditarik ke Pustaka RUMAN pada pertengahan 2016.

“Dari 27 itu, tinggal satu yang bertahan. Yaitu di SDIL, PKPU, Neuhen,  Aceh besar. Mereka rutin gulir 150 buku tiap bulan. Dan sekarang, usia Rumah Pustaka mereka masuk tahun ketiga,” jelas Arif sambil senyum.

Mendapati ide bahwa yang mengelola 100 buku di sebuah pulau terluar Aceh itu adalah seorang murid SD, ia sangat terkejut dan apresiasi. Ia takjub, melihat keberanian anak-anak mengelola Rumah Pustaka.

“Saya merinding melihat aksi mereka. Masih kecil tapi semangat bacanya luar biasa,” kata Arif. Ia berharap, ada banyak anak seperti Tasya di desa lainnya, agar gerakan literasi di daerah terpencil dapat berjalan.

Di rumah Tasya lah, Rumah Pustaka dititipkan. Lewat pantauan ibunya, Tasya siap menjadi relawan Rumah Pustaka.[]