[Resume Buku] Seleksi Ayat-ayat Hukum dalam Al Quran

“Bagaimana menyeleksi ayat hukum dari ayat bukan hukum? Pertanyaan-pertanyaan ini yang dijawab oleh buku “Ayatul Ahkam jil. 1: Dasar Seleksi dan Konstruksi”.  

[Resume Buku] Seleksi Ayat-ayat Hukum dalam Al Quran

[Resume Buku] Seleksi Ayat-ayat Hukum dalam Al Quran

“Bagaimana menyeleksi ayat hukum dari ayat bukan hukum? Pertanyaan-pertanyaan ini yang dijawab oleh buku “Ayatul Ahkam jil. 1: Dasar Seleksi dan Konstruksi”.  

Tidak ada kesepakatan di kalangan para fukaha tentang jumlah ayat hukum secara keseluruhan dalam Alquran. Melalui karya-karya tafsir ayat hukum, berbagai mufassir menyebutkan jumlah-jumlah yang berbeda. Baik Ali as-Sayis, as-Sabuni, at-Thahawi, Syibli Sarjaya, Abdul Halim Binjai, imam Syafi`I, al-Qurthubi, Ilkiya al-Harras, dan Soiman Luqmanul Hakim menyebutkan jumlah yang berbeda. Perbedaan ini lahir dari ketiadaan metodologi dalam menyeleksi ayat hukum dalam Alquran. Sejatinya, karena ayat hukum merupakan dalil hukum dan dalil hukum merupakan kajian usul fikih, maka pendefenisian ayat hukum dan klasifikasinya merupakan tugas usul fikih. Akan tetapi, usul fikih tidak menyebutkan dasar seleksi dan jumlah ayat hukum dalam Alquran. Dengan begitu, pertanyaan penting untuk dijawab oleh usul fikih adalah “bagaimana menyeleksi ayat hukum dari ayat bukan hukum? bagaimana mengukur sebuah ayat mengandung muatan hukum? apakah ayat hukum memiliki karakteristik khusus? berapa jumlah ayat hukum dalam Alquran?”. Pertanyaan-pertanyaan ini yang dijawab oleh buku “Ayatul Ahkam jil. 1: Dasar Seleksi dan Konstruksi”.  

Untuk menjawab pertanyaan ini, penulis menggunakan seperangkat definisi, teori dan pendekatan terhadap ayat Alquran, yakni definisi dan klasifikasi hukum syarak, klasifikasi makkiyah-madaniyah yang dikembangkan menjadi klasifikasi ayat nubuwwah-risalah, asbab nuzul, dan fungsi sunah-hadis terhadap Alquran, teori struktural beserta pendekatannya, post-struktural dan pendekatannya yang disebut dengan pendekatan mimetik. Keseluruhannya perangkat analisis ini merupakan kajian usul fikih, ilmu Alquran dan studi teks termasuk ilmu nahwu, sharaf dan balaghah.

Dasar Tekstual dan Kontesktual

Dengan menggunakan definisi hukum syarak, buku ini membangun unsur dari sebuah ayat hukum adalah: (1) merupakan titah Allah, (2) titah tersebut berhubungan dengan perbuatan mukalaf, (3) titah tersebut merupakan tuntutan (baik perintah atau larangan) atau ketetapan, (4) titah tersebut ditujukan kepada mukalaf,. Keempat unsur ini, bila terpenuhi pada suatu ayat, dapatlah disebut ayat tersebut sebagai ayat hukum. Seluruh ayat Alquran memenuhi unsur pertama, karena seluruh ayat Alquran adalah titah Allah. Tidak semua ayat Alquran memenuhi unsur kedua, ketiga dan keempat.

Untuk mengukur apakah sebuah ayat memenuhi unsur kedua dan seterusnya, penulis menggunakan dua utama, yakni: pendekatan struktural atau boleh disamakan dengan pendekatan tekstual, yakni dengan melihat teks ayat itu sendiri, dan pendekatan mimetik atau boleh disamakan dengan pendekatan kontekstual yakni dengan melihat kepada hal lain di luar teks ayat. Dua pendekatan ini, menghasilkan dua dasar seleksi ayat hukum, yang disebut dengan dasar tekstual dan dasar kontesktual.

Dengan menggunakan dasar tesktual, dapat dipahami bahwa (1) apabila ayat mengandung teks “puasa, salat, zakat, berzina, mencuri” dan sebagainya yang merupakan perbuatan hukum, maka dapat dipastikan ayat tersebut memenuhi unsur kedua, yakni berkenaan dengan perbuatan mukalaf, (2) apabila ayat mengandung kata perintah atau larangan atau penjelasan perbuatan maka ayat tersebut memenuhi unsur ketiga, yakni merupakan tuntutan atau ketetapan, (3) apabila ayat mengandung seruan “wahai orang-orang beriman” maka ayat tersebut memenuhi unsur kempat, yakni ayat tersebut ditujukan kepada mukalaf. Contoh yang sangat baik dalam menerapkan dasar tekstual adalah QS al-Baqarah 183 (yang artinya) “wahai orang-orang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa”.

Sedangkan dasar kontesktual menyatakan bahwa: (1) apabila sebuah ayat turun berkenaan dengan peristiwa hukum, maka ia merupakan ayat hukum , (2) apabila Rasulullah menjelaskan muatan hukum dalam suatu ayat, maka ayat tersebut merupakan ayat hukum. Dengan begitu, dasar kontekstual terdiri dari dua: sabab nuzul dan hadis penjelas. Contoh penggunaan sabab nuzul untuk mengidentifikasi muatan hukum adalah QS al-Ma’idah 101 (yang artinya) “wahai orang-orang beriman jangan kalian mempertanyakan sesuatu yang apabila diterangkan akan menyusahkan kalian” yang turun berkenaan dengan pertanyaan “berapakali haji diwajibkan atas muslim”. Contoh penggunaan hadis penjelas dalam penentuan ayat hukum adalah QS al-Hujurat 12 (yang artinya) “jangan kalian mengghibah” yang dijelaskan oleh hadis (yang artinya) “Rasul bertanya: apakah kalian mengetahui tentang ghibah?....dst”.

Hubungan antara dasar tekstual dan kontekstual pada dasarnya adalah saling menguatkan dalam mengidentifikasi muatan hukum dalam ayat Alquran, seperti untuk QS al-Baqarah: 198 (artinya) “tidak ada dosa bagimu mencari karunia dari Tuhanmu. Maka apabila kamu bertolak dari Arafah…” menggunakan dasar tesktual merupakan ayat hukum, dan diperkuat oleh sabab nuzul tentang orang-orang yang berdagang selama berhaji di Ukaz dan Dzul Majaz. Banyak ayat memenuhi dasar tesktual dan diperkuat oleh dasar kontesktual sebagai ayat hukum. Akan tetapi, dasar tesktual tidak dapat digunakan bila dibantah oleh dasar kontekstual, seperti QS al-Baqarah 145 (artinya) “dan minta tolonglah dengan salat sabar” bukan ayat hukum karena berdasarkan sabab nuzulnya ayat ini ditujukan kepada ahlulkitab.

Karakteristik Tekstual dan Kontesktual

Turunan dari dasar tekstual dan kontekstual adalah karakateristik tesktual dan kontesktual ayat hukum. Karakteristik tekstual ayat hukum terdiri dari: kata perintah, kata larangan, kalimat bersyarat, la junaha atau semakna, la haraj atau semakna, uhilla, kutiba, hurrima dan sebagainya. Sedangkan karakteristik kontekstual ayat hukum: sebuah ayat hukum pasti turun berkenaan dengan peristiwa hukum (bila ada sabab nuzulnya), dan ayat hukum pasti merupakan ayat risalah (turun setelah Nabi Muhammad mendapatkan risalah) bukan ayat nubuwwah. 

Jumlah Ayat Hukum Dalam Alquran

Dengan menggunakan dasar tesktual dan kontekstual, penulis menyeleksi ayat-ayat Alquran yang menghasilkan 418 ayat dari surah Al-Baqarah hingga al-Kautsar.

Identitas Buku dan Penulis

Buku yang penulis sajikan resumenya berjudul “Ayatul Ahkam jil.1: Dasar seleksi dan konstruksi”, terdiri dari 418 halaman. Buku ini merupakan buku kedua karya Ahmad Sholihin Siregar. Sebelumnya, penulis juga telah menerbitkan buku usul fikih “al-Madkhal fi Ushul al-Fiqh” dalam bahasa Arab. Kajian asal buku ini merupakan penelitian dalam bentuk disertasi di Universitas Islam Negeri Sumatera Utara yang kemudian diperbaharui agar lebih mudah dipahami. Buku ini diterbitkan oleh Mahara Publishing di Tangerang, pada Juli 2018. Penulisnya, Ahmad Sholihin Siregar, merupakan seorang dosen hukum Islam di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Gajah Putih Takengon, Aceh Tengah. Penerbitannya sendiri banyak dibantu oleh Dr. Zulkarnain, ketua STAIN Gajah Putih Takengon yang juga menulis pengantar untuk buku ini. Buku ini dapat dipesan kepada penulisnya melalui email ahmadsholihinsiregar@gmail.com.

Apa Yang Baru?

Selain pembangunan metode seleksi, dasar tekstual dan kontesktual beserta karakateristik ayat hukum dengan penyajian sistimatisnya, terdapat kebaharuan lain yang disajikan buku ini. Kebaharuan ini berhubungan dengan pembaharuan hukum syarak, yakni hukum wadh`i. Selain mendefenisikan ulang hukum wadh`i, penulis juga menambahkan satu hukum wadh`i yakni mubthil. Mubthil merupakan titah Allah yang menetapkan sesuatu sebagai pembatal perbuatan mukalaf. Selama ini, literatur usul fikih pada umumnya menyebutkan tujuh hukum wadh`I,yakni sabab, mani`, syarat, azimah, rukshah, sahih dan batil. Penulis juga menyusun ulang hukum wadh`I berdasarkan fungsinya terhadap hukum taklifi dengan membaginya kepada tiga kelompok dengan formasi 4-2-2, yakni: pra-perbuatan terdiri dari empat hukum (sabab, mani`, azimah dan rukhsah), dalam-perbuatan terdiri dari dua hukum (syarat dan mubthil) dan pasca-perbuatan terdiri dari dua hukum (sahih dan bathil).

Ahmad Sholihin Siregar adalah Dosen Hukum Islam di STAIN Gajah Putih Takengon