Reudok

Nasihat orang tua yang sebisa mungkin melarang bahan makanan diinjak, pasti ada hikmahnya.

Reudok
Ilustrasi Reudok I Photo : pikiran-rakyat.com

Nasihat orang tua yang sebisa mungkin melarang bahan makanan diinjak, pasti ada hikmahnya.

TERPAL berukuran besar, yang sering digunakan untuk tenda, akhir-akhir ini mulai dipakai sebagai alas tempat menjemur padi. Penggunaannya sangat praktis. Sebagian orang tidak suka, terutama karena bau karetnya yang terasa sekali. Apalagi terpal itu, sering-sering kena sinar matahari akan membuatnya rapuh.

Orang-orang kampung sering menggunakan tikar pandan berlapis dua untuk menjemur sesuatu. Dengan tingkat ketebalan, tikar pandan mudah digulung, terutama ketika mendung tiba. Cuaca sering tidak bisa terprediksi akhir-akhir ini. Mungkin mereka yang memiliki dan mengendalikan alat, memahami kondisi cuaca. Sedangkan orang awam, hanya tahu tanda alam. Begitu mendung, mereka harus bersiap-siap mengumpulkan padi yang sedang dijemur.

Suatu kali saya dengar dari orang tua, bahwa padi tidak elok dihamparkan di pinggir jalan. Apalagi di tempat yang padat dan hilir-mudik banyak orang. ditindih dari kaki ke kaki. Apalagi kaki binatang yang lewat. Orang yang menggunakan badan jalan untuk menjemur padi, bahwa ban mobil silih berganti pula menindih di atasnya.

Padi itu makanan. Bagi orang tua yang sering saya dengar nasihatnya, makanan itu tidak elok terinjak. Makanan juga tidak boleh bersisa. Seharusnya orang-orang yang makan, memang sudah mengukur kebutuhan makannya. Tidak boleh mengambil makanan yang melebihi dari daya tampung tempatnya. Nasi yang melebihi kapasitas piring. Hana pat jiduek keunet. Semua sudah terukur. Makanlah sebelum lapar, lalu berhentilah sebelum kenyang.

Nasihat orang tua yang sebisa mungkin melarang bahan makanan diinjak, pasti ada hikmahnya. Menurut saya begitu. Makanya saya lihat, orang-orang yang bersahaja, akan menjemur padinya di tempat yang khusus, bukan di tempat yang lalu-lalang dan terinjak-injak.

Saya bukan ingin bercerita tentang tempat, tetapi pada perubahan cuaca. Masalahnya adalah hujan turun tidak selalu ditandai oleh mendung terlebih dahulu. Hujan bisa turun persis ketika cuaca sedang terik-teriknya. Ketika saya dan teman-teman masih kecil, hujan yang semacam itu kami anggap sebagai hujan tanda bahwa ada yang mati tiba-tiba (ujeun ureung mate). Baru ketika remaja, pelan-pelan yang saya pahami, bahwa tanda yang dialami manusia juga berjalan bertahap. Secara alamiah, seharusnya sebelum hujan, ditandai dengan mendung. Begitulah kira-kira yang dimaksudkan.

Perubahan cuaca tidak demikian sedang tidak normal, menurut orang-orang. Saat sedang hujan lebat pun, dalam beberapa menit saja sudah menampakkan cahaya yang terik. Sebaliknya, ketika sedang terik, lalu tiba-tiba hujan. Bisa Anda bayangkan, apa yang akan dilakukan oleh mereka yang menjemur padi, lalu mendapat cuaca yang demikian. Mudah ditangani untuk padi yang dijemur hanya sekarung dua. Lantas bagaimana dengan orang yang menjemur padi berkarung-karung? Orang yang memiliki hajat tertentu, biasa menjemur padi bisa sampai sepuluh karung, untuk kebutuhan hajatannya.

Ketika hujan tiba-tiba datang, kepanikan terasa sekali. Pada posisi demikian, tidak penting lagi apa yang didahulukan. Semua orang berpikir bagaimana padi itu dibawa dulu ke tempat teduh. Tidak peduli siapa yang ambil dan siapa yang menangani. Pembagian tugas sudah tidak berlaku dalam suasana ini. Si fulan akan mengurus karung dan si fulen akan menggulung tikar, tidak bisa berjalan dalam kondisi yang penuh kepanikan.

Pemilik padi tidak peduli berapa karung yang tersisa dari kepanikan ini. Jika saja ada yang jahil, membawa satu karung padinya dan disembunyikan, tidak ada yang kontrol dalam kondisi yang demikian. Kuet pade rudok. Suasana yang penuh kepanikan, melahirkan daya kontrol yang lemah. Bahkan sudah pada posisi tidak tahu lagi apa yang semestinya secara normal dilakukan.

Tiba pada waktunya ketika kondisi berada dalam suasana yang penuh kepanikan. Saat itu orang-orang tidak bisa membedakan siapa yang mengambil bagian dan siapa yang tidak. Orang yang mengambil bagian menunjuk orang lain mengambilnya. Padahal tidak. Percayalah orang yang memang memegang nangka, yang akan merasakan getahnya. Tidak mungkin orang yang tidak makan cabe yang akan merasakan pedas.[]