Runtuhnya Magis Messi dan Ronaldo di Piala Dunia Rusia 2018

Hasil dua pertandingan awal di fase knockout 16 besar seakan telah menjadi panggung antiklimaks dua ikon sepak bola saat ini

Runtuhnya Magis Messi dan Ronaldo di Piala Dunia Rusia 2018

Runtuhnya Magis Messi dan Ronaldo di Piala Dunia Rusia 2018

Hasil dua pertandingan awal di fase knockout 16 besar seakan telah menjadi panggung antiklimaks dua ikon sepak bola saat ini

Perhelatan piala dunia Rusia pada tahun 2018 merupakan ajang terakbar yang paling ditunggu-tunggu jutaan mata penggila sepak bola seantero dunia. Betapa tidak, piala dunia selama telah menjadi barometer pecapaian prestesius dan juga milestone dalam karir pesepak bola, pelatih, dan insan lainnya yang terhubung langsung dengan olah raga paling populer dipermukaan bumi ini.

Lebih lanjut, pencapaian para pesohor sepak bola tersebut juga secara tidak langsung berimbas bagi tim nasional dimana para pemain itu berasal. Lolosnya sebuah tim nasional bagi negara-negara tertentu untuk berlaga di ajang empat tahunan piala dunia telah menjadikannya sebagai kebanggaan tersendiri bagi negara-negara non pelanggan piala dunia. Sebut saja Panama yang baru saja melakukan debutnya pada piala dunia 2018 ini.

Meskipun Panama menjadi “samsak latihan” bagi tim-tim kuat pelanggan piala dunia, namun tetap saja masyarakat Panama merasa puas dan gegap gempita dalam merespon setiap pertandingan yang dilalui timnas kesayangannya walaupun dalam keadaan kalah telak. Hal itu dapat dilihat dari bagaimana ekspresi eforia para pendukung bahkan pelatih dan staf timnas Panama ketika salah satu pemainnya mampu menceploskan satu gol ke gawang Timnas Inggris yang dikawal Pickford dalam kekalahan telak 6-1 meski mereka tidak sekalipun memetik poin dan berada di posisi paling buncit digrup tersebut tepat di bawah Tunisia.

Jika partisipasi perdana timnas Panama dalam ajang piala dunia 2018 disambut dengan penuh suka cita dan eforia, maka hal tersebut mungkin sedikit berbeda bagi tim nasional yang selama ini dianggap unggulan seperti Jerman yang merupakan penghuni puncak ranking FIFA yang juga juara bertahan piala dunia 2014 di Brasil. Portugal yang datang ke piala dunia 2018 dengan status Juara Eropa 2016, Brasil sebagai pemegang tropi terbanyak piala dunia sebanyak 5 kali, disamping itu juga Argentina yang merupakan pemegang 2 kali juara piala dunia yang juga dianggap sebagai salah satu negara dengan tradisi kuat sepak bolanya dan timnas negara-negara lainnya yang dalam kondisi tertentu dapat menjelma menjadi kuda hitam.

Diantara tim nasional yang disebutkan di atas mungkin timnas Jerman dengan segala kejutan pahit dan “melanggengnya” tradisi kutukan gugur bagi juara bertahan pada penyisihan grup seperti yang pernah dialami Spanyol tahun 2014, Italia tahun 2010, dan Prancis tahun 2002. Maka sorotan para pengamat dan pencinta bola praktis tertuju pada dua seteru ikon sepak bola saat ini yaitu Lionel Messi dalam seragam timnas Argentina dan juga Cristiano Ronaldo dalam balutan jersey timnas Portugal pada fase knockout 16 besar.

Persaingan dua pesepak bola ini seakan tidak matinya dalam satu dekade ini. Keduanya secara bergantian dinobatkan sebagai pemain terbaik dunia. Catatan terakhir menunjukkan bahwa kedua-duanya sama-sama telah menyabet 5 kali penghargaan pemain terbaik dunia. Hal ini mungkin tidak terlalu mengejutkan melihat bagaimana kiprah mereka masing-masing pada level klub yang mereka bela. Bagi CR7 begitu panggilannya, baru saja memenangkan gelar prestesius sebagai pemenang liga champion eropa secara berturut-turut tiga kali bersama klubnya Real Madrid dan pada saat bersamaan menggondol gelar pencetak gol terbanyak dengan raihan 15 gol di ajang liga yang mempertemukan juara setiap liga seantero Eropa.

Di sisi lain, lihat pula bagaimana sepak terjangnya bersama klubnya yang berjuluk Los Blancos tahun 2017 dan tentunya gelaran piala Eropa 2016 yang dibawa Portugal. Tidak jauh berbeda dengan seteru abadinya CR7, Lionel Messi juga menorehkan catatan yang cukup impressif dalam beberapa tahun terakhir sebelum perhelatan piala dunia 2018 ini. Walaupun tidak mampu bersaing dengan Ronaldo dalam ajang liga champion, namun ia pada lain hal mampu keluar sebagai pencetak gol terbanyak di liga-liga eropa dengan raihan 34 gol di La Liga Spanyol yang pada akhirnya mengantarkannya menyabet penghargaan golden boot musim 2017/2018.

Di samping gelar individunya sebagai topskor, pemain dengan julukan La Pulga ini juga mampu mengantarkan klubnya Barcelona merengguh gelar ke - 25  di ajang La liga Spanyol. Jika CR7 sukses mendominasi beberapa kali gelaran liga champion Eropa, maka Lionel Messi sebaliknya juga cukup mendominasi raihan gelar dalam ajang domestik liga Spanyol dan di tahun-tahun sebelumnya juga cukup perkasa dalam ajang liga Champion Eropa sebelum estafet juara tersebut di ambil alih oleh rival abadinya Real Madrid.

Kiprah dua ikon di Piala Dunia 2018

Rentetan rekor demi rekor yang terus diciptakan oleh dua ikon sepak bola Messi dan Ronaldo secara tidak langsung telah memberikan aura optimisme bagi timnasnya masing-masing untuk menciptakan rekor sejarah baru bagi keduanya. Seperti diketahui, Messi sebagai salah satu pesepak bola tersohor saat ini relatif dapat dikatakan belum menoreh rekor gelar apapun bagi timnas Argentina senior yang ia bela kecuali raihan runner up saat dikandaskan Jerman di gelaran piala dunia  2014 Brasil.

Sangking kecewanya, La pulga dengan hasil yang diperoleh pada piala dunia tersebut bahkan ia sempat mengundurkan diri alias pensiun dari timnas Argentina. Dalam perjalanannya, Messi seperti menjilat ludahnya sendiri untuk kembali menerima panggilan timnas Argentina untuk gelaran piala dunia 2018 dengan optimisme baru bahwa ia akan mampu mengantarkan negaranya untuk dapat berbicara banyak atau paling tidak kembali berada pada salah slot finalis piala dunia 2018.

Optimisme itu kian membuncah kala Argentina akan berada digrup yang secara hitung-hitungan di atas kertas masih berada d bawah level Lionel Messi Cs seperti timnas debutan Islandia, Kroasia dan the eagles Nigeria. Namun siapa sangka hipotesis yang telanjur dibangun bahwa Argentina akan melenggang mulus ke fase 16 besar kenyataannya harus terseok-seok setelah hanya mampu bermain imbang 1-1 kontra Islandia, kalah telak 3-0 tanpa ampun dari Kroasia dan kemenangan 2-1 atas Nigeria secara dramatis.

Lolosnya Argentina ke fase knockout 16 besar secara susah payah bak keluar dari lubang jarum untuk menghidupkan kembali peruntungan dalam perjalanan piala dunia mereka di tahun ini yang sebelumnya dikabarkan sempat terjadi keretakan antara Jorge Sampoali sebaga pelatih dengan para pemain. "Lolos dari mulut harimau masuk ke mulut buaya" mungkin cocok untuk menggambarkan kiprah timnas Argentina setelah lolos dari fase grup yang langsung berhadapan dengan salah satu kandidat juara lainnya Prancis.

Kekhawatiran pendukung Argentina akhirnya terbukti adanya, meskipun hampir selalu tampil dominan dalam penguasaan bola dalam laga yang digelar di Kazan Arena Stadium tersebut akhirnya Argentina harus puas dengan hasil akhir 4-3 yang pada akhirnya mengantarkan mereka untuk benar- benar pulang untuk menjadi penonton pada sisa fase selanjutnya pada piala dunia 2018 ini.

Di laga tersebut Messi harus rela melihat kehebatan pemain belia Prancis Kylan Mbappe yang menciptakan bracenya dan dua gol lainnya diciptakan melalui Griezman dan debutan Prancis lainnya Benjamin Pavard. Sementara gol Argentina diciptakan Angel Dimaria, Mercado dan Aguero. Messi sendiri tidak dapat berbuat banyak dalam laga ini kecuali hanya melepaskan tembakan yang menghasilkan pantulan bola yang mengenai kaki Mercado dan berujung gol. Catatan buruk ini seakan menegaskan bahwa peruntungan Messi bukan di Timnas Argentina. Patut ditunggu apakah Messi kembali menyatakan pensiun setelah kembali gagal ditimnas Argentina.

Setali tiga uang dengan nasib Messi di timnas Argentina, kiprah Ronaldo yang sempat menjajikan dengan torehan 4 gol selama fase penyisihan grup dalam waktu yang hampir bersamaan juga harus menguburkan impiannya bersama timnas Portugal untuk kembali menjadi kampiun seperti yang ia dan teman-temannya rasakan pada pergelan piala Eropa tahun 2016 silam.

Saat itu sempat terseok- seok diputaran penyisihan grup dan hanya mampu lolos berkat tiket peringkat terbaik ke tiga grup secara mengejutkan mereka mampu menyingkirkan Prancis di kandang mereka sendiri di laga Final. Keberuntungan yang Portugal peroleh pada piala Eropa tersebut membuat pelatih Portugal Fernando Santos hampir dapat dikatakan tampil dengan komposisi pemain yang sama saat dua tahun lalu ketika mereka menjuari piala Eropa.

Berada satu grup dengan Spanyol ditemani Iran dan Maroko diprediksi pengamat, Portugal tidak akan mendapatkan perlawanan yang berarti kecuali laga yang mempertemukan mereka dengan tim Matador. Benarnya saja, laga antar Portugal dan Spanyol terlihat begitu sengit dengan golontoran 6 gol yang berakhir draw 3-3 dimana Ronaldo menunjukkan daya magisnya dengan menciptkan hattrik. Pertemuan selanjutnya menghadapi Maroko dalam lanjutan grup B setelah laga big match dengan Spanyol diprediksi pengamat akan menjadi sasaran pelampiasan Ronaldo Cs untuk mendulang banyak gol. Namun apa hendak dikata, mereka praktis hanya mampu mencetak satu gol yang kembali dibuat CR7. Raihan poin 4 saat itu tentunya belum mengamankan posisi mereka untuk lolos ke fase 16 besar dan disaat bersamaan saat itu mereka juga relatif akan berhadapan dengan tim yang tidak diperhitungkan Iran.

Lagi-lagi meskipun di atas kertas Portugal diunggulkan, namun mereka harus bersusah payah untuk lolos setelah ditahan imbang 1-1 yang diwarnai kegagalan Ronaldo dalam mengeksekusi pinalti. Berkat hasil draw yang juga diraih Spanyol kontra Maroko, akhirnya Portugal lolos sebagai runner up grup B meski memiliki poin yang sama dengan Spanyol namun secara head to head Spanyol lebih berhak menjadi juara grup B.

Lolosnya Portugal ke fase knockout 16 besar mau tidak mau harus mempertemukan mereka dengan Uruguay sebagai juara grup A yang tampil cukup baik dengan torehan poin sempurna 9. Penampilan menjanjikan Uruguay sepertinya akan menjadi rintangan berarti bagi nasib Portugal untuk melenggang ke fase selanjutnya mengingat pemain Uruguay begitu nyetel satu sama lainnya. Analisa kekuatan timnas Uruguay yang lebih solid dari timnas Portugal terbukti dengan hasil akhir 2-1 dimana brace Edison Cavani tidak mampu dikejar oleh Ronaldo Cs untuk membalikkan keadaan, praktis Portugal hanya mampu mengecilkan kekalahan mereka melalui heading pemain gaek mereka Pepe setelah memanfaatkan tendangan penjuru.

Hasil dua pertandingan awal di fase knockout 16 besar seakan telah menjadi panggung antiklimaks dua ikon sepak bola saat ini, Messi dan Ronaldo. Harapan mereka berdua akan adu kebolehan secara sengit untuk mempertegas siapa yang terbaik diantara keduanya yang setiap waktu terus diperdebatkan oleh penggemar setia keduanya. Kesempatan untuk mendapatkan penghargaan pemain terbaik ke enam bagi Messi dan Ronaldo yang sangat dipengaruhi oleh penampilan keduanya di ajang piala dunia 2018 ini. Dengan kenyataan keduanya harus pulang lebih awal dalam pergelaran piala dunia saat ini, Akankah salah satu dari keduanya kembali dinobatkan menjadi pemain terbaik dunia?. Patut ditunggu, atau akankah ajang piala dunia rusia 2018 ini menjadi momen lahirnya bintang baru calon suksesor yang lebih muda dan  lebih fresh dari mereka berdua?, kita tunggu saja kejutan besar lainnya di Rusia..

Muhammad Riza, MA adalah Pengamat Sepak Bola bekerja sebagai Dosen STAIN Gajah Putih Takengon