Ruwetnya Selat Malaka, Untungnya Aceh

Ali Djauhari—Penulis adalah seorang peserta Entrepreneurship in US Tahun 1990

Ruwetnya Selat Malaka, Untungnya Aceh
Ilustrasi

Ruwetnya Selat Malaka, Untungnya Aceh

Ali Djauhari—Penulis adalah seorang peserta Entrepreneurship in US Tahun 1990

Saat saya membaca judul berita terkait ruwetnta Selat Malaka, yang terlintas di benak saya adalah peluang ekonomi untuk Aceh.

Kepadatan kapal-kapal yang berseliweran di Selat Malaka tidak bisa ditolerir lagi. Jumlah kapal yang terus bertumbah yang lewat dan singgah di Singapura sudah tak mampu ditampung pelabuhan di negeri selat itu. Selain membahayakan keselamatan pelayaran, secara biaya juga menjadi sangat tinggi.

Tarif jasa bunkering, air bersih dan ongkos manusia di Singapura pasti mahal sekali.

Trafik lewat Selat Malaka tidak bisa dihentikan. Kargo dari Eropa, Afrika, Timur Tengah dan Asia Selatan menuju Asia Tenggara dan Timur Jauh - vice versas - tetap saja memintas Selat Melaka yang merupakan salah satu lintasan laut tersibuk di dunia.

Di sinilah peran Aceh yang berlokasi di sepanjan selat. Peluang usaha raksasa ini harus segera direbut. Tumpukan kapal-kapal itu harus segera mampu diurai.

Karena selat Philipps depan Singapura sudah tidak aman lagi. Armada Angkatan Laut Amerika Serikat sudah menyatakan penghentian operasi sementara akibat kapal perang John McCain bertabrakan dengan kapal tanker di selat itu. Sebuah kecelakaan yang menewaskan belasan tentara laut AS.

Selat vital ini tak mungkin dikurangi jumlah pelintasnya tetapi harus diatur kepadatannya. Dalam penguraian trafik selat Melaka, Aceh dapat melakukan dua hal; menjadikan pelabuhan Lhokseumawe sebagai transhipment yang selama ini menjadi makanan Singapura dan Pelabuhan Tanjung Pelepas di Johor. Bisnis jasa pemindahan kapal ini sangat sesuai dan akan saling menunjang dengan misi Kawasan Ekonomi Khusus, Lhokseumawe yang sedang dipersiapkan.

Dan yang kedua, mengembangkan Sabang sebagai pusat bunkering. Dalam satu kali pengisian bahan bakar minya atau BBM untuk kapal seukuran Panamax jumlahnya 1.000 ton. Minyak bakar fuel sebanyak itu hanya cukup mencapai derah pelabuan di Uni Emirates Arab tempat kapal-kapal tersebut mengisi ulang BBM menuju Eropa. Kalikan 200 kapal dalam satu hari yang melintas selat, maka didapat sebuah nilai bisnis yang akan membuat orang niaga dunia ngiler sepanjang masa.

Tentulah, rancangan di atas memerlukan kapital besar dan manajemen yang handal. Jika Singapura mampu menjalankannya dengan baik selama berpuluh tahun, kenapa Aceh tidak.[]