Sampah 72 Produk Air Mineral Dunia Bermuara di Pulo Aceh

Sebaran botol plastik bekas di pesisir pantai pulau kecil berpenghuni 1.315 jiwa, di ujung barat Indonesia, tumbuh mekar dan berkembang sepanjang tahun. Ketika pendataan dilakukan, sampah tak dapat didaur ulang itu, ternyata sumbangan dari daratan lain Indonesia yang hanyut terbawa air laut. Bahkan beberapa produsen negara di Asia Tenggara, dan Afrika Utara berkontribusi mengirimkan sampah produk mereka.

Sampah 72 Produk Air Mineral Dunia Bermuara di Pulo Aceh
Hasil audit sementara dari Komunitas Relawan Salut sore yang cerah itu menyebutkan, sampah botol plastik kiriman tetangga berasal dari negara Malaysia, Thailand, Singapura, Banglades, Afrika Utara, China, India, Sri Lanka, bahkan Prancis.   

Sampah 72 Produk Air Mineral Dunia Bermuara di Pulo Aceh

Sebaran botol plastik bekas di pesisir pantai pulau kecil berpenghuni 1.315 jiwa, di ujung barat Indonesia, tumbuh mekar dan berkembang sepanjang tahun. Ketika pendataan dilakukan, sampah tak dapat didaur ulang itu, ternyata sumbangan dari daratan lain Indonesia yang hanyut terbawa air laut. Bahkan beberapa produsen negara di Asia Tenggara, dan Afrika Utara berkontribusi mengirimkan sampah produk mereka.

Pulo Aceh - Memasuki pertengahan Desember, angin musim timur mulai bertiup sepanjang pesisir Samudera Hindia. Satu kepulauan yang berhadapan langsung dengan samudera terluas ketiga di dunia itu, adalah Pulo Nasi. Sebuah pulau, di Kecamatan Pulo Aceh, Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh.

Pulau di ujung barat Indonesia itu memiliki pesona keindahan pantai nan eksotis. Dengan suguhan pasir putih dan terumbu karang yang terlihat jelas dari bibir pantai. Pantai Lhok Ketapang, Desa Deudap, salah satunya. 

Dari garis pantai sepanjang satu kilometer itu, sunrise bisa dinikmati tanpa terhalang gunung atau gedung. Muncul tepat bersebelahan dengan puncak Gunung Seulawah Agam di bagian timur. Kala senja datang, sunset merona Jingga, sebab terperangkap dataran tinggi dibagian barat pulau.  

Sayangnya, pada musim timur itu, alam menciptakan sebuah angin yang bertiup kencang ke daratan Pulo Nasi yang hanya berukuran 27,32 Km persegi. Sehingga sampah yang ada di lautan terbawa sampai ke pantai Lhok Ketapang.

Satu pagi, di minggu terakhir Desember, dua puluh dua individu manusia yang tergabung dalam Komunitas Relawan Sahabat Laut (Salut) menjadikan Pantai Lhok Ketapang sebagai pusat Pegleh Pasie atau bersih-bersih pantai. Selama empat jam mengumpulkan sampah, mereka mendapatkan ribuan botol plastik bekas.

Kegiatan coastal cleanup ini pun tak sembarang bersih pantai. Para relawan dari berbagai profesi di Banda Aceh, Aceh Besar, bahkan dari Ibukota Jakarta, ikut mengumpulkan sampah plastik dan mengauditnya. 

Mula-mula, volunteer Salut mengukur panjang pantai yang akan dijadikan sampel. Lalu membaginya jadi tiga bagian. Kemudian, relawan yang telah dibagi dalam tiga tim, memungut sampah anorganik sesuai luas wilayah bagiannya. 

Tiap kelompok dibekali tiga karung goni setinggi pundak orang dewasa beserta sarung tangan. Dalam tempo dua jam, wilayah yang menjadi pusat Pegleh Pasie selesai disapu bersih para relawan. 

Bernaungkan tumbuhan terminalia catappa atau pohon ketapang yang cukup rindang, dengan visual pasir putih yang sesekali mendapat sentuhan lembut air laut, semua tim berkupul untuk melihat hasil jarahan mereka. 

Jenis sampah anorganik yang ditemukanpun bervariasi. Mulai dari botol air mineral, pecahan styrofoam, botol kaca, sendal bekas, plastik bekas, tali tambang, sedotan, dan berbagai botol plastik personal care lainnya. 

Puncak kegiatan bersih pantai itu terjadi tepat saat pemilahan, dan penghitungan jumlah sampah botol. Tak ketinggalan, brand botol bekas Air Minum dalam Kemasan (AMDK) yang masih berjudulpun, turut memeriahkan data mereka.

Masing-masing tim, memiliki satu orang pendata. Lainnya, bertugas memilah sampah berdasakan ukuran dan jenisnya. Setelah itu, tibalah masa penghitungan. Semua botol plastik dan cup plastik yang dapat teridentifikasi mereknya, akan dicatat satu persatu.

“Tambah satu lagi, botol kemasan dengan huruf kanji,” kata Arie Rosika Utami, sambil menunjukkan botol plastik ukuran 600 mili, yang sudah tak memiliki identitas pruduk. Hanya huruf kanji di tutup botol berwarna merah itu yang tersisa. 

Ragu dengan identifikasinya, Public Engagement and Action Manager Greenpeace itu menyerahkan botol tersebut kepada relawan lain yang bisa membaca huruf  kanji. Ditangan Sri Agustinalah, botol misterius itu terpecahkan identitasnya. 

“Ini kayaknya merek Nongfu,” kata perempuan yang biasa disapa Tina. Sembari menuliskan angka satu dalam daftar merek Nongfu yang berjumlah 12 botol. Ia berasumsi, sampah impor satu ini berasal dari negeri tirai bambu. 

Hasilnya, mereka mengumpulkan lebih 1.302 botol dengan 72 brand. Semua berasal dari dalam dan luar negeri. Tak ketinggalan, sampah kemasan air mineral ukuran cup asal produsen lokal pun, turut meramaikan varietas sampah di pantai Lhok Ketapang itu. 

Menariknya, hampir 60 persen dari semua brand yang berhasil terkumpul di sana, berasal dari luar negeri, meski kuantitas produk tersebut tak lebih banyak dari pada sampah merek dalam negeri. 

“Kalau saya lihat, sampah di pantai ini lebih banyak impor dari luar,” terang Arie. Dari semula menginjakkan kaki di lokasi penelitian itu, ia tak sulit menemukan sampah botol plastik asal Malaysia dan Thailand.  

Perempuan yang hobi traveling ini, tak hentinya memotret sampah botol plastik impor dari beberapa negara di Asia Tenggara. Hasil audit sementara dari Komunitas Relawan Salut sore yang cerah itu menyebutkan, sampah botol plastik kiriman tetangga berasal dari negara Malaysia, Thailand, Singapura, Banglades, Afrika Utara, China, India, Sri Lanka, bahkan Prancis.   

Sedangkan sampah produk dalam negeri didominasi oleh merek dari perusahaan besar seperti Unilever, Danone, dan Coca-cola Company. Hal itu berbeda jauh dengan hasil audit sampah oleh Greenpeace Indonesia di Pulau Bokor, pada September lalu. Lima produsen terbesar yang menyumbang sampah untuk Pulau konservasi itu, adalah Unilever, Wings, Indofood, Danone, dan Orang Tua.  

“Tujuan pendataan ini, supaya kita tahu siapa saja produsen yang bertanggung jawab untuk menarik sampah mereka. Karena sudah tertera dalam undang-undang no 18 tahun 2008, bahwa produsen wajib menarik kembali sampah yang sulit didaur ulang,” jelas Arie.

Agaknya di Aceh, isu terkait tanggung jawab produsen yang wajib mengelola atau menarik kembali sampah produksi yang sulit didaur ulang sepertinya tak terlalu mengudara. Padahal, aksi Pegleh Pasie oleh lembaga dan komunitas peduli laut Aceh, sudah dilakukan sejak 2009.

Setelah seharian mengumpulkan sampah, memilah, mengidentifikasi, dan menghitung jumlahnya, Tina selaku relawan yang bertugas mencatat hasil data lapangan itu, mengumumkan semua hasil jirih payah mereka kepada relawan yang terlihat lelah, namun antusias dan puas dengan hasil kerja mereka. 

“Total semua sampah yang kita kumpulkan hari ini 90,7 Kg. Dengan sampah plastik sebesar 40,6 Kg, botol kaca 18,8 kilogram, tali tambang 6 Kg. Pecahan styrofoam 5,9 Kg, serta potongan sendal 19,4 Kg,”
tutup Tina.

Setelah pendataan selesai, 13 karung sampah anorganik yang terkumpul itu diikat rapi dan dikumpulkan tak jauh dari jalan utama menuju pusat desa. Pengalaman tahun sebelumnya, sampah yang telah dikumpulkan dan didata terpaksa mereka bawa ke Banda Aceh.

Jumlah sampah botol pada 2016 yang mereka kumpulakan dan terpaksa dibawa pulang 1.799 botol. Saat itu, belum ada pengepul sampah botol plastik di Pulo Nasi. Namun, belasan karung sampah plastik yang mereka bawa, kiranya telah menginspirasi seorang warga Desa Deudap bernama Abdullah untuk menjadi pengepul botol plastik. 

“Tahun lalu, belum ada yang mau menampung sampah yang sudah kita kumpulkan. Tapi sepertinya, dari kegiatan tahun lalu, ada masyarakat yang terinspirasi untuk mengolah sampah ini,” kata Gemal Bakri, relawan Salut yang sudah konsen dengan masalah sampah sejak 2008.

Ia berharap, gerakan membersihkan pesisir pantai ini, dapat dilirik masyarakat setempat. Supaya dimasa mendatang, ribuan botol plastik yang terus berdatangan disebabkan letak geografis Pulo Nasi, tidak mengganggu ekosistem laut, dan merusak keindahan lingkungan yang harusnya tidak ditanggung oleh penduduk pulau.[]