Sampah dan Lukisan Born to Waste

Sore itu mendung. Parkiran di Sekretariat Komunitas Kanot Bu, baru terisi setengah. Sebuah papan berbentuk kubus terpajang di sebelah kiri tempat parkir. Bunyinya, “Welcome to ARTrash Project.”

Sampah dan Lukisan Born to Waste
Pengunjung memperhatikan lukisan Born to Waste pada pameran ARTrash Project di Sekretariat Kanot Bu. (Photo: Desi Badrina)

Sampah dan Lukisan Born to Waste

Sore itu mendung. Parkiran di Sekretariat Komunitas Kanot Bu, baru terisi setengah. Sebuah papan berbentuk kubus terpajang di sebelah kiri tempat parkir. Bunyinya, “Welcome to ARTrash Project.”

MELEWATI parkiran, beberapa barang bekas yang disulap menjadi karya seni, ditata sepanjang jalan menuju panggung utama. Ada bungkusan nasi setinggi pinggang orang dewasa di sebalah kanan lorong. Ada juga empat kaleng minyak dengan logo tegangan listrik milik PLN bertuliskan Pengganti Lampu Negara.

Di depannya, sebuah jeregen bekas minyak goreng bertempelkan plastik kemasan merek air mineral, menggantung pada sebatang bambu yang telah dibalut plastik bekas warna biru laut. Plastik biru itu terlihat seperti tumpahan air. Di ujungnya tertera sebuah kata. Tijoh.

Tak jauh dari sana, beberapa orang duduk rapi menghadap ke bagian paling barat Bivak Emperom. Bivak Emperom adalah sebutan untuk sekretariat Kanot Bu, di jalan Chut Nyak Dhien, Emperom, Kecamatan Jaya Baru, Kota Banda Aceh.

Mereka sedang menunggu acara puncak pameran ARTrash Project bertemakan Lat Batat Kayee Batee. ARTrash merupakan wadah bagi para pelaku dan penikmat seni untuk mengubah sampah menjadi karya seni. Berisi pesan khusus, bagaimana melestarikan lingkungan.

Dalam sambutan di katalog ARTrash Project, Rini Keumala Sari, mewakili Alumni Young Southeast Asian Leader Initeative (YSEALI) menuturkan, tujuan utama ARTrash untuk meningkatkan kepekaan manusia terhadap pengelolaan sampah.

Seni rupa yang dipamerkan pun adalah hasil karya seniman dan mahasiswa lintas kampus dan fakultas yang mengikuti workshop pada 28-29 Desember 2017 lalu. Lalu, hasilnya dipamerkan sejak 1-3 Januari, di Bivak Emperom.

“Tema yang ditawarkan YSEALI yaitu bagaimana seniman melihat sampah dan dapat menyebarkan gagasan-gagasan tersebut lewat seni,” kata Kurator ARTrash Project, Reza Mustafa.

Selain seni rupa yang terpajang di luar ruang, ada pula puluhan karya seni hasil workshop dalam ruangan. Saat membuka pameran ARTrash, sang kurator mengajak para pengunjung untuk melihat karya tersebut.

Setelah mengkurasi semua karya seniman, ia melihat, ada kecenderungan dari mereka untuk memasukkan gagasan sarkas dan kritikan melalui karya tersebut. Bahwa sampah tak cukup hanya sekedar di daur ulang, tapi recycle dari sampah itu, harus memberikan suatu pesan jelas kepada manusia agar sadar dalam memproduksi sampah mereka.

Seperti karya Zulham Yusuf. Letaknya paling depan. Seni rupa itu menjadi pembuka bagi para pengunjung. Judulnya, Sampah Medsos. Terdiri dari dedaunan kering, kantong kresek, kertas bekas, sedotan, kawat, kaleng bekas, dan cat minyak.

Sambil berdiri, Reza menghadap ke Sampah Medsos. Bentuknya seperti boneka berkepala besar. Bagian badannya terbuat dari kaleng bekas dengan tambahan ekpresi wajah sedih. Sedangkan kepalanya, terbuat dari tumpukan sampah. Dirangkai sedemikan rupa, dan direkat dengan kawat.

Akun media sosial seperti Facebook, Tweeter, Path, Instagram, dan lainnya, dituliskan pada potongan pipa kertas berbentuk lingkaran. Semua menjuntai bagaikan rambut. Di sisi tengah badan, tangan boneka Sampah Medsos, digambarkan sedang memegang smartphone apple. 

“Lewat sampah fisik, Zulham ingin menguraikan sampah-sampah non fisik lainnya yang berada di dunia maya. Misalkan informasi hoax di media sosial. Zulham, ingin sampaikan bahwa, orang yang memproduksi berita sampah itu pun, ternyata mulai dari isi kepala adalah sampah,” terang Reza.

Lukisan Pratitou Arafat tak kalah menarik. Judulnya, Born to Waste. Dalam lukisan ukuran 150 cm kali 50 cm itu, ia menggambarkan, kelahiran manusia untuk menciptakan sampah. Mulai dari bayi yang menggunakan pampers sekali pakai, hingga plastik dan kemasan makanan sekali pakai.

Warna warni aktifitas masyarakat urban yang dituangkan Titou dalam lukisannya memberikan makna mendalam. Pada katalog ARTrash Project, Titou membubuhkan beberapa kalimat untuk menjelaskan Born to Waste.

“Sedari lahir, manusia sudah memilih untuk nyampah,” tulis seniman muda satu ini pada paragraf pembuka karyanya. Pengunjung yang melihat karya tersebut, langsung dapat merasakan emosi yang dituangkan Titou lewat lukisan itu.

Ia merangkum makna aktifitas masyarakat urban dalam luskisan di bagian kanan atas gambar. Bentuknya seperti logo penghargaan. Logo itu berbunyi “Selamat nyampah.”

“Born to Waste karya Pratitou Arafat, ingin menegaskan bahwa manusia membangun peradaban sekaligus memproduksi sampah di dalamnya. Ia mengurai prilaku masyarakat dalam memproduksi limbah hidup. Uniknya figur dalam kanvas tercipta dari kombinasi cat minyak dan potongan-potongan sampah,“ ungkap Reza sambil menatap lukisan di tembok paling pojok.  

Sesama senimanpun, saling mengapresiasi karya seni temannya. Seperti Zulham Yusuf. Baginya, lukisan Born to Waste memberikan kesan mendalam. Ketika menemani pengunjung melihat-lihat museum mini itu, di ujung ruang ia berhenti.

“Lukisan ini paling menarik. Sejak lahir manusia digambarkan sudah produksi sampah. Bagiku, ini karya terbaik,” kata Zulham sambil menunjuk logo bagian kanan atas bertulisan 'Selamat Nyampah'.

Ketika ditanya, ke mana semua karya seni ini setelah pameran, Zulham menjawab sambil senyum. “Mungkin sebagian akan kembali menjadi sampah, kecuali beberapa lukisan seperti lukisan Born to Waste,” tutupnya.[]