Di panggung depan berkampanya kebaikan, namun di panggung belakang, tidak bisa menghindarkan diri dari ketidakkonsistenan

Sare
Ilustrasi [Shutterstock]

Di panggung depan berkampanya kebaikan, namun di panggung belakang, tidak bisa menghindarkan diri dari ketidakkonsistenan

Ada satu pertanyaan mahasiswa yang bagi saya sangat menyentak, tiba-tiba muncul begitu saja. Katanya, “mengapa orang-orang pandai itu kadang-kadang berperilaku seperti orang tidak pandai?”

Pertanyaan ini, bagi saya, dalam. Makanya saya tanya kembali, apa yang dimaksudkannya sebagai orang pandai. Mahasiswa itu menjawab, bahwa orang pandai selalu memiliki ilmu yang cukup, dan sudah mampu mengajari orang lain untuk berperilaku lurus dan baik.

Ada satu hal yang tidak mampu ia berikan logika lurusnya. Apakah perilaku orang tidak pandai itu selalu berwujud buruk dan negatif? Setelah agak lama berdiskusi, ternyata mahasiswa ini punya pengalaman tidak enak di jalan, saat ia berangkat ke kampus. Di perempatan kampus, ia berjumpa dengan sejumlah mobil yang tidak mau mengalah. Sopir mobil itu berpakaian rapi, dan diyakininya sebagai pengajar yang mampu mengajari orang lain.

Logika ini menurut saya yang harus diluruskan. Saya tidak yakin bahwa semua orang tidak pandai itu tidak bisa santun di jalan. Justru orang pandai tidak ada jaminan orang pandai akan berperilaku lurus. Bahkan orang pandai bisa berperilaku sebaliknya. Tidak bisa menjadi contoh yang baik.

Idealnya orang-orang pandai itu memberi adab di semua tempat. Keharusan ini, menurut saya tidak berarti menganggap orang tidak pandai sebagai orang yang tidak bisa menjadi contoh. Begitulah, hal yang seharusnya ada dalam setiap orang, mau pandai atau tidak pandai, seharusnya adalah bersatu antara perkataan dan perbuatan.

Semua orang harus menjadi penggerak untuk berperilaku baik, di semua tempat. Kasihan kalau ternyata justru orang pandai menjadi pihak yang berperilaku sebaliknya. Padahal orang pandai sering bersuara dan mengajak orang lain untuk berperilaku lurus.

Ini yang berat. Hal yang paling sulit menjaga dalam kehidupan kita adalah menyatunya kata dan perbuatan. Istilah saboh haba, atau meusaboh haba dan buet, mungkin bisa diperdebatkan makna benarnya. Haba mungkin secara makna tidak analog dengan kata. Dalam hal ini, haba secara kata lebih tepat kabar. Sedangkan kata lebih cocok dengan istilah kheun. Namun demikian dalam konteks, semuanya saling terkait. Intinya ingin disampaikan bahwa apa yang diucapkan, sering berbeda dengan apa yang dilakukan. Apa yang diucapkan juga sering berbeda dengan apa yang dipikirkan. Ada tiga sudut jika ingin ditarik lebih jauh, yakni ucapan, perbuatan, dan pikiran. Ketiganya selalu tampil dalam ucapan dan perbuatan atau perilaku.

Tidak bisa menjaga kedua hal ini, adalah kenyataan paling besar terlihat dalam kehidupan kita. Dalam kehidupan sering kita alami, di mulut kita bilang begini, ternyata dalam perbuatan berlaku begitu. Bukan hanya dari orang lain, bahkan kita sendiri tidak bisa menghindarkan diri dari yang demikian. Entah apa yang terjadi sehingga tidak ada kekuatan yang baik bisa menjaga kita dari hal yang demikian. Lalu apa sesungguhnya yang terucap di mulut? Bukankah itu hanya sebentuk sandiwara saja, sedang perbuatan tidak demikian. Ada yang berbeda antara yang di depan panggung dengan yang di belakang panggung. Di panggung depan berkampanya kebaikan, namun di panggung belakang, tidak bisa menghindarkan diri dari ketidakkonsistenan.

Seharusnya orang-orang pandai harus berkomitmen dan konsisten dalam hidup jalan lurus. Ini berat. Tetapi jalan mendaki ini, harus dipilih dan dilakukan.[]