Sebab Aku Bukan Milikku

"Jangan caci aku, sebab aku bukan milikku. Jangan pula hina aku, sebab aku bukan milikku"

Sebab Aku Bukan Milikku
ilustrasi

Sebab Aku Bukan Milikku

"Jangan caci aku, sebab aku bukan milikku. Jangan pula hina aku, sebab aku bukan milikku"

MATNU kehabisan tenaga. Kulit coklatnya kini mirip dengan warna ketela yang dijual di Sare, ungu. Ia menyesal. Bukan menyesali perbuatannya melainkan menyesal atas ketidakhati-hatiannya dalam melakukan pekerjaan. Ia merasa seperti dikhianati diri sendiri.  Bagaimana tidak Bertahun - tahun berprofesi sebagai pencuri tak pernah sesial hari ini. Bahkan selama ini tak pernah ada orang yang mencurigainya.

Setiap kali warga kehilangan ayam atau bebek pasti yang dituduh adalah biawak sang penghuni lampoeh buruhoi, yaitu sebuah kebun  yang tak lagi  dihiraukan pemiliknya. Paling si pemilik ternak hanya merepet selama dua hari. setelah itu senyap kembali seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Tak ada yang menaruh perhatian padanya. Apalagi kelihaian mencuri Matnu sudah setara dengan pejabat berdasi .

Pelan tapi pasti. sehingga bukti sekecil apapun  tak akan mudah ditemukan. Matnu dikenal sebagai sosok pemuda lugu yang berbakti. Setip hari ia hanya menghabiskan waktu membantu emak membuat air maloe untuk anyaman tikar. Jarang ia keluar rumah kecuali ada hal-hal penting yang memang mengharuskannya untuk  keluar. Mencuri misalnya. Siapa sangka nasib buruk sedang menimpanya kali ini

Ia membatin, "Aku bersumpah ayam jago cuda Sapiah akan menjadi korban terakhirku”

Berita tentang tertangkapnya Matnu sudah menyebar kemana-mana. Seisi kampung heboh dengan berita tersebut. Warga berduyun-duyun hadir untuk  menyaksikan keadilan yang tak beradap itu. Tua-muda, remaja tanggung, anak-anak, ibu-ibu pkk, bahkan orang cacat pun tak mau ketinggalan.

Mereka membawa apa saja untuk meringankan beban aparat desa dalam menghakimi tersangka. Ada yang membawa parang, tali-temali, ketapel,  bahkan ada yang membawa gunting “siapa tau rambutnya digundulkan”. kata  salah seorang warga yang hanya mengenal pendidikan tingkat bangku sekolah dasar itu.

Matnu diikat di pokok pohon pinang. Sekujur tubuhnya lembam akibat pukulan warga. Rambut ikalnya berantakan. Kepalanya menunduk berharap ada yang datang membelanya. “Lama pun tak apa asalkan masih ada keadilan” gumamnya dalam hati

 “singoeh manok supo lom kacue, Gam…?”

Bang Baka berteriak di telinga matnu dengan amarah yang meluap-luap. Urat lehernya bangun. mata dan wajahnya merah. Tangannya masih digepal. Bg Baka salah satu warga yang ikut menghajar Matnu hingga babak belur. Ia sangat marah sebab ayam yang dicuri matnu adalah milik cuda Sapiah yaitu janda yang sudah lama diliriknya. Amarah itu tak lain kalau bukan untuk mencari perhatian dari sang pujaan.

Jangankan menjawab. Membuka mata saja sudah tak sanggup dilakukan matnu. Ia seperti keracunan udang paname. Mukanya bengkak. tulang-belulangnya remuk. Berbagai makian tak satupun dapat didengarnya dengan jelas. Matnu sudah pasrah sekalipun dikubur hidup-hidup. Ia merasa ajalnya sudah dekat.

Diantara ratusan penonton tak ada satupun yang membelanya. Yang bersikap netral pun tak ada. Seolah petinju yang berjam-jam menghajarnya itu adalah malaikat bersayap yang tak pernah sekalipun melakukan kesalahan. Wanita-wanita kasar yang melontarkan bermacam makian seolah dirinya para wali yang bersih dari dosa. Aparat desa yang menyerahkan hak paten hukuman ke tangan warga seolah ini perkara kecil yang tak harus turun tangan. Sebuah desa menyedihkan.

Dengan sengenap tenaga yang masih tersisa Matnu memaksakan diri untuk membuka mata. Ditatapnya wajah-wajah suci itu satu persatu. Sambil menyungging sebuah senyuman ia berkata

"Jangan caci aku, sebab aku bukan milikku. Jangan pula hina aku, sebab aku bukan milikku"

Mendengar kata-kata itu. Bang Baka bertambah marah. Sebuah tamparan kembali mendarat di wajah matnu. Bang Baka merasa dipermainkan oleh maling yang jelas-jelas tertangkap basah mencuri ayam orang yang dikasihinya. Kemudian Bg Baka kembali mendekatkan mulut ke telinga Matnu

“jika kau bukan milikmu, lalu milik siapa juga tolol….?”

Kali ini teriakan bg Baka jauh lebih keras dibandingkan yang pertama. Ia berharap hati sang janda tersentuh dengan pengorbanannya hingga titik penghabisan. Bang Baka lupa bahwa caranya memperlakukan orang  bersalah sudah sangat jauh dari ajaran kitab suci.

Sebelum kedua matanya terpejam. Matnu masih sempat mengucapkan sebuah kalimat untuk menjawab gertakan  bg Baka

"Bukankah aku dan kamu milik Tuhan kita?"

Mendengar kata-kata itu bg Baka tersayat hatinya. Langit diam. Sepasang tokek di atas pohon seri tercengang. Burung kutilang yang sedang bernyanyi menoleh. Wanita muda yang baru ditinggal mati suaminya terharu. Cahaya matahari padam. Seketika hujan tumpah sangat deras.[]

Lisa Ulfa adalah Mahasiswa Aqidah Filsafat Islam UIN Ar-Raniry