Sejarawan: Bireuen Tidak Pernah Jadi Ibu Kota RI

Kalau tidak salah ingat saya, tidak pernah Bireuen jadi ibu kota Indonesia,” jelas sejarawan Aceh, Drs. Nurdin AR, M.Hum.

Sejarawan: Bireuen Tidak Pernah Jadi Ibu Kota RI
Presiden Sukarno di Pendopo Kewedanaan Bireuen, 18 Juni 1948. Foto: Istimewa

Sejarawan: Bireuen Tidak Pernah Jadi Ibu Kota RI

Kalau tidak salah ingat saya, tidak pernah Bireuen jadi ibu kota Indonesia,” jelas sejarawan Aceh, Drs. Nurdin AR, M.Hum.

Jakarta -  Kita sering mendengar Bireuen pernah menjadi ibu kota Indonesia. Hal ini terjadi pada 1948. Benarkah Biruen pernah menjadi ibu kota Indonesia selama sepekan.

“Kalau tidak salah ingat saya, tidak pernah Bireuen jadi ibu kota Indonesia,” jelas sejarawan Aceh, Drs. Nurdin AR, M.Hum, pekan lalu.

Nurdin menjelaskan, benar Sukarno pernah ke Bireuen dalam kapasitas sebagai Presiden Indonesia. Sebelum ke Bireuen, Sukarno di Blang Padang Banda Aceh pada pertengahan Juni 1948 minta pesawat terbang. Kemudian dari Banda Aceh ke Bireuen melalui perjalanan darat dan menginap semalam di Bireuen.

“Sukarno berpidato di Bireuen menyebutkan Bireuen sebagai Kota Juang dan Aceh Daerah Modal,” jelas sejarawan ini.

Versi cerita yang beredar Sukarno ke Bireuen dengan pesawat Dakota  yang dipiloti Teuku Iskandar mendarat di lapangan terbang sipil Cot Gapu pada 16 Juni 1948. Kedatangan rombongan disambut Gubernur Militer Aceh Daud Beureu’eh serta alim ulama dan tokoh masyarakat.

Pada malam, di lapangan terbang Cot Gapu, diselenggarakan rapat akbar. Presiden Sukarno berpidato, membakar semangat juang rakyat yang membludak.

Sementara itu Wakil Presiden Jusuf Kalla pada pidato penganugerahan gelar Doktor Honoris Causa di Gedung AAC Dayan Dawood Unsyiah, Darussalam, Banda Aceh, pada Sabtu 14 November 2015 menuturkan Bireuen pernah menjadi ibu kota RI, ketika jatuhnya Yogyakarta pada 1948.

Presiden Sukarno hijrah dari ibu kota kedua RI, yakni Yogyakarta ke Bireuen pada 18 Juni 1948, kata JK.

"Bahkan Bireuen pernah menjadi Ibu Kota RI ketiga, ketika jatuhnya Yogyakarta tahun 1948. Presiden Sukarno hijrah dari Ibu Kota RI kedua, yakni Yogyakarta ke Bireuen pada 18 Juni 1948. Selama seminggu Bireuen menjadi tempat untuk mengendalikan Republik Indonesia yang saat itu dalam keadaan darurat," kata JK dalam pidatonya yang berjudul Perdamaian dan Pembangunan Nasional.

Kedatangan Sukarno ke Aceh adalah rangkaian kunjungan ke Sumatera yang diawali ke Sumatera Barat.

Lalu ke Sumatera Utara dan Sukarno beserta rombongan disambut rakyat Tapanuli pada 11 Juni 1948. Berturut-turut kemudian Sukarno menuju Sibolga (13 Juni), Tarutung (14 Juni), Balige (15 Juni), dan menggelar rapat akbar di Kotanopan (16 Juni).Barulah pada 17 Juni 1948 Sukarno  ke Banda Aceh, Sigli. Kemungkinan pada 18 Juni 1948 berada di Bireuen.[]