Sekolah Inklusi PAUD Kasya

“Di sini, anak berkebutuhan khusus akan kami terapi sebelum bergabung dengan anak biasa"

Sekolah Inklusi PAUD Kasya
Foto: Desi Badrina

Sekolah Inklusi PAUD Kasya

“Di sini, anak berkebutuhan khusus akan kami terapi sebelum bergabung dengan anak biasa"

GEDUNG sekolah berpagar kayu warna-warni itu terlihat mencolok di tengah-tengah pemukiman warga di kawasan Ceurih, Ulee Kareng, Banda Aceh. Komplek sekolah itu terdiri dari dua bangunan utama. Satu bagunan paling depan khusus untuk  tempat penitipan bayi. Satu bagunan terpisah lainnya menjadi ruang sekolah sekaligus tempat bermain untuk anak-anak prasekolah.

Suasana Sekolah Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), baru terasa saat memasuki bagunan dua lantai dalam komplek PAUD Kasya. Ruang tamu rumah yang disulap jadi sekolah itu dijadikan kantor kepala sekolah sekaligus tempat konsultasi orang tua anak.

Ada dua meja di dalamnya. Masing-masing meja punya dua kursi. Ada juga sofa untuk tamu. Tepat di dinding bagian atas sofa, sebuah bingkai penuh potret anak-anak menggantung. Rupa dokumentasi kegiatan anak-anak PAUD Kasya Day Care Center and School sepanjang tahun.  

“Tiap bulan kami mengundang tamu sebagai bunda guru, sesuai dengan profesinya. Supaya anak-anak di PAUD Kasya bisa melihat langsung profesi nyata dari cita-cita mereka,” kata Safrina Siregar, Kepala Sekolah PAUD Kasya.

Pertengahan Februari itu, dalam rangka memperingati Hari Pers Nasional, PAUD Kasya mengundang wartawan untuk memberikan cerita tentang bagaimana menjadi seorang wartawan. Sekitar 45 anak-anak usia 3 sampai 6 tahun, sudah menanti di ruang bermain anak. Ruang itu lebih besar dari ruang lainnya di sekolah itu. 

Sambil lesehan, Safrina Siregar, yang sejak awal sudah menyiapkan beberapa alat peraga seperti kamera TV yang dibuat dari karton hitam, membawa serta alat peraga itu untuk menunjukkan kepada anak-anak. Dibantu Ipak Mahtawarmi, bunda guru yang mendampingi anak-anak untuk dapat tenang mendengarkan cerita sebelum guru tamu itu datang.

“Tepuk satu,” kata Safrina Siregar di hadapan puluhan anak muridnya untuk menarik perhatian mereka. Yel-yel yang dilemparkan kepada anak-anak itu, disambut dengan tepukan diiringi dengan nyanyian singkat.

“Bagus. Sekarang kita kedatangan seorang bunda guru yang berprofesi sebagai wartawan. Ada yang tahu apa itu wartawan?” tanya perempuan berkacamata itu kepada anak muridnya.

Sebagian anak yang duduk didampingi bunda guru PAUD Kasya, krasak-krusuk dan menjawab seadanya. Meski belum tahu apa yang akan mereka dengarkan, antusias terlihat jelas di wajah anak-anak itu.

Satu diantaranya bernama Galih. Dia sangat antusias melihat Safrina Siregar di depan memegang pengeras suara. Dia langsung berdiri dan menghampiri Safrina untuk meminta memegang pengeras suara itu.

Galih cukup aktif. Usianya enam tahun. Dia sudah bisa membaca sejak berusia tiga tahun. Kepada Safrina dia diajak duduk kembali dan mendengarkan arahan dari sang kepala sekolah itu. Lagi-lagi Safrina membawanya dengan bernyanyi untuk membuat anak-anak tidak bosan.

“Anak-anak di sini ada yang berkebutuhan khusus dan ada yang normal. Mereka digabungkan untuk bisa belajar bersama. Kami selalu percaya, anak-anak ini bisa bersekolah bersama. Karena ini sekolah inklusi,” jelas Kepala Sekolah.

Berdasarkan peraturan Kementerian Pendidikan Nasional nomor 70 tahun 2009, yang menyebutkan bahwa pendidikan inklusi sebagai sistem penyelenggaraan pendidikan yang memberikan kesempatan kepada semua peserta didik, yang memiliki kelainan dan kecerdasan atau bakat istimewa, untuk mengikuti pendidikan bersama-sama dengan peserta didik pada umumnya.

“Kami mencoba jalankan peraturan tersebut. Sebab, anak-anak berkebutuhan khusus itu sebenarnya tidak boleh dipisahkan dengan anak-anak normal. Mereka harus berbaur, agar potensi dalam dirinya dapat digali,” jelas Kepala Sekolah PAUD Kasya.

Bersama bunda guru di PAUD Kasya dia mencoba menerapkan aturan dalam tujuh anak, maka dapat digabungkan satu orang anak berkebutuhan khusus. Hal ini terangnya, dapat membantu perkembangan anak spesial tersebut.

“Di sini, anak berkebutuhan khusus akan kami terapi sebelum bergabung dengan anak biasa. Dan hebatnya, anak-anak biasa itu faham, bahwa satu di antara mereka ada yang berkebutuhan khusus. Saat anak berkebutuhan khusus bergabung, biasanya bunda guru akan langsung memperkenalkan dan beri pemahaman,” kata Safrina.

Meski mereka rata-rata berusia 3 sampai 6 tahun, anak-anak normal yang bersekolah bersama anak-anak berkebutuhan khusus ini, punya kemampuan bersosialisasi sejak dini. Dan Safrina yakin, anak-anak dalam masa pengembangan intelektual ini, nantinya akan menjadi anak-anak yang dapat memahami interaksi dan punya toleransi tinggi terhadap sesama manusia.

“Ayo anak-anak, siapa yang berperan sebagai wartawan,” kata Ipak sebagai guru pendamping. Siapa sangka, ternyata anak berkebutuhan khusus di sekolah itu, hampir semuanya berani tampil. Seperti Dinda, Wafi, dan Galih. Keberanian anak-anak itu seolah mencerminkan bahwa mereka juga bisa menjadi apapun yang mereka inginkan.[]