Setelah Sepuluh Pelantikan

Setelah Sepuluh Pelantikan
Ilustrasi

Setelah Sepuluh Pelantikan

Sejak dilantik oleh Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo, pada 5 Juli lalu, Irwandi Yusuf, Gubernur Aceh yang juga Ketua Umum Partai Nanggroe Aceh itu, belum menunjukkan gebrakan programmatiknya. Dua hari setalah dilantik, Gubernur Irwandi disibukan dengan sepeluh pelantikan Bupati dan Wali Kota terpilih di Aceh. 

Selain foto di atas udara dirinya bersama Ketua Partai Aceh Muzakir Manaf yang menjadi viral di media sosial, dalam sepuluh kali pelantikan bupati dan wali kota tersebut, publik memang mendapat hiburan gratis dengan keusilan khas Gubernur Irwandi yang sering mengundang tawa publik.
 

Namun, publik tentunya tidak akan berlama-lama bisa diajak tertawa, sebantar lagi, dalam hitungan bulan publik akan segera menagih janji-janji politiknya. 

Dengan tidak menafikan kerja keras tim sukses, tim relawan dan partai-partai pendukung Gubernur Irwandi, yang penting untuk selalu diingat adalah, kemenangan Gubernur Irwandi dalam Pilkada Aceh yang lalu merupakan klimaks dari kekecawaan rakyat Aceh terhadap gaya kepemimpinan Aceh lima tahun yang lalu.

Kini, rakyat Aceh ingin memiliki Gubernur yang mampu mengisi dompet dan perutnya yang kempis. Rakyat Aceh ingin memiliki pemimpin yang mampu menjadikan Aceh dipandang setara dengan Provinsi-provinsi lainnya di Indonesia.

Memang, dalam sepuluh kali pelantikan bupati dan wali kota di Aceh, Gubernur Irwandi, secara berulang-ulang mengulas program-program ekonomi, kesejahteraan, kesehatan dan pendidikan yang dibacakan dari teks-teks pidatonya. 

Gubernur Irwandi juga tidak pernah lupa berpesan kepada bupati dan wali kota agar menyimak dan menjalankan garis besar program RPJM Aceh 2017-2022 yang sedang disiapkannya, dengan mengusung visi, ‘Terwujudnya Aceh damai dan sejahtera melalui pemerintahan yang bersih, adil dan melayani.’

Namun jangan lupa, dalam visi dan misi pemerintahan Aceh sebelumnya secara teoritik juga memiliki turunan program-program yang menjanjikan. Kenyataanya, program-program tersebut tersapu oleh lima tahun waktu yang berlalu dengan konflik dan intrik-intrik politik yang tak penting.

Akibatnya, sebagai contoh, pembangunan ekonomi dari sektor pertanian yang dijadikan sebagai sektor pembangunan ekonomi andalan yang telah ditetapkan dalam dokumen RPJM Aceh 2012-2017 oleh pemerintahan sebelumnya, tak terlihat di mana bekasnya.

Sekali lagi, rakyat Aceh tak ingin dikecewakan untuk yang kesekian kalinya. Meski baru 17 hari, saat ini seluruh rakyat Aceh sedang menanti-nanti Gubernur Irwandi segera menukar kekecewaan-kekecewaan itu dengan mengendalikan stabilitas ekonomi dan politik di Aceh.[]