Tambo
Photo: Humas Aceh/Heri Juanda

TONGKAT atau gagang penabuh tambo, tidak bisa dipegang sembarang orang. Bahaya jika tongkat penabuh tambo digunakan untuk menabuh benda itu suka-suka dan tidak beraturan. Apalagi jika sampai memberi tanda yang salah bagi orang-orang di sekelilingnya, akan tersampaikan pesan yang tidak tepat.

Tambo itu, secara sederhana, dapat dikatakan sebagai alat yang digunakan untuk memberi satu tanda. Kata ini, silakan diterjemahkan sebagai beduk, atau nama lainnya. Sebenarnya selain tambo, ada berbagai jenis alat yang digunakan untuk memberi tanda dalam masyarakat kita. Ada tak-tok, beuregoh, dan sebagainya.

Dalam kajian ilmiah, baik tambo, tak-tok, atau beuregoh, digolongkan ke dalam jenis alat musik tradisional. Salah satu pertimbangan, disebabkan karena ketiga alat itu melahirkan suara tertentu. Tambo dan tak-tok dengan dipukul atau ditabuh, sedang beuregoh dengan ditiup.

Tak-tok dibuat dari batang pohon jenis tertentu yang dibuat lubang khusus (liang) memanjang. Liang ini yang akan disesuaikan dengan corak suara (bunyi) yang dikehendaki. Sementara beuregoh diambil dari tanduk kerbau yang panjang, dibersihkan isi dalamnya lalu dikeringkan, dan di ujungnya dibuat sedikit lubang untuk meniup.

Lubang ini pula yang menentukan, sesuai dengan corak suara (bunyi) yang dikehendaki. Makin panjang tanduk kerbau, makin bergema pula suara yang dilahirkan.

Saya hanya ingin fokus ke tambo saja. Ia dibuat dari pohon pandan yang dibuat lubang di tengahnya. Isi tengah dari pohon pandan, tidak terlalu keras. Apalagi pohon yang sudah dipotong lama, agak mudah dikeluarkan. Akhirnya seperti pipa. Sedangkan sekelilingnya, yang digunakan untuk tambo, sangat keras.

Di sisi yang satu, diikat kulit sapi yang sudah dikeringkan. Sedangkan sisi lainnya dibiarkan terbuka. Dengan adanya sisi yang terbuka, membuat dentuman dan gema suara terdengar hingga ke ujung kampung.

Satu hal yang saya tahu dari seorang penjaga tambo, bahwa kulit sapi yang digunakan akan dipesan secara khusus –tidak dipakai kulit sapi sembarangan. Sebelum sapi dipotong, sudah diberitahu pada orang yang membersihkan bahwa kulitnya akan dipakai untuk tambo. Bukankah sangat bersahaja?

Sejumlah tempat yang saya lihat sudah tidak memakai pohon pandan karena sulit mendapatkannya. Ia diganti dengan drum, bekas tempat minyak berukuran 220 liter. Suara yang dilahirkan dari drum agak berbeda. Drum melahirkan suara yang khas, berbeda dengan suara yang juga khas dilahirkan dari batang pandan.

Suara yang khas inilah yang menjadi semacam tanda. Sebagai alat yang digunakan untuk memberi tanda, gagangnya tidak boleh dipegang sembarang orang. Tidak semua orang memiliki kewenangan. Bahaya ketika orang yang tidak berwenang, lalu memegang pemukul (khok) tambo, bisa mengirim pesan yang salah.

Anak-anak tidak boleh memegang gagang tambo sembarangan. Seingat saya, anak-anak hanya boleh memegang masing-masing go tambo, hanya pada malam hari raya. Orang tua menyebut malam itu untuk anak-anak, ka meu uroe raya. Malam itu mereka bisa belajar sepenuhnya bagaimana tambo digunakan. Semalam suntuk.

Atas dasar kepentingan berbagi pesan lewat tanda inilah, maka alat ini harus dipergunakan secara tepat. Pesan harus disampaikan dengan tanda yang bisa dibaca oleh orang kampung. Sangat berbahaya apabila pesan yang ingin disampaikan sedang terjadi musibah (keurija mate), namun penabuh tambo menggunakan irama pesan untuk kegiatan keurija udep.

Saya kira siapapun bisa membayangkan akibatnya.[]