Taqwaddin Ajak Semua Pihak Hentikan Pungli

“Jika dibandingkan dengan korupsi yang merugikan keuangan negara, maka menurut saya kerugian masyarakat akibat perbuatan pungli dalam berbagai sektor pemerintahan jauh lebih besar"

Taqwaddin Ajak Semua Pihak Hentikan Pungli
Sosialisasi Pencegahan Pungli di Gedung Sosial Pemkab Bener Meriah, Kamis, 14 Desember 2017.

Taqwaddin Ajak Semua Pihak Hentikan Pungli

“Jika dibandingkan dengan korupsi yang merugikan keuangan negara, maka menurut saya kerugian masyarakat akibat perbuatan pungli dalam berbagai sektor pemerintahan jauh lebih besar"

Bener Meriah - Ketua Pokja Pencegahan UPP Saber Pungli Provinsi Aceh mengajak semua pihak untuk menghentikan segala bentuk pungli sekarang juga. Hal itu disampaikan Dr Taqwadin dihadapan peserta Sosialisasi Pencegahan Pungli di Gedung Sosial Pemkab Bener Meriah, Kamis, 14 Desember 2017. 

Dalam sambutannya, Dr Taqwaddin menyatakan bahwa pungli adalah perbuatan melawan hukum yang merugikan negara dan masyarakat.

“Jika dibandingkan dengan korupsi yang merugikan keuangan negara, maka menurut saya kerugian masyarakat akibat perbuatan pungli dalam berbagai sektor pemerintahan jauh lebih besar,” ujar Taqwaddin yang juga Kepala Ombudsman RI Perwakilan Aceh ini. 

“Karena dua sebab inilah, maraknya korupsi dan pungli yang mengakibatkan tujuan negara untuk mewujudkan masyarakat adil, makmur dan sejahtera sulit dicapai, padahal kita sudah merdeka 72 tahun,” tambahnya lagi. 

Menurutnya, upaya pencegahan dan pemberantasan pungli harus dilakukan secara serius dan sungguh-sungguh oleh semua pihak.

Didampingi Kapolres Kabupaten Bener Meriah, AKBP Fahmi Ramli, MSi, Ketua Pokja Pencegahan Saber Pungli Aceh memberi apresiasi positif atas kehadiran dan keseriusan 540 orang peserta sosialisasi yang terdiri dari semua reje, camat, kepala sekolah, bendaharawan, bhabinsa polsek, pejabat BUMN/BUMD, para kepala dinas dan badan.

Dalam paparannya, Dr Taqwaddin juga menjelaskan beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah dan memberantas pungli.

Pertama, memberikan pemahaman kepada semua aparatur pemerintah dan masyarakat tentang rusaknya sendi kehidupan bermasyarakat serta melemahnya kepercayaan kepada pemerintah jika pungli, korupsi, dan maladministrasi masih marak terjadi di suatu daerah.

Kedua, perlunya reformasi moral atau revolusi mental atau perbaikan akhlak agar semua pelaku pemerintahan bersama seluruh masyarakat berkomitmen untuk tidak lagi melakukan perbuatan dosa ini. Pungli adalah kejahatan yang berdosa. Harta yang diperoleh dari pungli atau pemerasan adalah haram.

Ketiga, perlu adanya pengawasan pelayanan publik yang secara ketentuan dapat dilakukan oleh Ombudsman RI. Pengawasan penyelenggaraan pelayanan publik perlu dilakukan secara optimal sebagai upaya preventif dan kolektif terhadap potensi penyimpangan yang terjadi.

Keempat, agar pungli dapat ditekan jumlahnya, Dr Taqwaddin, menegaskan perlunya semua instansi pelayanan publik untuk menerapkan standar pelayanan publik. Hal ini penting agar masyarakat yang membutuhkan layanan dari pemerintah memiliki kepastian, baik kepastian prosedur, persyaratan, biaya, maupun kepastian waktu penyelesain pelayanan.

Kelima, perlunya optimalisasi sosialisasi kepada seluruh aparatur pemerintahan dan semua warga masyarakat agar tidak lagi melakukan pungli. Terakhir menurutnya, dengan  dilakukan operasi tangkap tangan (OTT). 

“OTT adalah langkah terakhir yang perlu dilakukan apabila upaya pencegahan dan pembinaan sudah dilakukan berulang kali, tapi masih juga berpungli,”  sebutnya lagi. 

Ketua Pokja Pencegahan Saber Pungli Provinsi Aceh itu menyatakan bahwa hingga saat ini Saber Pungli Aceh sudah menangkap 95 orang dalam 54 kali OTT. 

“Saya berharap tidak ada warga Bener Meriah yang akan di OTT lagi, karena jika di-OTT yang malu bukan hanya pelaku, tetapi semua anggota keluarganya, kasihan istri dan anak-anak, ujar Dr Taqwaddin, SH, SE, MS, Kepala Ombudsman RI Provinsi Aceh ini []