TBM RUMAN Aceh Gelar Lesehan Buku Seri Kedua

“Kita ingin membangun kesadaran kolektif akan urgennya mengenal dan memahami bakat sendiri."

TBM RUMAN Aceh Gelar Lesehan Buku Seri Kedua
Yustinawaty Hasibuan sedang memberikan pemaparan di hadapan para peserta lesehan buku “Talents Mapping” di secretariat TBM RUMAN Aceh, Sabtu (10/3/2018).

TBM RUMAN Aceh Gelar Lesehan Buku Seri Kedua

“Kita ingin membangun kesadaran kolektif akan urgennya mengenal dan memahami bakat sendiri."

Banda Aceh – Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Rumah Baca Aneuk Nanggroe (RUMAN) Aceh menggelar lesehan buku seri kedua di sekretariatnya di Gampong Punge Blang Cut, Kecamatan Jaya Baru, Banda Aceh pada Sabtu (10/3/2018) pagi hingga siang kemarin.

Acara yang dipandu langsung oleh Pendiri Lembaga Pendidikan RUMAN Aceh, Ahmad Arif itu dihadiri 45 peserta terdiri terdiri dari 10 guru PAUD (pendidikan anak usia dini), 25 mahasiswa, 3 delegasi TBM dari Aceh Besar 7 umum. Peserta termuda masih duduk di kelas 1 SMP (sekolah menengah pertama).

Dalam pengantarnya, Arif menuturkan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk membangun kesadaran bersama terhadap pentingnya mengenali bakat pada setiap pribadi agar hidup dan kehidupannya menjadi terarah.

“Kita ingin membangun kesadaran kolektif akan urgennya mengenal dan memahami bakat sendiri. Karenanya, kita menghadirkan praktisinya langsung agar lebih membumi, ujar Arif retoris.

Pada seri kedua ini, lanjut Arif, pihaknya mengangkat buku fenomenal karya Abah Rama Royani, “Talents Mapping” dengan menghadirkan langsung praktisi  Talents Mapping (peta bakat)) di Aceh, Safriadi Ibrahim dan Yustinawati Hasibuan, pasangan suami istri yang telah mempraktikkan TM sejak 2016 lalu.

Dalam pemaparannya, Safriadi mengungkapkan fakta lain bahwa secara nasional 87 persen mahasiswa di Indonesia mengakui salah jurusan. Faktor utamanya adalah karena mereka tidak mengenali bakat sendiri.

“Hal tersebut semakin diperparah oleh pola asuh kebanyakan keluarga dan sistem pendidikan kita masih belum memprioritaskan upaya penelusuran bakat dalam diri anak-anak”, tegas Safriadi.

Narasumber kedua, Yustinawaty Hasibuan menguraikan bahwa bakat yang selama ini difahami oleh masyarakat adalah yang bersumber dari panca indra seperti bakat di bidang melukis, memasak, olahraga, bercocoktanam dan lainnya.

“Padahal, bakat itu juga bisa bersumber dari sifat manusia. Diharapkan, dengan TM,  orang tak lagi fokus dengan kelemahannya dan cara mengatasinya. Akan tetapi, lebih memperhatikan kepada kekuatan di dalam diri masing-masing”, tutur Yustinawaty.

Sesuatu disebut bakat, lanjut Yustinawaty, bila memenuhi 4 E. Pertama, enjoy, menyenangkan dalam melakukan sesuatu. Keduaeasy, mudah melakukannya. Ketigaexcellent, hasilnya bagus. Keempatearn, menghasilkan sesuatu yang produktif.

“Talentas Mapping hanya 1 bagian dari 8 bagian dalam konsep besar Fitrah Based Education (pendidikan berbasis fitah). Yaitu, fitrah keimanan, fitrah jasmani, fitrah belajar dan menalar, fitrah seksualitas, fitrah individualitas sosialitas, fitrah estetika dan bahasa serta fitrah perkembangan. Insya Allah akan kami bahas secara berkelanjutan bersama guru-guru sekolah PAUD RUMAN Aceh”, ujarnya tersenyum.

Selain lesehan buku, TBM RUMAN Aceh punya 3 kegiatan rutin lain, ketiganya gratis buat masyarakat. Pertama, pustaka komunitas yang buka setiap hari di seketariatnya. Kedua, MIBARA (minggu baca rame-rame) yang telah memasuki edisi ke 143 pada hari Minggu (11/3/2018). Ketiga, pustaka rumah buat yang lokasinya jauh dari RUMAN Aceh.